Oleh: Abu Aly
Di antara barisan sahabat Nabi, berdirilah sosok mulia yang kelembutannya menggetarkan hati dan kemuliaannya membuat para malaikat pun merasa segan. Beliau Utsman bin Affan.Keistimewaan utama yang melekat pada dirinya adalah gelar Dzun Nurain, “Pemilik Dua Cahaya”. Gelar ini bukan gelar biasa, melainkan kemuliaan langka dalam sejarah. Beliau menikahi dua putri Rasulullah secara berurutan: Ruqayyah binti Muhammad dan setelah wafatnya, beliau menikahi Ummu Kultsum binti Muhammad. Tidak ada sahabat lain yang mendapatkan keistimewaan seperti ini.
Kemuliaan Utsman tidak hanya terletak pada kedekatannya dengan Rasulullah. Baliau simbol kedermawanan yang tulus dan tanpa batas.
Ketika umat Islam di Madinah mengalami kesulitan air, beliau membeli sumur Raumah lalu mewakafkannya untuk kepentingan umat. Ketika pasukan Muslim kekurangan bekal dalam ekspedisi Tabuk, beliau tampil sebagai penopang utama, menginfakkan hartanya dalam jumlah besar hingga Rasulullah memuji pengorbanannya dengan penuh kekaguman.
Dari sini kita belajar, bahwa harta di tangan orang beriman bukan sekadar milik, tetapi amanah yang bisa menjadi jalan dakwah dan sumber keberkahan bagi banyak orang.
Salah satu sifat paling menonjol dari Utsman bin Affan adalah rasa malu (haya’). Rasa malu yang bukan melemahkan, tetapi justru menguatkan hubungan dengan Allah. Bahkan Rasulullah sendiri menghormati rasa malu beliau dengan sikap yang istimewa.
Sifat ini menjadi pelajaran penting di zaman sekarang, ketika batas-batas kesopanan sering kali memudar. Utsman mengajarkan, rasa malu kepada Allah benteng moral yang menjaga manusia dari kehinaan.
Di tengah kehidupan modern yang sering mengagungkan materi dan popularitas, keteladanan Utsman bin Affan mengingatkan kita bahwa kemuliaan sejati lahir dari ketulusan memberi dan kerendahan hati.
Kekayaan bukan penghalang menuju surga, selama ia digunakan di jalan yang diridhai Allah. Bahkan bisa menjadi kendaraan menuju derajat yang tinggi jika diiringi dengan keikhlasan.
Mari kita mulai dari hal kecil namun bermakna. Cobalah hari ini bersedekah secara sembunyi-sembunyi atau membantu satu urusan orang lain tanpa mengharap balasan ataupun pujian. Jadikan itu sebagai bentuk rasa malu kita kepada Allah, bahwa kita belum cukup banyak berbuat untuk-Nya.
Semoga Allah Swt menghiasi hati kita dengan cahaya keikhlasan, sebagaimana Dia telah menghiasi kehidupan Utsman bin Affan dengan dua cahaya kemuliaan. Wallahu a‘lam bish-shawab.*

0 facebook:
Post a Comment