Oleh: Syahrati, S. HI., M. Si.
Penyuluh Agama Islam Bireuen
Secara logika matematis dan hitungan efektivitas modern, apa yang dilakukan Hajar ribuan tahun lalu di antara Bukit Shafa dan Marwah adalah definisi nyata dari sebuah kesia-siaan.Bayangkan seorang ibu, sendirian di tengah gurun yang membakar, berlari bolak-balik hingga tujuh kali demi mencari setetes air untuk bayinya yang menangis kehausan. Dia mendaki Shafa, nihil. Dia berlari ke Marwah, kosong. Dia mengulangnya lagi, tetap tidak ada apa-apa.
Hingga hitungan ketujuh, hasil dari kerja kerasnya tetap sama yaitu nol besar. Tidak ada mata air yang tiba-tiba muncul di puncak Shafa, tidak ada rombongan kafilah yang lewat di Marwah.
Jika indikator keberhasilan sebuah usaha hanya diukur dari hasil akhir yang instan, maka tujuh kali perjalanan Hajar adalah kegagalan total. Namun, sebuah pertanyaan besar muncul mengapa Allah justru mengabadikan kesia-siaan itu sebagai salah satu rukun ibadah yang wajib diulangi oleh jutaan manusia hingga akhir zaman?
*Menatap Lembah: Ikhtiar di Tengah Ketiadaan
Untuk memahami rahasia di balik peristiwa ini, kita perlu melihat bagaimana para ulama mengupas dinamika psikologis Hajar saat itu. Dalam kitab Tafsir Al-Qur'an al-'Azhim, Imam Ibnu Katsir menjelaskan secara detail momen krusial tersebut. Ketika persediaan air di kantong kulit telah habis dan bayinya mulai menangis kehausan, Hajar tidak hanya duduk meratapi nasib.
Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Hajar berdiri di atas Bukit Shafa, lalu mengarahkan pandangannya ke arah lembah dengan harapan ada orang atau kafilah yang lewat, namun beliau tidak melihat siapa pun. Beliau kemudian turun, berjalan di lembah, lalu mendaki Bukit Marwah untuk melakukan hal yang sama yaitu memandang ke arah lembah demi mencari tanda-tanda kehidupan. Beliau mengulanginya hingga tujuh kali.
Penjelasan Ibnu Katsir ini menegaskan satu hal bahwa Hajar berlari bukan karena tahu di mana air berada, melainkan karena kewajiban berusaha. Beliau mengombinasikan amalan hati yang tenang dengan amalan fisik yang maksimal. Beliau tidak bisa mengendalikan gurun yang gersang, tapi beliau bisa mengendalikan ke mana langkah kakinya diayunkan.
*Tamparan untuk Generasi Serba Instan
Melalui visualisasi yang diuraikan Ibnu Katsir, Sa'i sejatinya hadir sebagai tamparan keras bagi kita, manusia modern, yang hidup di era serba instan.
Kita adalah generasi yang akrab dengan tombol shortcut. Kita ingin sukses dalam semalam, ingin doa langsung dikabulkan dalam hitungan detik, dan ingin semua usaha langsung memperlihatkan hasil nyata. Ketika usaha pertama gagal, kita cemas. Ketika rencana kedua berantakan, kita mulai overthinking. Dan ketika doa-doa belum juga berwujud nyata, kita mulai meragukan keadilan Allah, lalu memilih untuk menyerah.
Melalui Sa'i, Allah ingin meruntuhkan mentalitas rapuh itu. Allah seolah ingin berbisik kepada setiap jiwa yang sedang lelah bahwa wilayahmu hanyalah bergerak dan berusaha seperti yang dijelaskan dalam sirah, bukan menentukan hasil.
*Keikhlasan: Bentuk Tertinggi dari Self-Care
Ketika Hajar menerima kenyataan ditinggalkan di lembah tandus, kalimat pertamanya adalah tameng psikologis terbaik yaitu kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.
Ini adalah bentuk self-care spiritual yang paling radikal. Hajar mengajarkan seni melepaskan kendali. Kecemasan akut atau anxiety yang sering melanda kita hari ini umumnya lahir karena kita memaksa diri untuk mengontrol hal-hal di luar kapasitas kita seperti hasil akhir, masa depan, dan penilaian orang lain.
Hajar menjaga kesehatan mentalnya dengan cara membagi dua zona dalam hidupnya. Ada zona ikhtiar di mana beliau berlari sekuat tenaga antara Shafa dan Marwah sebagai representasi wilayah manusia yang wajib berusaha. Di sisi lain, ada zona hasil di mana beliau memasrahkan diri sepenuhnya pada ketetapan Allah sebagai pemilik wilayah hasil yang mutlak. Hatinya tetap tenang di tengah ketidakpastian gurun karena ia tidak membebani pikirannya dengan pertanyaan bagaimana kalau di Marwah nanti tetap tidak ada air. Ia hanya tahu satu hal bahwa selama ia bergerak dalam koridor ketaatan, Allah bersamanya.
*Saat Solusi Datang dari Titik yang Tak Terduga
Kejutan terbesar dari drama kehidupan ini terjadi di akhir cerita. Ketika putaran ketujuh selesai dan Hajar telah menuntaskan kewajiban ikhtiarnya, pertolongan Allah akhirnya datang. Namun, air Zamzam tidak memancar dari Bukit Shafa ataupun Marwah yaitu dua tempat yang dicurahkan seluruh keringat dan air mata Hajar.
Mata air abadi itu justru memancar dari entakan kaki kecil bayi Ismail, bermula dari titik yang sama sekali tidak masuk dalam kalkulasi dan logika Hajar. Pesan psikologisnya sangat menukik bahwa Allah menghargai keringatmu, tapi Dia tidak terikat dengan skenario logikamu. Sering kali dalam hidup, kita merasa frustrasi karena bisnis yang kita rintis dengan berdarah-darah justru gagal, atau karier yang kita kejar mati-matian justru buntu. Kita merasa ikhtiar kita sia-sia.
Padahal, tidak ada yang sia-sia di mata Allah. Keringat yang kamu keluarkan di Bukit A bisa jadi adalah pengetuk pintu langit, yang membuat Allah mencurahkan rezeki dan jalan keluarmu di Lembah B melalui jalan yang sama sekali tidak pernah kamu duga sebelumnya.
Setiap kali umat muslim melakukan Sa'i, mereka sebenarnya sedang merayakan sebuah keteguhan mental. Kita diajak untuk menapak tilas bahwa sebuah harapan tidak boleh mati hanya karena keadaan sedang tampak mustahil.
Sa'i adalah monumen abadi yang mengingatkan kita semua untuk terus melangkah, teruslah berproses, dan jagalah keikhlasan hatimu. Jangan berhenti di langkah kelima atau keenam hanya karena hasil belum terlihat. Selesaikan hingga langkah ketujuh, lalu biarkan Allah yang mengejutkanmu dengan cara-Nya yang paling indah.

0 facebook:
Post a Comment