LAMURIONLINE.COM I BENER MERIAH
- Tim Dosen Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Aceh melaksanakan kegiatan Pengabdian Masyarakat di Desa Sumber Jaya, Kabupaten Bener Meriah pada tanggal 24-25 April 2026. Kegiatan ini fokus pada "Edukasi Bahaya Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR)" yang menyasar kelompok masyarakat berisiko tinggi.

Masyarakat Desa Sumber Jaya, yang mayoritas berprofesi sebagai petani, sering berhadapan dengan konflik satwa yaitu Babi hutan dan Monyet. Kelompok pemburu babi hutan menjadi sasaran utama pelatihan ini, mengingat mereka memelihara anjing dan sering menggunakan bantuan anjing pelacak dalam aktivitas melindungi lahan pertanian dari kerusakan hama babi.

Penanganan Pertama Jadi Kunci

Tim pelaksana yang terdiri dari para pakar kesehatan lingkungan, yaitu Wiwit Aditama, SKM, MPH, Zulfikar, SKM, MPH, dan Khairunnisa, SKM, M.Kes, menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap perilaku hewan peliharaan maupun hewan liar.

Dalam sesi penyuluhan, Wiwit Aditama menjelaskan bahwa risiko penularan rabies sangat nyata bagi para pemburu yang berinteraksi intens dengan anjing.

"Rabies adalah penyakit yang mematikan jika tidak ditangani dengan cepat. Para pemburu harus mengenali tanda-tanda klinis pada anjing mereka dan memahami bahwa perlindungan terhadap hewan adalah perlindungan terhadap manusia juga," ujarnya.

Pelatihan Teknis bagi Masyarakat

Tak hanya memberikan teori, masyarakat juga diajarkan langkah-langkah medis darurat jika terjadi kasus gigitan (tata laksana luka gigitan hewan). Zulfikar dan Khairunnisa memandu langsung praktik penanganan awal, di antaranya, Pencucian Luka: Mencuci luka gigitan dengan sabun atau detergen di bawah air mengalir selama minimal 15 menit, Pemberian Antiseptik: Penggunaan alkohol 70% atau povidon iodin setelah pencucian, Rujukan Medis: Segera melapor ke Rabies Center atau Puskesmas terdekat untuk mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR) atau Serum Anti Rabies (SAR) sesuai indikasi.

Sinergi untuk Ketahanan Desa

Masyarakat sangat antusias mengikuti pelatihan ini, mengingat selama ini penanganan luka gigitan anjing seringkali hanya mengandalkan metode tradisional yang belum tentu aman secara medis.

"Kami sering membawa anjing ke hutan untuk mengusir babi yang merusak tanaman. Lewat kegiatan dosen Poltekkes ini, kami jadi tahu bahwa ada prosedur kesehatan yang wajib dilakukan jika terkena gigitan, agar nyawa tidak terancam," ungkap salah satu warga peserta pelatihan.*

 

SHARE :

0 facebook:

 
Top