Oleh: Cut Raudhah Charlina Putri
Mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
Setiap hari media sosial menyajikan berbagai kisah tentang hubungan yang kandas. Ada suami yang berselingkuh setelah puluhan tahun menikah, ada istri yang memilih berpisah karena kekerasan emosional, ada pula pasangan yang selama ini terlihat harmonis tetapi ternyata menyimpan banyak masalah di balik layar. Semua cerita itu muncul silih berganti di beranda TikTok, Instagram, hingga X.
Tanpa disadari, paparan yang terus-menerus terhadap konten semacam ini mulai memengaruhi cara pandang banyak orang terhadap hubungan. Tidak sedikit yang akhirnya bertanya dalam hati, “Kalau mereka saja bisa diselingkuhi, bagaimana dengan saya?” atau “Untuk apa membangun hubungan jika pada akhirnya hanya akan berakhir dengan luka?”
Di sinilah muncul fenomena yang dalam psikologi dikenal sebagai fear of intimacy, yaitu ketakutan untuk menjalin kedekatan emosional yang mendalam dengan orang lain. Ketakutan ini bukan berarti seseorang tidak ingin dicintai atau tidak membutuhkan pasangan. Sebaliknya, mereka sangat menginginkan hubungan yang hangat dan penuh kasih, tetapi pada saat yang sama merasa takut terhadap risiko yang mungkin muncul ketika membuka diri.
Banyak orang mengira ketakutan ini hanya berasal dari pengalaman pribadi yang menyakitkan. Padahal, pengalaman tidak langsung melalui media sosial juga dapat membentuk persepsi seseorang. Ketika setiap hari yang terlihat adalah pengkhianatan, perselingkuhan, dan perceraian, otak perlahan mulai menganggap bahwa semua hubungan berakhir dengan cara yang sama.
Akibatnya, sebagian orang memilih menjaga jarak. Mereka sulit mempercayai orang lain, enggan berkomitmen, atau selalu curiga meskipun pasangannya tidak melakukan kesalahan apa pun. Ada yang terlihat santai dan mengatakan tidak membutuhkan hubungan serius, tetapi sebenarnya sedang berusaha melindungi diri dari kemungkinan terluka.
Yang perlu disadari, media sosial sering kali hanya menampilkan potongan-potongan cerita. Kita melihat akhir dari sebuah hubungan tanpa mengetahui perjalanan panjang yang terjadi sebelumnya. Kita melihat konflik yang viral, tetapi tidak melihat jutaan pasangan lain yang setiap hari berjuang mempertahankan hubungan mereka dengan komunikasi, kesabaran, dan saling pengertian.
Sayangnya, algoritma lebih menyukai cerita yang dramatis daripada cerita yang baik-baik saja. Karena itu, kasus perselingkuhan dan perceraian lebih mudah menarik perhatian publik dibandingkan kisah pasangan yang hidup harmonis. Akibatnya, dunia terasa lebih buruk daripada kenyataan yang sebenarnya.
Ketakutan terhadap hubungan memang manusiawi. Tidak ada seorang pun yang ingin dikhianati atau disakiti oleh orang yang dicintainya. Namun, membangun tembok yang terlalu tinggi juga bukan solusi. Ketika rasa takut mengambil alih, kita tidak hanya melindungi diri dari luka, tetapi juga menutup peluang untuk merasakan kedekatan, kepercayaan, dan kebahagiaan yang sehat.
Hubungan yang sehat memang tidak pernah bebas risiko. Tidak ada jaminan bahwa seseorang tidak akan mengecewakan kita. Akan tetapi, kehidupan juga tidak memberikan jaminan bahwa semua orang akan menyakiti kita. Di antara banyak kisah gagal yang viral di media sosial, masih ada banyak hubungan yang tumbuh dengan baik meskipun tidak pernah menjadi bahan perbincangan publik.
Karena itu, mungkin sudah saatnya kita lebih bijak dalam mengonsumsi konten tentang hubungan. Jangan biarkan pengalaman orang lain menentukan masa depan kita. Belajarlah dari kisah mereka, tetapi jangan mewarisi ketakutan mereka.
Pada akhirnya, cinta memang membutuhkan keberanian. Bukan keberanian untuk tidak terluka, melainkan keberanian untuk tetap percaya bahwa tidak semua orang datang untuk meninggalkan luka.
Sebab terkadang, yang membuat kita kesepian bukan karena tidak ada yang ingin mendekat, melainkan karena kita terlalu takut membuka pintu.

0 facebook:
Post a Comment