Oleh: Abu Aly
Kisah Maryam binti Imran bukan sekadar narasi spiritual, melainkan pelajaran tentang bagaimana iman berdialog dengan akal. Dalam Al-Qur'an, Maryam digambarkan sebagai sosok suci yang tidak menanggalkan rasionalitasnya, bahkan ketika berhadapan dengan peristiwa yang melampaui hukum alam.Saat Jibril datang membawa kabar tentang kelahiran seorang anak tanpa ayah, Maryam tidak serta-merta menerima tanpa pertanyaan. Dengan kejernihan berpikir, ia bertanya, “Bagaimana mungkin hal itu terjadi?” Pertanyaan ini bukan bentuk keraguan terhadap kekuasaan Allah, melainkan ekspresi dari akal yang sehat -- critical thinking yang menguji kausalitas sebelum tunduk sepenuhnya pada kehendak Ilahi. Ini bukti iman tidak mematikan nalar, justru menyempurnakannya.
Dialektika antara akal dan wahyu itu mencapai puncaknya ketika Maryam menghadapi proses persalinan. Dalam kondisi lemah dan kesakitan, Allah memerintahkannya menggoyangkan batang pohon kurma agar buahnya jatuh. Secara logika, perintah ini tampak paradoks: bagaimana mungkin seorang perempuan dalam kondisi paling rentan diminta melakukan usaha fisik.
Di sini tersingkap prinsip agung dalam kehidupan: harmoni antara ikhtiar dan tawakal. Allah mampu menurunkan rezeki tanpa perantara, namun Dia mengajarkan bahwa usaha bagian dari sunnatullah. Gerakan kecil Maryam menjadi simbol bahwa hasil tidak lahir dari pasrah tanpa tindakan. Tubuh yang dianugerahkan bukan untuk diam, tetapi bergerak menjemput karunia.
Dalam perspektif ilmiah, kisah ini menyentuh dimensi biologis dan psikologis. Maryam bukti keterbatasan materi tidak pernah membatasi kehendak Sang Pencipta. Namun, mukjizat itu tidak hadir dalam ruang kosong. Ia lahir dari pribadi yang memiliki disiplin spiritual tinggi --ditandai dengan kesucian diri, pengasingan untuk ibadah, dan keteguhan mental menghadapi tekanan sosial.
Ketika kembali kepada kaumnya dengan membawa bayi Isa, Maryam menghadapi potensi stigma dan prasangka. Namun ia tetap tenang. Fokusnya tidak terpecah oleh opini manusia. Orientasinya tunggal: ridha Allah. Inilah ketenangan sejati -- ketika hati tidak lagi bergantung pada validasi manusia, tetapi sepenuhnya bersandar pada kebenaran Ilahi.
Meneladani Maryam berarti mengintegrasikan tiga dimensi kehidupan. Pertama, akal yang berani bertanya dan berpikir jernih. Kedua, raga yang siap bekerja dan berikhtiar. Ketiga, hati yang lapang menerima ketetapan Allah dengan penuh ketenangan.
Pesan ini relevan dalam kehidupan modern. Banyak orang terjebak pada dua ekstrem: terlalu mengandalkan usaha tanpa doa atau larut dalam doa tanpa tindakan. Kisah Maryam mengajarkan keseimbangan.
Ketika menghadapi persoalan yang tampak mustahil, jangan berhenti pada keluhan atau harapan kosong. Lakukan satu langkah konkret -- sekecil apa pun itu. Goyangkan “pohon kurma” dalam hidup Anda. Selebihnya, biarkan Allah yang menentukan kapan dan bagaimana buah itu jatuh.*

0 facebook:
Post a Comment