LAMURIONLINE.COM I BANDA ACEH - Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) Sekolah Luar Biasa The Nanny Children Center (SLB TNCC) menggelar kegiatan simulasi pemadaman kebakaran pada di lingkungan sekolah, Kamis, (21/5/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan seluruh warga sekolah dalam menghadapi potensi bencana kebakaran.
Simulasi dilakukan dengan dua metode, yaitu pemadaman api secara konvensional dan penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Kegiatan tersebut turut didampingi oleh petugas dari Dinas Pemadam Kebakaran Kota Banda Aceh yang memberikan arahan teknis sekaligus mempraktikkan langsung prosedur penanganan kebakaran.
Pelaksanaan praktik dilakukan secara bergantian oleh guru dan siswa, sehingga seluruh peserta dapat memahami langkah-langkah penanganan kebakaran sejak tahap awal. Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan edukasi mengenai cara penggunaan APAR yang benar, teknik dasar memadamkan api, dan prosedur keselamatan saat kondisi darurat.
Selain itu, juga diperkenalkan penggunaan alat sederhana seperti karung basah sebagai alternatif pemadaman ketika terjadi kebakaran akibat kompor.
Ketua SPAB SLB TNCC, Nanno Liwaul Hamdi, menyampaikan, kegiatan ini untuk memastikan seluruh warga sekolah memahami prosedur yang tepat dalam menghadapi kebakaran.
“Kegiatan ini merupakan bentuk edukasi sekaligus upaya meningkatkan kesiapsiagaan. Kami berharap guru dan siswa mampu melakukan penanganan awal kebakaran dengan baik dan benar,” ujarnya.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Nanny Eva, menambahkan, kegiatan ini memberikan pengalaman berharga bagi peserta didik, khususnya dalam menumbuhkan keberanian, kedisiplinan dan kesadaran akan pentingnya keselamatan diri dan lingkungan.
Sementara itu, Kepala Sekolah SLB TNCC, Nanny DM Ria Hidayati, menegaskan program SPAB merupakan bagian penting dalam membangun budaya sadar bencana di lingkungan pendidikan.
Menurutnya, kesiapsiagaan harus terus dilatih agar seluruh warga sekolah mampu bertindak cepat dan tepat dalam situasi darurat.
Siswa berkebutuhan khusus merupakan kelompok rentan yang perlu mendapatkan edukasi kesiapsiagaan bencana sejak dini. Oleh karena itu, pelatihan seperti ini sangat penting dan dimulai dari lingkungan sekolah.
“Seluruh siswa dilibatkan sesuai dengan ragam kebutuhannya, seperti autisme, tunagrahita, tunarungu, dan gangguan komunikasi, sehingga diharapkan mereka mampu mempraktikkannya secara mandiri saat menghadapi situasi kebakaran,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, pihak sekolah berharap seluruh warga sekolah semakin siap menghadapi potensi kebakaran serta mampu melakukan penanganan awal secara mandiri sebelum bantuan lanjutan tiba. Kegiatan serupa juga diharapkan dapat dilaksanakan secara berkala guna meningkatkan kompetensi dan kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai situasi bencana.
“Kegiatan berlangsung dengan tertib, aman, dan penuh antusiasme dari para guru dan siswa yang mengikuti simulasi pemadaman kebakaran tersebut,” pungkas DM Ria Hidayati. (Sayed M. Husen)


0 facebook:
Post a Comment