Oleh: Prof. Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL, MA
Ketua Majlis Syura Dewan Dakwah Aceh dan Dosen Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh
Perkataan lagèi lumö kap situek terdiri dari empat kata yang berbeda namun memiliki satu makna dalam filosofi kehidupan masyarakat Aceh. Kata lagèi bermakna “seperti”, semisal atau seumpama dalam bahasa Melayu, lumö bermakna “lembu” atau “sapi”, kap bermakna “gigit” “kunyah”, “mamah” atau “makan”, dan situek bermakna “pelepah pohon pinang”. Kalau digabung semuanya dalam bahasa Melayu/Indonesia bermakna “seperti lembu menggigit/makan pelepah pohon pinang”. Ketika keempat kata tersebut digabung menjadi satu kalimat ia mengandung makna perumpamaan atau misal kepada perbuatan beramai-ramai secara temporer tanpa perhitungan matang, sehingga terkesan ikut-ikutan, tiru meniru, ogah-ogahan dan iseng-isengan yang cenderung kurang memperhitungkan untung ruginya. Dalam bahasa Aceh juga disebut; Meurôn-rôn Lagèi Lumö kap Situek/ikut-ikutan seperti lembu makan pelepah pinang.Kalimat “seperti lembu menggigit/makan pelepah pohon pinang” secara mandiri dalam bahasa Melayu tidak memiliki makna apa-apa karena kalimatnya merupakan kalimat perumpamaan yang sulit diambil kesimpulan oleh para pembacanya. Namun ketika ia disebut dalam bahasa asli (bahasa Aceh) dengan kalimat lagèi lumö kap situek baru memiliki dan mengandung makna yang penuh dengan nilai-nilai filosofi sebagai perumpamaan terhadap kerja orang-orang yang ikut-ikutan dalam sesuatu pekerjaan pada musim-musim tertentu.
Istilah lagèi lumö kap situek dalam pemahaman orang Aceh diumpamakan kepada kerja seseorang atau sejumlah orang yang sifatnya berbondong-bondong atau beramai-ramai pada musim-musim tertentu dengan target dan sasaran kerja tertentu pula yang sedang naik daun atau sedang popular, sehingga terkesan pada masa atau musim tersebut pekerjaan itulah yang layak dan bagus dikerjakan, maka semua orang mengejar pekerjaan tersebut walaupun sering yang diharapkan keuntungan dari perbuatan tersebut namun kerugian dan bahkan kehancuran yang diterima.
Perumpamaan lembu makan pelepah pohon pinang (lumö kap situek) tersebut adalah; ketika seekor lembu sedang memamah situek kedengaran bunyinya; krap krup krap krup, lalu lembu lain terpancing seolah-olah situek tersebut enak sekali rasanya, maka berbondong-bondonglah lembu-lembu lain mengejar situek yang dianggap enak rasanya, padahal ketika dimakan baru tahu rasanya tawar saja tidak ada kelebihan rasa sama sekali. Barulah pada waktu itu para lembu menyesal karena sudah banyak energi yang dihabiskan untuk memakan situek yang dianggap enak rasanya ternyata jauh kenyataan dari harapan, energi sudah habis untung tidak ada malah rugi yang diterima.
Perumpamaan
Dalam kehidupan ke-Aceh-an banyak sekali perumpamaan dari istilah lagèi lumö kap situek, misalnya; ketika keluar jenis Hand Phone (HP) Black Berry (BB) ramai orang yang sibuk dan mencari uang untuk membelinya walaupun belum tahu faedah dan cara pemakaiannya serta program yang ada di dalamnya sama sekali tidak diperlukannya. Anak-anak sekolah pun mendesak orang tuanya membeli BB, desakan tersebut disertai ancaman; kalau tidak dibeli BB tidak mau sekolah lagi, atau tidak mau shalat lagi. Ketika musim BB mulai luntur dan HP Samsung mulai muncul, ramai-ramai pula menjual BB dan membeli Samsung sehingga banyak orang yang tidak mengutamakan apa yang mesti diutamakan dalam penggunaan uang gara-gara mengutamakan Samsung. Prilaku semacam itu dalam filosofi keacehan disebut lagèi lumö kap situek.
Ketika musim pemilu datang dan partai politik bermunculan satu persatu mulai sibuklah orang-orang tertentu karena diiming-iming oleh kuasa dan gaji anggota DPR yang luar biasa tingginya. Lalu orang berlomba-lomba mencalonkan diri menjadi anggota DPR lewat partai-partai tertentu dan mereka sama sekali tidak memperhitungkan apakah partai tersebut diterima atau tidak oleh masyarakat. Dan dia tidak pernah bercermin terhadap dirinya apakah layak dan bakal dipilih atau tidak oleh rakyat, karena pada musim tersebut secara beramai-ramai orang mencalonkan diri untuk anggota DPR, DPRA, DPRK dan DPD, maka iapun menghabiskan banyak duit untuk cetak spanduk, baliho, kartu nama dan seumpamanya dengan keyakinan yang amat yakin, besok pemilu lusa sudah menjadi anggota dewan. Dan dia puas hari hari melihat gambar dan fotonya terpampang di kota, di gampong dan di simpang-simpang jalan dengan baju jas, baju Aceh, baju ceureulop langa dan sebagainya. Kebiasaan-kebiasaan semacam itu dalam pemahaman orang Aceh disebut; lagèi lumö kap situek.
Suatu masa dahulu pada zaman rezim Orde Baru pimpinan Soeharto, orang-orang Aceh sangat payah lulus testing TNI atau Polri karena namanya mirip nama-nama nabi dan islami. Sebahagian orang Aceh yang ingin anaknya menjadi TNI atau Polri ketika besar nanti maka ia memberi nama anaknya mirip nama-nama orang Jawa, seperti; Supomo, Maryono, Yusmanto, Musyokolo dan seumpamanya. Berlomba-lombalah orang memberi nama anak yang bernuansa kejawaan tanpa memperhitungkan akibat dan mudharat yang bakal terjadi di kemudian hari, padahal nasib anaknya ada di tangan Allah.
Ketika konflik Aceh dengan Indonesia sangat memuncak dalam tahun 1998 sampai 2004 di mana pasukan Tentera Negara Aceh (TNA) hari-hari bertarung di hujung peluru dengan Tentera Nasional Indonesia (TNI) dan terjadi sweeping di mana-mana. Terjadilah apa yang tidak pernah diprediksikan orang-orang Aceh yang memberi nama anaknya dengan nama Jawa, ketika TNA merazia bus-bus di jalan raya mencari musuhnya, terdapatlah nama-nama Jawa yang dimiliki orang Aceh tadi, oleh TNA segera diturunkan dari bus untuk diperiksa dan kemudian ada yang dieksekusi, ditahan, disandera dan sebagainya. Pada waktu itu baru orang-orang Aceh menyesal memberi nama anaknya dengan nama-nama orang Jawa. Sudah tidak lulus menjadi anggota TNI/Polri malah tambah menjadi korban konflik lagi, itu semua terjadi karena menjadi korban lagèi lumö kap situek.
Maraknya demonstrasi sebahagian masyarakat Aceh baik yang anti maupun yang pro lembaga wali nanggroe, bendera dan lambang Aceh, yang mendukung dan menolak NKRI, yang pro atau yang kontra ALA/ABAS merupakan bahagian lain dari kategori lagèi lumö kap situek. Kenapa tidak? Kebanyakan yang terlibat di dalam konflik tersebut adalah sebahagian besar masyarakat awam yang menjadi korban politik masyarakat berpendidikan. Semestinya mereka hari-hari bekerja mencari rizki untuk anak bini tetapi sudah terprovokasi oleh orang-orang berdasi yang sedang mengerling tahta, mahkota dan keurusi.
Istiqamah
Sebaiknya dan semestinya seorang muslim yang meyakini seyakin-yakinnya terhadap eksistensi dan kekuasaan Allah ikuti saja jalur kehidupan sesuai kemampuan, sesuai kapasitas dan jangan mengharab hujan di langit air di belidi ditumpahkan. Allah telah tetapkan pintu rizki kepada hambanya sesuai dengan kemampuan dan kapasitas yang dimilikinya, kata orang Aceh: Meunyö hak sikai hän sicupak adak beurangkaho tajak cit ka öhnan kada (kalau jatah satu mud tidak akan dapat dua mud kemana kita pergi hanya segitu jatah kita).
Akibat dan efek dari lagèi lumö kap situek sering menjerumuskan umat manusia kelembah kehancuran dan malah kehinaan manakala orang-orang tersebut tidak mampu membaca kondisi dan situasi dari perbuatan yang ia lakukan. Yang demikian itu sering dialami oleh orang-orang yang sangat emosi dengan kedudukan tertentu atau orang-orang yang kurang kemampuan intelektualitasnya, namun ia berhasil dikompor (dipeucôhcôh) orang lain atas dasar kepentingan orang lain tersebut.
Untuk itu sebaiknya semua orang harus istiqamah dengan profesi yang tengah digeluti masing-masing untuk menghindari kehancuran diri dan harta benda karena melakukan perbuatan secara ikut-ikutan yang tidak ada perhitungan yang lebih matang. Suatu masa dahulu ketika udang windu mahal harganya di Aceh dan petani tambak ikan meraup keuntungan yang sangat amat luar biasa dari hasil peliharaan udang windunya, banyak pedagang kelontong, pedagang emas dan pedagang lainnya ikut-ikutan memelihara udang windu dengan menyewa tambak orang. Apa yang terjadi kemudian adalah; karena dia tidak ada kemahiran dalam bidang pemeliharaan udang tersebut dan kemahiran dia dalam bidang jualan kelontong dan emas, maka tambak udang windunya rusak, udangnya mati, kedai yang sedang ia berjualan terpaksa tutup karena kehabisan modal yang terlanjur dipasok kekolam udang windu, belum cukup di situ ia terjerat hutang karena terpicu dengan kebiasaan lagèi lumö kap situek.
Rasulullah saw pernah bersabda, yang artinya: “Serahkanlah urusan tertentu itu kepada ahlinya (orang yang mahir tentang urusan tersebut). Karenanya yang tidak memiliki kemahiran tentang sesuatu perkara maka janganlah melakukannya sebelum mempelajarinya dengan mantap dan mendalam. Yang belum cukup ilmu dan kapasitas melakukan sesuatu perbuatan maka perdalamlah terlebih dahulu ilmu tersebut sebelum mencemplungkan diri kedalam pekerjaan tersebut. Kehidupan manusia sering sekali dihayun oleh perasaan nyenyak sehingga cenderung menjurus kepada penipuan, dalam bahasa Aceh disebut “dipeungeut le nyum” (ditipu oleh perasaan). Sesuatu yang kita rasakan akan memperoleh keuntungan tetapi kita tidak mengukur kemampuan yang ada, sehingga sering menjurus kelembah “dipeungeut le nyum”.
Perbuatan yang tidak disertai oleh perhitungan matang dengan anggapan; karena tidak ada kerja apa-apa maka lebih baik bergabung saja ke semberangan kerja dengan alasan sudah banyak orang bergabung ke sana. Pemikiran dan anggapan seperti itu yang dikatakan; lagèi lumö kap situek. Karena merasa-rasa dengan kerendahan ilmu sudah banyak orang yang bergabung ke sana dan daripada tidak punya kerja samasekali maka lebih baik bergabung saja dengan mereka agar mendapat keuntungan walaupun hujung-hujungnya nanti sial dan kerugian besar yang didapatinya. Sikap semacam itu dalam filosofi keacehan disebut; “dipeungeut le nyum”. Antara istilah lagèi lumö kap situek“ dengan dipeungeut le nyum” memiliki ikatan singkonisasi yang saling mendukung dalam perpaduan sebuah kerja yang cenderung sering merugikan sipelaku kerja itu sendiri. Wallahu a’lam. (diadanna@yahoo.com)

0 facebook:
Post a Comment