Oleh: Abu Aly
Kita mengenal dikotomi antara esensi dan eksistensi dalam khazanah filsafat moral. Esensi berbicara tentang hakikat dasar sesuatu, sementara eksistensi adalah manifestasi dari hakikat itu dalam kenyataan. Seekor serigala tidak bisa dituntut menjadi domba, kegelapan tidak mungkin dipaksa menjelma cahaya. Maka meminjam premis tegas: jangan paksakan setan menjadi manusia.Secara logika, mencari sifat kemanusiaan pada entitas atau sistem yang secara konsisten memproduksi kerusakan adalah kesia-siaan intelektual. Jika suatu kekuatan berulang kali membangun dominasi melalui penindasan, maka harapan bahwa ia tiba-tiba berubah menjadi pelindung kemanusiaan ilusi yang mahal. Sejarah menunjukkan, watak yang tidak dikoreksi oleh nurani akan terus menegaskan dirinya dalam bentuk yang sama, hanya dengan wajah dan narasi yang berbeda.
Sejarah modern mencatat sejumlah peristiwa yang menjadi simbol bagaimana kalkulasi politik dan militer seringkali mengabaikan nilai eksistensial manusia.
Pertama, tragedi atom di Jepang. Peristiwa pengeboman di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945 contoh nyata bagaimana keputusan teknis dan militer dapat menihilkan nilai ratusan ribu nyawa sipil. Sebuah kalkulasi perang yang dianggap “strategis” meninggalkan trauma lintas generasi dan luka kemanusiaan yang belum sepenuhnya sembuh hingga hari ini.
Kedua, intervensi di Vietnam. Dalam perang di Vietnam, penggunaan senjata kimia seperti Agent Orange dan praktik agresi berskala besar merobek ekosistem, menghancurkan struktur sosial, dan merendahkan martabat bangsa lain demi ambisi geopolitik. Dampaknya bukan hanya pada generasi saat itu, tetapi juga pada anak cucu yang lahir dengan cacat akibat paparan bahan kimia beracun.
Ketiga, krisis kemanusiaan di Palestina. Dunia menyaksikan penderitaan yang berlangsung dalam sorotan kamera global di Palestina. Standar ganda politik internasional sering kali membuat tragedi kemanusiaan di sana seolah menjadi angka statistik biasa. Padahal di balik angka itu ada anak-anak, ibu, dan keluarga yang kehilangan rumah, harapan, bahkan nyawa.
Islam memberikan parameter yang tegas tentang nilai satu jiwa manusia. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Barangsiapa membunuh satu manusia, seakan-akan ia telah membunuh seluruh umat manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 32)
Ayat ini bukan sekadar retorika keimanan, tetapi landasan etika universal. Nilai manusia tidak diukur dari ras, bangsa, atau afiliasi politiknya. Satu jiwa memiliki bobot moral yang tak tergantikan.
Jika simbol kekuasaan di suatu masa menampilkan watak melampaui batas, arogan, represif, dan menindas, maka ia sedang menapaki jejak para tiran sepanjang sejarah.
Dalam Al-Qur’an, figur seperti Fir‘aun menjadi simbol kekuasaan yang kehilangan nurani, namun tugas orang beriman bukanlah berharap tiran itu tiba-tiba berubah menjadi malaikat. Tugas kita memastikan bahwa kita tidak terinfeksi oleh kebencian dan kezaliman yang sama.
Kebenaran dan kebatilan memiliki garis demarkasi yang jelas. Menghabiskan energi untuk menuntut empati dari hati yang telah mati sering kali hanya menguras tenaga dan menumbuhkan frustrasi. Yang lebih penting, menjaga cahaya di dalam diri sendiri, cahaya iman, akal sehat, dan kemanusiaan.
Karena itu, perlawanan terhadap kezaliman tidak selalu harus berbentuk konfrontasi fisik. Ia bisa berupa keteguhan moral, keberanian bersuara, solidaritas sosial, dan konsistensi dalam membela nilai kemanusiaan. Dalam dunia yang sering membingungkan antara propaganda dan fakta, menjaga integritas nurani merupakan bentuk jihad yang paling mendasar.
Pada akhirnya, “setan tetap setan.” Kita tidak diperintahkan mengubah hakikatnya, tetapi diperintahkan menjaga diri agar tidak menyerupainya. Sebab ketika kebencian dibalas dengan kebencian, kezaliman dilawan dengan kezaliman, maka perbedaan antara cahaya dan gelap menjadi kabur.
Tugas kita sederhana namun berat: tetap manusia, tetap beradab, dan tetap berpihak pada nilai kehidupan.*

0 facebook:
Post a Comment