Oleh: Ahmad Faizuddin (S.Pd.I, M.Ed., PhD)

Dosen Senior di Faculty of Education and Liberal Arts, INTI International University, Malaysia

Bulan Ramadhan sering kali disebut sebagai madrasah atau sekolah kehidupan bagi umat Muslim. Artikel ini ingin meninjau bagaimana Ramadhan membentuk kerangka disiplin yang kokoh. Dalam dunia pendidikan, disiplin bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan, melainkan kemampuan untuk mengelola diri dan waktu demi mencapai tujuan yang lebih besar.

Keunikan Ramadhan terletak pada jadwalnya yang tepat waktu (fi al-waqt al-muhaddad atau precise). Kita diperintahkan untuk berhenti makan saat fajar menyingsing dan menyegerakan berbuka tepat saat matahari terbenam. Tidak ada ruang untuk menunda-nunda atau memajukan waktu tanpa alasan syar'i. Kedisiplinan ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah An-Nisa ayat 103, yang meskipun merujuk pada salat, memberikan prinsip umum tentang waktu: "Sesungguhnya salat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." 

Pendidikan modern sering kali menghadapi tantangan berupa kebiasaan menunda pekerjaan (procrastination). Ramadhan hadir untuk mematahkan pola tersebut. Bayangkan seorang pelajar yang harus bangun untuk sahur di sepertiga malam terakhir. Ini adalah latihan fisik dan mental untuk melawan rasa kantuk demi sebuah kewajiban. Jika seorang penuntut ilmu mampu disiplin dalam jadwal sahur dan buka, ia secara tidak langsung sedang melatih otot kemauannya (willpower) untuk juga disiplin dalam jadwal belajar, riset, dan pengabdian.

Rasulullah SAW bersabda, "Dua kenikmatan yang sering dilalaikan oleh banyak manusia adalah kesehatan dan waktu luang" (HR. Bukhari). Hadits ini mengingatkan kita bahwa waktu adalah aset yang paling berharga dalam menuntut ilmu. Selama Ramadhan, waktu menjadi sangat efisien. Kita belajar membagi waktu antara ibadah ritual, bekerja, dan belajar tanpa mengabaikan salah satunya.

Manajemen waktu dalam Islam tidak hanya soal efisiensi, tetapi juga soal keberkahan. Ketika seorang pendidik atau peserta didik mampu mengatur jadwal hariannya dengan menyisipkan waktu untuk tilawah dan salat sunah di sela-sela kesibukan akademik, ia sedang mengundang keberkahan ke dalam aktivitas intelektualnya. Disiplin yang lahir dari rasa takut dan cinta kepada Allah SWT akan jauh lebih langgeng daripada disiplin yang dipaksakan oleh faktor eksternal seperti sanksi sekolah atau kampus.

Untuk menerapkan nilai ini dalam keseharian, mulailah dengan membuat jadwal harian yang selaras dengan waktu-waktu ibadah selama Ramadhan 2026 ini. Gunakanlah waktu setelah subuh, yaitu saat otak masih segar dan perut tidak terlalu kenyang, untuk mempelajari materi-materi yang paling sulit. Hindari membuang waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, karena esensi puasa adalah menahan diri dari segala yang sia-sia.

Ramadhan adalah bukti nyata bahwa manusia mampu hidup teratur jika memiliki tujuan yang jelas. Mari kita bawa semangat kedisiplinan ini ke dalam meja belajar dan ruang kelas kita. Dengan menghargai setiap detik yang Allah SWT berikan, kita tidak hanya menjadi pribadi yang lebih pintar, tetapi juga menjadi hamba yang lebih bersyukur atas karunia waktu.

Allah SWT berpesan dalam Surat Al-‘Asr (103):

Demi Masa! (1) Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian (2) Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh, dan mereka pula berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan dengan sabar (3)

SHARE :

0 facebook:

 
Top