Oleh: Ahmad Faizuddin (S.Pd.I, M.Ed., PhD)

Dosen Senior di Faculty of Education and Liberal Arts, INTI International University, Malaysia

Manusia secara alami menginginkan keabadian. Dalam Islam, keabadian sejati tidak dicapai melalui pembangunan monumen fisik, melainkan melalui kontribusi intelektual dan spiritual yang terus memberikan manfaat bagi orang lain. Saat kita mendekati Idul Fitri, pertanyaan besar yang muncul adalah: Apa yang akan tetap ada dari diri kita saat kita sudah tidak lagi berada di dunia ini? Jawabannya terletak pada sejauh mana ilmu yang kita miliki menjadi manfaat bagi sesama.

Landasan utama dari konsep ini adalah hadits Rasulullah SAW yang sangat masyhur: "Apabila manusia itu meninggal dunia, maka putuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya" (HR. Muslim). Ilmu yang bermanfaat menempati posisi istimewa karena ia memiliki efek ganda. Satu pengetahuan yang kita ajarkan kepada seorang murid, lalu ia ajarkan kembali kepada orang lain, akan menciptakan rantai pahala yang tidak terputus bagi kita, meskipun kita telah beristirahat di alam kubur.

Allah SWT berfirman dalam Surah Yasin ayat 12: "Sesungguhnya Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati dan Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan..." Para mufasir menjelaskan bahwa bekas-bekas tersebut mencakup ilmu yang ditulis dalam buku, tradisi baik yang diajarkan, serta bimbingan yang diberikan kepada masyarakat. Bagi seorang pendidik, peneliti, atau pelajar, setiap karya yang membantu orang lain memahami kebenaran adalah investasi abadi yang paling menguntungkan.

Ilmu yang bermanfaat tidak harus selalu berupa teori-teori rumit. Ia bisa berupa nasihat sederhana tentang adab, bimbingan teknis untuk memudahkan pekerjaan orang lain, atau literasi agama yang menyelamatkan seseorang dari kesesatan. Di bulan Ramadhan ini, kita belajar bahwa nilai sebuah amal bergantung pada dampaknya. Sebagaimana puasa kita diharapkan membekas dalam bentuk karakter yang lebih baik, ilmu kita juga diharapkan membekas dalam bentuk perubahan positif di lingkungan sekitar.

Di era digital, peluang untuk meninggalkan warisan ilmu semakin terbuka lebar. Sebuah video edukasi, artikel blog yang mencerahkan, atau bahkan diskusi singkat yang memberikan perspektif baru dapat tersebar ke seluruh penjuru dunia dan tersimpan dalam waktu yang lama. Inilah kesempatan bagi kita untuk menanam benih kebaikan yang buahnya akan kita petik di akhirat kelak.

Jadikan momentum Ramadhan ini untuk mengevaluasi karya-karya kita. Mari kita berupaya agar setiap ilmu yang kita pelajari tidak hanya berhenti untuk kepentingan diri sendiri, tetapi dialirkan kepada orang lain dengan tulus. Dengan menjadikan ilmu sebagai warisan, kita tidak perlu takut akan kematian, karena jejak kebaikan kita akan terus hidup, membimbing, dan memberikan cahaya bagi generasi-generasi setelah kita. Allah menggambarkan dalam Al-Quran tentang perumpamaan kalimat yang baik (ilmu yang benar) seperti pohon yang akarnya kokoh dan cabangnya menjulang ke langit, memberikan buahnya pada setiap musim (QS. Ibrahim: 24-25).

SHARE :

0 facebook:

 
Top