Oleh: Ustadz Khairul Rafiqi, Lc., MA
Kita senantiasa mencari keberkahan dalam hidup ini. Kita ingin umur berkah, waktu berkah, rezeki berkah, keluarga berkah, dan seluruh kehidupan diberkahi oleh Allah Swt. Keberkahan adalah karunia besar, karena akan mendatangkan banyak kebaikan.Umur yang berkah melahirkan banyak manfaat, meski secara hitungan mungkin singkat. Seperti Imam an-Nawawi rahimahullah yang wafat pada usia 45 tahun, namun karya dan ilmunya luar biasa. Begitu pula waktu dan rezeki, jika berkah, maka sedikit menjadi cukup dan memberi manfaat besar.
Makanan pun demikian. Bukan sekadar yang mahal atau enak, tetapi keberkahannya yang menentukan manfaatnya bagi tubuh dan kehidupan.
Karena itu, kita sangat membutuhkan keberkahan dalam hidup. Aktivitas Subuh yang kita lakukan misalnya termasuk salah satu cara meraih keberkahan, sebagaimana doa Rasulullah saw: “Allahumma barik li ummati fi bukuriha”, Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi mereka.
Dalam kitab Tanbihul Ghafilin, Imam Abu Laits as-Samarqandi menyebutkan lima hal: Pertama, jangan meninggalkan kewajiban. Jangan sampai karena mencari rezeki kita melalaikan shalat, zakat, dan kewajiban lainnya. Justru usaha kita seharusnya membantu kita menunaikan kewajiban, bukan sebaliknya.
Kedua, jangan menyakiti atau menzalimi orang lain dalam mencari rezeki. Jangan curang, menipu, atau merugikan orang lain. Sekecil apa pun kecurangan, seperti dalam timbangan, tetap besar di sisi Allah. Dalam Surah Al-Muthaffifin, Allah mengancam keras pelaku kecurangan.
Hakikatnya, orang yang menipu orang lain sedang menipu dirinya sendiri, karena semua akan dipertanggungjawabkan di akhirat.
Ketiga, luruskan niat dalam mencari rezeki, yaitu menjaga kehormatan diri dan keluarga agar tidak meminta-minta. Nafkah kepada keluarga adalah sedekah yang paling besar pahalanya. Maka dahulukan keluarga dalam kebaikan.
Keempat, jangan berlebihan dalam bekerja. Jangan sampai waktu habis untuk dunia hingga melupakan keluarga, kesehatan, dan ibadah. Semua ada haknya: diri, keluarga, orang tua, serta masyarakat. Sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan.
Kelima, yakin rezeki berasal dari Allah, bukan semata hasil usaha kita. Usaha hanyalah sebab, sedangkan pemberi hakiki adalah Allah. Kisah Qarun menjadi pelajaran bahwa merasa sombong dengan harta justru membawa kebinasaan.
Jika hidup diberkahi, maka kita akan merasakan ketenangan dan kebahagiaan meski secara materi sederhana. Sebaliknya, tanpa keberkahan, kekayaan pun tidak membawa ketenangan.
Untuk itu, mari kita berdoa agar seluruh usaha kita diberkahi oleh Allah Swt. Mudah-mudahan hidup kita penuh kebaikan, keluarga kita menjadi penyejuk hati, dan rezeki kita membawa manfaat dunia dan akhirat.
Sumber: Safari Subuh BBC di Masjid Jami' Babussalam Kem. Lam Ujong, Kec. Krueng Barona Jaya, Aceh Besar ~ 15 Dzulqaidah 1447 / 3 Mei 2026

0 facebook:
Post a Comment