LAMURIONLINE.COM | SABANG
- Kondisi nelayan di Kota Sabang kian memprihatinkan dalam beberapa bulan terakhir. Selain hasil tangkapan ikan tuna yang tidak stabil, para nelayan juga dihadapkan pada kenaikan harga peralatan melaut dan kebutuhan operasional.

Hal tersebut disampaikan oleh Kamarullah, yang akrab disapa Komo, seorang penampung ikan nelayan yang berdomisili di kawasan Balohan, dengan gudang penampungan di Jurong Ulee Krueng, dekat pelabuhan kapal cepat.

Menurutnya, sejak awal tahun hingga memasuki bulan ketiga dan keempat, hasil tangkapan tuna mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Biasanya satu nelayan dalam seminggu bisa mendapatkan tiga hingga lima ekor tuna, bahkan lebih. Namun belakangan ini, dalam sepekan hanya sekitar satu ekor, itupun tidak semua nelayan yang melaut mendapatkan hasil,” ujarnya.

Ia menjelaskan, berat ikan tuna yang diperoleh nelayan cukup bervariasi, mulai dari 50–60 kilogram, 70–80 kilogram, hingga mencapai 90 kilogram per ekor. Sementara harga jual di tingkat penampung juga tidak menentu, berkisar di bawah hingga di atas Rp30 ribu per kilogram, mengikuti fluktuasi pasar harian dan mingguan.

Di sisi lain, biaya operasional melaut terus meningkat. Untuk sekali melaut, nelayan membutuhkan sekitar dua jerigen bahan bakar jenis solar dengan total biaya mencapai Rp400 ribu. Kondisi ini menjadi beban berat, terutama bagi nelayan yang pulang tanpa hasil.

“Kasihan nelayan kalau sudah keluar modal tapi tidak dapat ikan. Dikhawatirkan mereka tidak bisa melaut lagi karena kehabisan modal, bahkan bisa terjerat utang kepada toke bangku,” tambah Komo.

Tidak hanya itu, harga peralatan melaut juga mengalami kenaikan. Alat mesin mengalami kenaikan sekitar lima persen, sementara perlengkapan pancing naik bervariasi antara Rp500 hingga Rp1.000 per item. Secara umum, kenaikan harga perlengkapan mencapai sekitar sepuluh persen, yang dinilai cukup memberatkan di tengah menurunnya hasil tangkapan.

Meski penyebab pasti kenaikan harga belum diketahui, Komo menduga hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global yang sedang tidak stabil.

Para nelayan berharap adanya perhatian dari pemerintah, khususnya dalam menstabilkan harga kebutuhan melaut. Selain itu, muncul pula gagasan untuk membentuk lembaga simpan pinjam khusus nelayan guna membantu permodalan.

“Kalau ada lembaga simpan pinjam, nelayan bisa punya tempat untuk meminjam modal, bukan sekadar bantuan sesaat,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan, saat ini terdapat informasi mengenai kemungkinan adanya program simpan pinjam akan dimulai kelola oleh Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), meskipun implementasinya belum dapat dipastikan oleh nelayan.

Di tengah kondisi yang sulit ini, para nelayan hanya bisa berharap harga kebutuhan kembali normal dan hasil laut kembali melimpah, agar kehidupan mereka dapat kembali stabil dan sejahtera. (Devan/Sayed)

SHARE :

0 facebook:

 
Top