Oleh: Juariah Anzib, S.Ag
Penulis Buku “Wakaf di Aceh: Tradisi, Inovasi dan Keberkahan”
Islam agama (din) yang menjunjung tinggi nilai kedamaian dan keselamatan bagi seluruh umat manusia. Al-Qur’an memandang perang (qital) bukan sebagai tujuan, melainkan jalan terakhir dalam kondisi tertentu, terutama mempertahankan diri dari kezaliman dan agresi. Dalam konteks ini, perang sering dikaitkan dengan konsep jihad, yang maknanya jauh lebih luas daripada sekadar peperangan fisik—melainkan juga mencakup perjuangan menegakkan kebenaran, keadilan, dan kemaslahatan.
Prinsip Dasar
Islam tidak pernah membenarkan peperangan yang dilandasi oleh kebencian, ambisi kekuasaan, atau pemaksaan keyakinan. Al-Qur’an secara tegas menyatakan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Peperangan hanya dibolehkan dalam kondisi tertentu, seperti ketika umat Islam diserang, dizalimi, atau dihalangi dalam melaksanakan syariat Islam.
Dalam hal ini, Allah Swt berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 190 agar kaum Muslimin berperang di jalan Allah hanya terhadap orang-orang yang memerangi mereka, dan tidak melampaui batas. Ini menunjukkan bahwa perang dalam Islam bersifat defensif, terukur, dan memiliki aturan moral yang ketat.
Pemred Gema Baiturrahman, Juniazi Yahya, mengatakan, Islam ibarat lebah—tidak mengganggu, tetapi akan mempertahankan diri jika diserang. Oleh karena itu, umat Islam diajarkan untuk mengedepankan perdamaian, namun tetap tegas ketika menghadapi ancaman kaum kufar.
Perang di Masa Rasulullah
Sejarah mencatat, peperangan yang terjadi pada masa Rasulullah saw, seperti Perang Badar dan Perang Uhud, bukanlah bentuk agresi, melainkan respons terhadap ancaman dan serangan dari pihak musuh. Kaum Muslimin pada masa itu berada dalam posisi mempertahankan diri dan menjaga keberlangsungan dakwah Islam.
Hal ini menunjukkan, Islam tidak mengajarkan permusuhan, tetapi mengajarkan keteguhan dalam mempertahankan prinsip dan kebenaran.
Perspektif Kemanusiaan
Menurut Sayed Muhammad Husen, dalam konteks dunia modern, konflik antarnegara sering kali dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks, seperti kepentingan ekonomi, politik, dan ideologi. Kawasan Timur Tengah, misalnya, kerap menjadi pusat ketegangan karena potensi sumber daya alam seperti minyak, serta persaingan geopolitik global.
Di sisi lain, perkembangan teknologi militer, termasuk senjata canggih, turut memperbesar potensi konflik. Dalam kondisi ini, setiap negara berusaha memperkuat pertahanan sebagai bentuk antisipasi, meskipun hal tersebut juga dapat memicu ketegangan yang lebih luas.
Namun demikian, dari sudut pandang Islam, peperangan tetap bukan pilihan utama. Perdamaian adalah jalan yang lebih diutamakan selama masih memungkinkan. Allah Swt sendiri menganjurkan umat Islam menerima perdamaian jika pihak lawan menginginkannya.
Pelajaran Berharga
Dari berbagai konflik yang terjadi, umat Islam dapat mengambil pelajaran penting, di antaranya:
Pertama, pentingnya memperkuat kualitas sumber daya manusia, baik dalam ilmu pengetahuan, ekonomi, maupun spiritualitas.
Kedua, menjaga persatuan umat dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya.
Ketiga, mengedepankan dialog dan solusi damai dalam menyelesaikan konflik.
Keempat, memiliki keteguhan prinsip dalam membela kebenaran tanpa melampaui batas kemanusiaan.
Kelima, Islam mengajarkan keseimbangan antara kekuatan dan kasih sayang, antara ketegasan dan kebijaksanaan.
Perang dalam Islam sesungguhnya bukan tujuan, melainkan jalan darurat ketika semua upaya damai tidak lagi memungkinkan. Sebaliknya, perdamaian merupakan cita-cita utama yang harus terus diperjuangkan.
Secara kemanusiaan, setiap konflik yang terjadi di dunia seharusnya menjadi pengingat bahwa peperangan hanya membawa penderitaan, kehancuran, dan kerugian bagi semua pihak. Oleh karena itu, peran lembaga internasional dan seluruh elemen masyarakat global sangat dibutuhkan untuk menghadirkan solusi damai yang berkeadilan.
Semoga umat manusia senantiasa diberikan kebijaksanaan dalam menyikapi konflik dan kekuatan menegakkan kebenaran dengan cara yang diridhai oleh Allah Swt.*

0 facebook:
Post a Comment