Oleh: Syahrati, S.HI., M.Si.
Penyuluh Agama Islam Bireuen
Ada masa dalam hidup ketika kita diajarkan bahwa menjadi baik berarti tidak membuat orang lain merasa tidak nyaman. Kita berusaha menahan diri, mengurangi ketegasan, bahkan mengorbankan perasaan sendiri agar tetap terlihat “baik” di mata semua orang. Budaya sungkan atau "gak enakan" ini sering kali mendarah daging, hingga tanpa disadari, pelan-pelan kita mulai lelah. Kita memikul terlalu banyak beban, menahan hal yang seharusnya disampaikan, dan membiarkan situasi yang tidak sehat tetap berlangsung hanya karena satu alasan: tidak enak hati.Di titik itulah kita perlu jujur pada diri sendiri. Apakah selama ini kita benar-benar sedang berbuat baik, atau justru terjebak dalam fenomena people pleasing? Psikolog Harriet Braiker dalam bukunya The Disease to Please menjelaskan bahwa keinginan berlebihan untuk menyenangkan orang lain sering kali berakar pada rasa takut akan penolakan, bukan murni kebaikan hati.
*Memaknai Ulang "Sebaik-baik Manusia"
Sering kali kita merasa terbebani oleh pesan mulia dari Rasulullah SAW. bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad). Namun, perlu kita renungkan kembali: mungkinkah kita memberi manfaat yang tulus jika hati kita sendiri sedang meronta karena terzalimi?
Menjadi bermanfaat bukan berarti membiarkan diri dimanfaatkan tanpa batas. Justru, dengan memiliki batasan diri (boundaries), kita sedang memastikan bahwa manfaat yang kita berikan adalah kualitas terbaik dari diri kita, bukan sekadar sisa tenaga yang lahir dari rasa sungkan. Islam mengajarkan keadilan, dan itu termasuk adil kepada diri sendiri. Menjaga diri agar tetap sehat secara mental dan fisik adalah prasyarat agar kita bisa terus menebar manfaat dalam jangka panjang.
*Kebaikan dalam Timbangan Syariat
Dalam kacamata syariat, kebaikan bukanlah tentang upaya menyenangkan semua orang secara membabi buta, melainkan tentang penegakan keadilan ('adl). Adil sering kali didefinisikan sebagai "menempatkan sesuatu pada tempatnya". Dalam konteks relasi sosial, hal ini berarti kita harus adil dalam membagi perhatian: antara memenuhi kebutuhan sesama dan menjaga hak-hak diri sendiri.
Prinsip ini didasarkan pada sebuah kaidah penting dalam Islam mengenai hak jiwa (haqqun nafsi). Rasulullah SAW. secara tegas mengingatkan dalam sebuah hadis sahih:
“Sesungguhnya bagi dirimu (jiwamu) ada hak yang harus engkau penuhi.” (HR. Bukhari).
Pesan ini mengisyaratkan bahwa memberikan ruang bagi jiwa untuk tenang, beristirahat, dan terlindungi dari beban yang melampaui batas adalah sebuah amanah yang harus ditunaikan.
Mengabaikan hak diri demi mengejar penilaian manusia justru merupakan bentuk kezaliman terhadap diri sendiri. Selaras dengan hal tersebut, Al-Qur’an mengingatkan manusia agar tidak menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan (QS. Al-Baqarah: 195). Dalam konteks kesehatan mental, "kebinasaan" bisa bermakna membiarkan batin hancur secara perlahan akibat tekanan sosial yang tidak terkendali.
Oleh karena itu, membangun batasan diri (boundaries) bukan berarti kita menjadi pribadi yang egois, melainkan bentuk pertanggungjawaban kita dalam menjaga amanah jiwa agar tetap utuh dan mampu terus menebar manfaat secara berkelanjutan.
*Antara Menjadi "Nice" dan Menjadi "Kind"
Ada perbedaan mendasar antara menjadi nice (manis) dan menjadi kind (baik). Sikap nice sering kali lahir dari keinginan untuk disukai. Sementara itu, sikap kind lahir dari kesadaran untuk berbuat benar berdasarkan prinsip. Imam Asy-Syafi’i pernah mengingatkan sebuah kebenaran pahit bahwa rida manusia adalah tujuan yang tidak akan pernah tercapai. Maka, jika fokus hidup kita hanya untuk memuaskan ekspektasi semua orang, kita hanya akan kehilangan jati diri di tengah perjalanan.
Belajar berkata, “Saya ingin membantu, tapi saya juga punya prioritas yang harus diselesaikan,” bukanlah bentuk keegoisan. Justru, itu adalah bentuk kejujuran. Sosiolog Brene Brown menyebutkan bahwa orang yang paling memiliki kasih sayang justru adalah mereka yang memiliki batasan diri paling tegas. Mereka tahu kapan harus berkata "ya" dengan tulus dan kapan harus berkata "tidak" tanpa rasa bersalah.
*Menjaga Diri adalah Bagian dari Kebaikan
Menjadi baik itu penting, namun menjaga diri adalah bagian dari kebaikan itu sendiri. Kita tidak bisa memberi dari gelas yang kosong. Dengan menjaga batasan diri, kita sebenarnya sedang memastikan bahwa kebaikan yang kita berikan adalah kebaikan yang berkualitas, bukan sekadar basa-basi yang dibarengi dengan dongkol di dalam hati.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat tidak dibangun dari pengorbanan sepihak, tetapi dari saling menghargai. Dan menghargai orang lain tidak harus dimulai dengan mengabaikan diri sendiri. Karena menjadi hamba yang merdeka adalah saat kita berani menjadi diri sendiri, setulus fitrah yang telah dianugerahkan-Nya.

0 facebook:
Post a Comment