Oleh: Ahmad Faizuddin (S.Pd.I, M.Ed., PhD)
Dosen Senior di Faculty of Education and Liberal Arts, INTI International University, Malaysia
Dalam dunia pendidikan, metode ceramah satu arah sering kali membuat peserta didik merasa jenuh dan sulit menyerap nilai-nilai abstrak, seperti iman dan moral. Di sinilah letak keunggulan metode berkisah. Al-Qur'an, sebagai kitab petunjuk, secara eksplisit menggunakan narasi sebagai salah satu cara utama untuk mendidik manusia. Allah SWT berfirman dalam Surah Yusuf ayat 3: "Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur'an ini kepadamu..."Kisah-kisah dalam Al-Qur'an bukanlah fiksi, melainkan fakta sejarah yang dikemas dengan muatan edukasi yang tinggi. Mengapa kisah menjadi media ajar yang efektif? Karena manusia secara natural lebih mudah mengingat cerita daripada deretan aturan. Melalui kisah, nilai-nilai seperti integritas, keberanian, dan kesabaran tidak lagi menjadi konsep yang mengawang-awang, melainkan menjelma menjadi sosok nyata yang dapat diteladani.
Sebut saja kisah Nabi Yusuf yang mengajarkan keteguhan moral di tengah godaan, atau kisah Luqman Al-Hakim yang memberikan modul lengkap tentang pendidikan anak. Allah berfirman dalam Surah Hud ayat 120: "Dan semua kisah Rasul-Rasul Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengannya Kami teguhkan hatimu." Ayat ini menunjukkan bahwa fungsi pendidikan dari sebuah kisah adalah untuk memberikan keteguhan jiwa (tsabat) dan inspirasi bagi para pencari ilmu. Dalam ayat yang lain, Allah SWT menyebutkan: "...Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir"(QS. Al-A'raf: 176). Ayat ini menekankan bahwa tujuan berkisah adalah untuk merangsang daya pikir.
Rasulullah SAW juga sering menggunakan perumpamaan dan kisah dalam mendidik para sahabat. Beliau bersabda, "Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat, dan ceritakanlah tentang Bani Israil karena hal itu tidak ada dosa (larangan)" (HR. Bukhari). Hadits ini memberikan ruang bagi para pendidik untuk menggunakan sejarah dan pengalaman masa lalu sebagai ibrah atau pelajaran berharga.
Di bulan Ramadan ini, para orang tua dan guru dapat menghidupkan kembali tradisi berkisah. Alih-alih hanya melarang anak untuk tidak berbohong, ceritakanlah bagaimana kejujuran membawa keselamatan bagi para Nabi. Dengan gaya bahasa yang sesuai dengan usia mereka, kisah-kisah ini akan tertanam dalam alam bawah sadar dan membentuk kompas moral mereka di masa depan.
Pendidikan melalui narasi juga melatih daya imajinasi dan empati. Peserta didik diajak untuk memposisikan diri dalam situasi yang dialami tokoh-tokoh saleh, merasakan perjuangan mereka, dan akhirnya mengambil kesimpulan sendiri. Inilah bentuk pembelajaran yang aktif dan partisipatif.
Mari kita jadikan waktu-waktu menjelang berbuka atau setelah tadarus untuk menggali kembali mutiara hikmah dari kisah-kisah Qur'ani. Dengan menjadikan sejarah sebagai guru, kita sedang membangun jembatan bagi generasi muda untuk memahami masa lalu demi memperbaiki masa depan. Sebab, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengambil pelajaran dari jatuh bangunnya peradaban terdahulu yang telah diabadikan oleh Sang Pencipta dalam kitab-Nya.

0 facebook:
Post a Comment