LAMURIONLINE.COM | BANDA ACEH
- Komunitas Menulis Kreatif (KMK) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Ar-Raniri mengadakan acara bedah buku novel karya Prof  Dr H M Hasbi Amiruddin MA, Derai Doa Di Langit Langit Dayah, Kamis (2/4/2026). Acara yang berlangsung di Aula FSH dihadiri dekan dan wakil dekan dan sejumlah peserta kalangan mahasiswa Komunitas Menulis Kreatif UIN Ar-Raniry. Acara ini dibuka oleh Dekan FSH, Kamuzzaman Bustamam Ahmad, dilanjutkan dua orang pembedah Dosen Universitas Serambi Makkah,  Dr Wiratmadinata SH MHum dan senior KMK, Salsabila.

Menurut penulis novel ini, Prof Hasbi Amiruddin, pesan-pesan dalam novel merupakan curahan hatinya kepada para pembaca, berdasarkan pengalaman belajar di dayah. Pengalaman ini, kemudian berlanjut ketika dia bergabung dengan organisasi ulama dayah (Inshafuddin). Ketika dia memilih topik-topik penelitian juga mayoritas masalah aktivitas dayah dan ulama. Dari aktivitas bergabung dengan organisasi ulama dan penelitian-penelitian yang berhubungan dengan dayah dan ulama Prof Hasbi Amiruddin merasa seperti mengulang kembali pengalamannya ketika menekuni ilmu di dayah, yang memiliki kesan tersendiri baginya. “Kesan-kesan ini tidak saya temukan di luar pengalaman itu,” ungkapnya.

Kesan pertama yang ia rasakan, betapa teduhnya hati ketika berada di dayah. Mulai dari tidak adanya aktivitas yang berfoya-foya, apalagi pamer. Hidup sederhana, namun tetap dalam saling menghargai. Situasi yang ramah dan saling menghormati. Di dayah suka bekerjasama dan saling membantu.

Materi yang disajikan oleh guru kemudian diaplikasikan dalam kehidupan hari-hari. Ketika diajarkan bahwa ibadah ini wajib, maka semua melaksanakannya, apalagi ketika disuguhkan ilmu tasawuf yang dipadukan dengan ilmu tauhid, ilmu yang menganjurkan agar kita selalu dekat dengan Allah Maha Pencipta, Maha Memberi, dan Maha Pengampun, selalu saja mendengar dan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya. 

Tausiah tasawuf yang diulang-ulang yang kadang-kadang diaplikasikan bersama shalat malam, seperti hidup ini tidak pernah ada masalah. Karena semua masalah pada titik tertentu tetap dikembalikan kepada Allah, melalui doa-doanya.

Di samping keyakinan bahwa Allah akan memberi jalan keluar setiap masalah yang dihadapi oleh hamba-Nya yang bertakwa, mencukupkan kebutuhannya (QS At-Talaq: 2-3). Begitu banyak pengalaman santri yang merasakan hal itu. Kadang-kadang juga santri menyaksikan sendiri gurunya hidup seperti itu, selalu dalam pertolongan Allah. Sikap seperti itulah yang membuat para santri sukses dalam studinya, seperti yang dijalani oleh tokoh dalam novel Derai Doa Di Langit Langit Dayah.

Di sisi lain, ungkap Prof Hasbi Amiruddin, memang ada hal-hal yang memerlukan perhatian para santri, berdasarkan pengalaman perubahan alam. Penyesuaian-penyesuaian hanya sekedar menaggapi perkembangan budaya yang kadang-kadang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak ada halangan dari sisi agama. Perkembangan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi, kadang dibutuhkan pengembangan ilmu bagi seseorang santri, sehingga ketika berkiprah dalam masyarakat mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan masyarakat, yang memerlukan jawaban demi lurusnya jalan ibadah mereka.  Sekaligus demi ketenangan dan kenyamanan hidup santri.

Salah seorang pembedah Wiratmadinata mengomentari, bahwa novel sastra yang dibedah ditulis seorang ilmuwan. Ia Guru Besar dalam bidang Studi Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Ranirry, Darussalam, Banda Aceh. Menurutnya, belakangan semakin sedikit ilmuwan apalagi selevel profesor,  yang mau dan mampu menulis karya sastra. 

Oleh karena itu, sebagai ilmuwan, Prof. Hasbi amiruddin boleh dikatakan, berbeda dari kebanyakan akademisi di UIN Ar-Raniry, meskipun ia menulis banyak buku ilmiah, tetapi juga rajin menulis puisi dan kini menerbitkan novel pula. Setelah menuntaskan pengabdiannya sebagai ASN di kampus UIN Ar-Raniry (2023), ia menyebut Prof Hasbi Amiruddin akademisi cum sastrawan dari Aceh.

Diantara yang menarik dari novel ini jalinan kisah dituturkan dengan gaya bahasa yang lugas, tidak suka berlemak-manis atau merdu merayu. Narasinya alamiah, sehingga ruang imajinasi pembaca terbuka luas membentuk dunianya sendiri, apa adanya tanpa harus dipaksakan. Gaya bahasa seperti ini mengingatkan pembaca pada Ernest Hemingway, sastrawan Amerika yang juga memiliki gaya bahasa yang lugas dalam cerpen-cerpennya.

Ketika kita membaca novel ini, bagaikan sedang berkelana dalam jagat khayali diantara gelombang rasa yang lembut antara karakter Tgk Halimah, Azizah, dan Amila dalam kelindan bayang seorang “Teungku Idris”, tokoh utama cerita. “Saya percaya, saat Anda membaca buku ini, rasanya seperti sedang menikmati cengkerama senja, dengan angin sepoi-sepoi di teras rumah, mengikuti narasi merdu dari seruling sang pujangga,” ungkap Wiratmadinata.

Dari hati yang dalam ia berdoa agar karya-karya sastra seperti ini, di masa depan akan semakin banyak muncul dari tangan Angkatan Darussalam, membagikan kegairahan peradaban Islam yang didambakan sejak zaman Nurruddin Arraniry, Hamzah Fansury, Do-Karim, Tgk Chik Pante Kulu, hingga Prof Ali Hasjmy dan generasi penerus selanjutnya. 

Kisah dalam novel ini pada dasarnya jalinan hubungan antara karakter-karakter keacehan, yang hidup dalam ruang sosiologis dan antropologis orang Aceh di sekitar dayah (pesantren di Aceh), lengkap dengan karakter pendukungnya seperti ulama, santri, ustadz, ustazah, warung kopi, asrama santri perempuan dan laki-laki, serta berbagai atribut budaya lainnya seperti Maulid Nabi, pengajian dan lain-lain. 

Sepanjang cerita, perjalanan karakter utamanya menggambarkan nuansa kehidupan islami di Aceh secara umum dan bagaimana para laki-laki di Aceh tumbuh dan berkembang di sekitar kehidupan dayah, meski akhirnya ketika para santri nantinya memilih profesi macam-macam, seperti, pedagang, profesional, pebisnis dan lain-lain. 

Sebagai akademisi cum sastrawan, Prof Hasbi Amiruddin, pada dasarnya penerus tradisi ilmuwan sastrawan yang dulu menjadi karakter para ulama di Aceh. Tradisi kepenulisan sastra kaum ilmuwan ini dimulai sejak Hamzah Fansury dengan “Syair Perahu” yang monumental, hingga Prof Ali Hasjmy yang terkenal dengan novelnya “Antara Suara Azan dan Lonceng Gereja”. “Novel ini menjadi penanda Prof Hasbi Amuriddin adalah ulama dan ilmuwan-sastrawan yang masih bisa bertahan dari tanah Darussalam,” tegas Wiratmadinata.

Pembedah lainnya, Salsabila, mengungkapkan, salah satu yang menarik dari narasi novel Derai Doa Di Langit Langit Dayah, “Memberi semangat pada kami dengan gambaran bagaimana seorang pemuda miskin yang dapat keluar dari lingkaran kemiskinan melalui peningkatan kualitas pendidikannya.” Kehidupan seorang pemuda pada dasarnya dari keluarga miskin, tetapi memiliki sifat sabar dan pengabdian. Setamat PGA dia mengabdi dengan mengajar di SD di kampungnya, walaupun harus mendayung sepeda dan gaji yang sangat rendah. 

Untuk peningkatan kualitas ilmunya kemudian dengan penuh sabar menekuni ilmu di dayah, sehingga dipercaya menjadi salah seorang guru di dayah dan bahkan kemudian menjadi guru favorit. Karena memiliki bahasa Indonesia yang bagus dan memiliki ilmu dasar guru di PGA, sehingga ada yang mengajak dia menjadi salah seorang guru di madrasah Ibtidaiyah. 




Penampilannya yang menarik sebagai seorang guru, Kepala Madrasah menganjurkan agar Tgk Idris, tokoh di novel ini, agar melanjutkan pendidikan ke universitas. Karena ketekunannya, sehingga dapat menyelesaikan pendidikannya dalam waktu tiga setengah tahun. Lagi-lagi kesuksesannya di universitas, dekan di fakultasnya memberi kesempatan mengikuti pendidikan tambahan sebagai calon dosen, hingga ia mendapat tawaran kuliah S2 di luar negeri.

Menurut Salsabila, hal lain yang menarik dari narasi novel ini adalah adanya pesan, bahwa kaum perempuan juga dimotivasi  agar memiliki sikap mampu berdiri di kakinya sendiri. Untuk itu, kaum perempuan juga harus berminat meningkatkan kualitas ilmunya dan bahkan juga skill tertentu, sehingga tidak kesulitan dalam meniti kehidupnya yang bermartabat. 

Berdasarkan spirit dari narasi novel Derai Doa Di Langit Langit Dayah, akhirnya Salsabila berharap perempuan perlu memiliki tingkat pendidikan yang baik, sehingga sukses secara finasial dan dapat keluar dari lingkaran kemiskinan. (Sayed M. Husen)

SHARE :
Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 facebook:

 
Top