Oleh: Abu Aly
Dunia Islam mengenal Ja’far al Shadiq sebagai salah satu ulama besar yang memadukan kedalaman ilmu dengan keluhuran akhlak. Beliau cucu dari Muhammad melalui jalur keluarga Ahlul Bait dan dikenal dengan julukan al-Shadiq (yang benar) karena kejujuran serta integritasnya yang tidak pernah diragukan.Keilmuan beliau sangat luas sehingga banyak ulama besar belajar darinya. Di antara muridnya adalah Abu Hanifa dan Malik ibn Anas. Kedua tokoh ini kemudian menjadi imam besar dalam fikih Islam. Namun di balik kemasyhuran ilmu tersebut, Imam Ja’far ash-Shadiq menjalani kehidupan yang sangat sederhana dan penuh kerendahan hati.
Terdapat kisah yang menggambarkan keikhlasan beliau yang luar biasa. Pada malam hari, ketika penduduk Medina telah terlelap, Imam Ja’far ash-Shadiq keluar dari rumahnya secara diam-diam.
Di pundaknya beliau memanggul sekarung roti dan sejumlah uang. Dengan langkah perlahan agar tidak menarik perhatian, beliau menyusuri lorong-lorong kota dan mengetuk rumah-rumah fakir miskin. Tanpa memperkenalkan diri, beliau meninggalkan bantuan itu lalu pergi sebelum penghuni rumah mengetahui siapa pemberinya.
Bertahun-tahun lamanya bantuan misterius ini diterima oleh kaum miskin di Madinah. Mereka hanya tahu bahwa setiap malam ada “tangan tak terlihat” yang datang membawa rezeki bagi mereka.
Rahasia tersebut baru terungkap ketika Imam Ja’far ash-Shadiq wafat. Saat jenazahnya dimandikan, para pelayat melihat bekas luka kapalan yang menghitam di pundaknya. Ternyata itu bekas beban berat yang dipanggulnya setiap malam.
Pada saat yang sama, masyarakat miskin Madinah merasakan kehilangan yang aneh. Bantuan yang selama ini datang secara diam-diam tiba-tiba terhenti. Barulah mereka menyadari bahwa sosok dermawan yang selama ini memberi makan mereka adalah Imam besar yang hidup di tengah mereka sendiri.
Kisah ini mengajarkan bahwa keikhlasan sejati bukanlah kebaikan yang diumumkan, melainkan kebaikan yang disembunyikan. Amal yang dilakukan hanya karena Allah, tanpa mengharap pujian manusia.
Beban fisik yang berat pun terasa ringan ketika hati telah tertambat pada keridaan-Nya. Bagi orang yang ikhlas, pengakuan manusia bukanlah tujuan. Cukuplah Allah menjadi saksi atas setiap amal yang dilakukan.
Teladan Imam Ja’far ash-Shadiq mengajak kita untuk mencoba satu latihan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Lakukanlah satu kebaikan kecil yang tidak diketahui siapa pun. Sisihkan sebagian rezeki untuk orang yang membutuhkan tanpa menyebutkan nama. Atau doakan saudara kita secara diam-diam tanpa pernah mengabarkannya.
Pada saat itu kita akan merasakan sesuatu yang istimewa: hati menjadi lebih tenang, ego menjadi lebih tunduk, dan jiwa terasa lebih damai. Sebab, di situlah letak rahasia keikhlasan, ketika kebaikan tidak lagi menjadi panggung bagi diri kita, melainkan persembahan sunyi kepada Allah semata.*

0 facebook:
Post a Comment