Oleh: Abu Aly

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 143, Allah Swt menyebut umat Islam sebagai ummatan wasathan umat pertengahan. Sebuah konsep yang tidak hanya indah secara bahasa, tetapi juga dalam makna dan praktik kehidupan. Secara akal sehat, posisi tengah adalah posisi yang paling adil: tidak condong ke satu sisi, tidak pula terjatuh pada ekstrem lainnya. Ia titik keseimbangan yang memungkinkan seseorang melihat persoalan secara jernih dan menyeluruh.

Islam hadir bukan untuk memisahkan manusia dari realitas dunia, melainkan memanusiakan manusia. Ia mengajarkan keseimbangan antara ruh dan jasad, antara ibadah dan muamalah, antara hak Allah dan hak sesama. Inilah esensi dari wasathiyah -- jalan hidup yang menolak berlebihan (ghuluw), sekaligus menolak kelalaian.

Teladan paling nyata dari konsep ini adalah Nabi Muhammad saw. Beliau bukan hanya seorang ahli ibadah yang larut dalam mihrab, tetapi juga sosok yang hadir sepenuhnya dalam kehidupan sosial. Beliau tertawa bersama keluarga, membantu pekerjaan rumah, berdagang dengan jujur, dan berdiri membela kaum lemah dan tertindas. Dalam sabdanya, Rasulullah menjelaskan makna wasathan adalah al-‘adl -- keadilan. Keadilan yang menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, tanpa berlebihan dan tanpa mengurangi.

Prinsip ini juga tercermin dalam ajaran beliau, bahwa sebaik-baik urusan adalah yang paling proporsional. Tidak ekstrem dalam beragama hingga memberatkan diri, namun juga tidak longgar hingga melalaikan kewajiban. Inilah keseimbangan yang melahirkan ketenangan batin dan keharmonisan sosial.

Bayangkan jika nilai ini benar-benar hidup dalam diri kita. Kita menjadi pribadi yang kokoh dalam prinsip ketuhanan, namun tetap lembut dalam relasi kemanusiaan. Tegas dalam kebenaran, tetapi penuh kasih dalam perbedaan. Ini wajah Islam sebagai agama rahmat agama yang menghadirkan kedamaian, bukan ketegangan.

Menjadi umat pertengahan berarti memiliki hati yang luas. Hati yang tidak mudah membenci, tetapi selalu mencari titik temu. Hati yang tidak tergesa menghakimi, tetapi berusaha memahami. Sebab kesempurnaan iman, sebagaimana dicontohkan Rasulullah, bukan hanya diukur dari banyaknya ibadah ritual, tetapi dari sejauh mana kita memberi manfaat bagi makhluk lainnya.

Karena itu, mari kita mulai dari hal-hal sederhana. Saat amarah datang, redamlah dengan keadilan. Saat perbedaan muncul, carilah jembatan kemanusiaan. Dan ketika berinteraksi dengan sesama manusia, hadirkan senyuman tulus sebagai cerminan bahwa Islam benar-benar rahmatan lil ‘alamin rahmat bagi seluruh alam.

Jadi menjadi ummatan wasathan bukan sekadar identitas, tetapi komitmen hidup, panggilan menjadi penyeimbang di tengah dunia yang sering kali terjebak dalam kutub ekstrem. Dan di sana pula, kita menemukan kemuliaan ajaran Islam.*

SHARE :
Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 facebook:

 
Top