Oleh: Juariah Anzib, S.Ag
Penulis Buku Wakaf di Aceh: Tradisi, Inovasi, dan Keberkahan
Menjadi wanita shalihah merupakan dambaan setiap perempuan beriman. Perjalanan menuju keshalihan tentu saja tidak selalu mudah. Banyak godaan, kelalaian, dan sifat tercela yang bisa menjadi penghalang. Dalam beberapa riwayat disebutkan, godaan yang menimpa perempuan sering kali lebih besar dibandingkan laki-laki, sehingga menjadi ujian tersendiri dalam menggapai derajat shalihah.
Dalam pengajian mingguan di Dayah Thalibul Huda, Abi Hasbi Al-Bayuni mengisahkan, Sayyidina Ali bin Abi Thalib menyebutkan lima faktor yang menjadi penghalang bagi seorang perempuan untuk meraih keshalihan.
Pertama, kebodohan yang dipelihara, yaitu ketika seorang perempuan membiarkan dirinya hidup tanpa ilmu, khususnya ilmu agama. Mustahil seseorang dapat menjadi shalihah jika ia tidak memahami kewajiban dan larangan Allah. Ibadah tanpa ilmu bahkan tidak diterima di sisi-Nya. Karena itu, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah. Membatasi diri pada pengetahuan seadanya adalah bentuk kedzaliman terhadap diri sendiri.
Kedua, sifat loba, rakus, dan tamak. Tiga penyakit hati yang saling terkait ini sangat berbahaya.
Loba membuat seseorang ingin memiliki banyak harta tetapi enggan berbagi. Rakus menjadikan seseorang hanya memikirkan dirinya sendiri dan menutup mata dari kesusahan orang lain.
Tamak membuat hati tidak pernah merasa cukup, terus mengejar dunia hingga lalai dari ibadah. Ketiganya mengeraskan hati dan menjauhkan seseorang dari sifat syukur serta keikhlasan.
Ketiga, sifat bakhil dan pelit. Sikap enggan berbagi secara berlebihan, seolah seluruh nikmat yang dimiliki semata-mata hasil usaha pribadi. Padahal setiap rezeki hakikatnya datang dari Allah Swt. Perasaan superior terhadap orang lain, menganggap mereka pemalas dan tidak pantas dibantu, muncul dari hati yang lalai bahwa Allah-lah pemilik segala karunia.
Keempat, sifat riya. Riya adalah melakukan amal kebaikan untuk dilihat, dipuji, atau dipuja oleh manusia. Seorang muslimah yang beramal hanya untuk mendapatkan pengakuan telah terjebak dalam penyakit hati yang sangat halus. Memakai busana muslimah demi dipuji, bersedekah untuk mendapatkan gelar dermawan, atau menampakkan harta demi status sosial adalah contoh nyata riya yang merusak keikhlasan dalam beramal.
Kelima, sikap membanggakan diri (ujub). Ini adalah kecenderungan merasa dirinya lebih baik dibandingkan orang lain: lebih rajin, lebih pandai, lebih shalih, dan paling benar. Sifat ini sangat dekat dengan kesombongan dan kerap bercampur dengan riya. Ketika amal dilakukan bukan karena Allah, tetapi demi sanjungan, maka nilainya gugur di sisi-Nya.
Sifat-sifat di atas adalah penghalang besar bagi perempuan dalam mencapai derajat wanita shalihah. Karena itu, setiap muslimah hendaknya selalu bermuhasabah, menjauhi sifat tercela, dan membangun amal shalih dengan ilmu dan keikhlasan.
Mulailah dari langkah kecil, biasakan menjaga niat, dan terus berusaha memperbaiki diri. Semoga Allah Swt membimbing kita menjadi hamba-Nya yang istiqamah, meraih keberkahan hidup di dunia, serta kebahagiaan di akhirat kelak.
Editor: Sayed M. Husen

0 facebook:
Post a Comment