Oleh: Ahmad Faizuddin (S.Pd.I, M.Ed., PhD)

Dosen Senior di Faculty of Education and Liberal Arts, INTI International University, Malaysia

Pendidikan yang berkualitas tidak hanya mengajarkan apa yang harus dipikirkan, tetapi bagaimana cara berpikir. Dalam tradisi Islam, kemampuan berpikir kritis dan objektif adalah salah satu ciri utama orang yang berakal (ulul albab). Di bulan Ramadhan ini, saat kita melatih kejernihan pikiran melalui puasa, kita diingatkan untuk senantiasa bersikap hati-hati dalam menerima, mengolah, dan menyebarkan informasi.

Landasan utama dari sikap kritis ini termaktub dalam Surah Al-Hujurat ayat 6: "Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya (tabayyun), agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu." Ayat ini adalah kaidah emas dalam pendidikan dan jurnalistik Islam. Meneliti kebenaran sebuah data atau berita adalah benteng pertahanan agar ilmu yang kita miliki tidak bercampur dengan prasangka atau kebohongan.

Objektivitas juga menuntut kita untuk bersikap adil, bahkan terhadap pihak yang tidak kita sukai. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma'idah ayat 8: "...Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa." Dalam dunia akademik, ini berarti kita harus jujur dalam mengakui kebenaran argumentasi orang lain meskipun berbeda pandangan. Islam mendorong objektivitas dalam menerima kebenaran dari mana pun asalnya sebagaimana sabda Nabi SAW: "Hikmah itu adalah barang hilang milik orang mukmin. Di mana saja ia menemukannya, maka ia lebih berhak memilikinya" (HR. Tirmidzi).

Objektivitas adalah bentuk kejujuran intelektual yang sangat dihargai dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda, "Cukuplah seseorang dikatakan pendusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar (tanpa menyaringnya)" (HR. Muslim). Hadits ini merupakan peringatan keras bagi para pembelajar di era media sosial. Kemudahan dalam membagikan informasi (share) jangan sampai menjadikan kita bagian dari rantai penyebaran fitnah. Seorang penuntut ilmu sejati akan memverifikasi sumber, memeriksa kredibilitas pemberi informasi, dan melihat konteks sebelum mengambil kesimpulan.

Berpikir kritis juga berarti berani bertanya untuk mencari kebenaran. Al-Qur'an sendiri sering menggunakan kalimat retoris seperti "Afala ta'qilun" (Apakah kamu tidak berpikir?) atau "Afala tatafakkarun" (Apakah kamu tidak merenungkan?). Ini adalah undangan terbuka bagi umat Islam untuk terus menggali ilmu pengetahuan dengan nalar yang sehat dan hati yang bersih.

Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk menajamkan nalar kritis kita. Jangan menjadi pribadi yang mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya. Dengan menerapkan prinsip tabayyun dan objektivitas, kita tidak hanya menyelamatkan diri dari kesalahan, tetapi juga ikut menjaga integritas ilmu pengetahuan dan keharmonisan di tengah masyarakat.

Akhirtnya, pendidikan yang memerdekakan adalah pendidikan yang melahirkan manusia-manusia yang tidak mudah didikte oleh opini publik yang keliru, melainkan senantiasa teguh berdiri di atas landasan fakta dan ridha Allah SWT. Al-Qur’an menegaskan tentang tanggung jawab pendengaran, penglihatan, dan hati nurani dalam menerima informasi (QS. Al-Isra: 36).

SHARE :

0 facebook:

 
Top