Oleh: Syahrati, S.HI., M.Si.
Penyuluh Agama Islam Kab. Bireuen
"Al-insan madani bi al-tab'"—manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang hidup bermasyarakat. Demikian gagasan besar Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah. Baginya, kehidupan bersama bukan sekadar pilihan, melainkan fitrah manusia. Tidak ada seorang pun yang mampu memenuhi seluruh kebutuhannya seorang diri. Peradaban lahir karena manusia saling membutuhkan dan saling menguatkan.Ironisnya, di tengah meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental, berkembang pula kecenderungan yang memaknai ketenangan sebagai menjauh dari manusia. Media sosial hampir setiap hari dipenuhi nasihat untuk mengurangi pergaulan atau memilih kesendirian demi kedamaian batin, seolah semakin sedikit berinteraksi, semakin sehat pula kondisi mental seseorang.
Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental patut diapresiasi. Namun pertanyaannya, benarkah solusi terbaik adalah mengurangi hubungan dengan sesama manusia? Fenomena ini bahkan mulai merambah desa-desa yang dahulu dikenal dengan tradisi gotong royong. Tetangga semakin jarang saling berkunjung, musyawarah kehilangan kehangatannya, dan interaksi sosial dipandang sebagai sumber kelelahan, bukan ruang bertumbuh bersama. Jika dibiarkan, yang terancam bukan hanya kualitas hubungan antarmanusia, tetapi ketahanan sosial itu sendiri.
Ketangguhan, Bukan Kehidupan Steril
Islam tidak menutup mata terhadap kenyataan bahwa hidup bersama manusia tidak selalu mudah. Perbedaan pendapat, kritik, bahkan perlakuan yang menyakitkan adalah bagian dari dinamika kehidupan. Namun Islam tidak menjadikan itu alasan untuk mengasingkan diri. Sebaliknya, Islam membentuk pribadi yang mampu menghadapi keragaman karakter manusia dengan kesabaran dan kematangan akhlak.
Rasulullah saw. bersabda: "Mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka." (HR. Ibnu Majah No. 4032, Ahmad No. 5022, dan Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad No. 388, dari Ibnu Umar RA; dinilai hasan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani)
Rasulullah saw. tidak mengatakan bahwa kehidupan sosial akan selalu menyenangkan. Beliau justru mengakui adanya gangguan dalam interaksi antarmanusia. Yang dipuji bukan mereka yang berhasil menghindarinya, melainkan mereka yang tetap hadir dengan kesabaran. Di sinilah Islam membedakan antara mencari kenyamanan dan membangun ketangguhan. Kenyamanan bergantung pada lingkungan, sedangkan ketangguhan bertumpu pada kualitas jiwa.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menjelaskan bahwa kehidupan bermasyarakat adalah medan pendidikan akhlak. Seseorang tidak akan mengetahui kadar kesabarannya jika tidak pernah disakiti, dan tidak akan belajar rendah hati jika tidak pernah berhadapan dengan perbedaan. Imam Asy-Syafi'i pun berkata bahwa bergaul dengan manusia akan menambah kesabaran seseorang.
Bukankah Al-Qur'an juga memuji orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain (QS Ali Imran: 134)? Ayat ini menunjukkan bahwa akhlak mulia tumbuh justru di tengah interaksi dengan manusia yang beragam sifatnya, bukan di ruang yang steril dari konflik.
Ketika Self-Care Disalahpahami
Menjaga kesehatan mental bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam. Islam bahkan mengajarkan umatnya menjauhi kezaliman dan lingkungan yang merusak agama maupun keselamatan diri. Dalam hubungan yang penuh kekerasan atau manipulasi, menjaga jarak adalah langkah bijaksana. Beristirahat sejenak dari tekanan sosial pun bukan sesuatu yang tercela, selama itu dijadikan jeda untuk memulihkan diri, bukan alasan untuk menutup diri selamanya dari masyarakat.
Namun yang patut dicermati adalah ketika pesan itu berubah menjadi budaya yang menganggap setiap ketidaknyamanan sosial sebagai alasan untuk menarik diri. Perbedaan pendapat dengan mudah dilabeli toxic, kritik dipandang sebagai ancaman, dan hubungan yang seharusnya diperbaiki melalui dialog justru diakhiri begitu saja.
Psikologi modern sendiri tidak pernah mengajarkan bahwa kesendirian adalah solusi bagi semua persoalan. Dukungan sosial justru merupakan salah satu faktor pelindung terpenting bagi kesehatan mental. Manusia tidak hanya membutuhkan ketenangan batin, tetapi juga membutuhkan manusia lain.
Di sinilah Islam menawarkan perspektif yang lebih utuh. Islam tidak hanya mengajarkan cara mengurangi tekanan, tetapi juga membentuk pribadi yang mampu menghadapinya. Sabar, syukur, tawakal, husnuzan, memaafkan, dan menjaga silaturahmi bukan sekadar ajaran moral, melainkan proses membangun resiliensi, yaitu kemampuan tetap kokoh ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan.
Rasulullah saw. adalah teladan terbaik dalam hal ini. Beliau menghadapi penghinaan, fitnah, hingga kekerasan fisik, namun tidak membangun zona nyaman yang terpisah dari masyarakat. Beliau hadir di tengah umat, mendamaikan perselisihan, dan memaafkan ketika memiliki kekuatan untuk membalas. Ketangguhan beliau lahir karena hati beliau dibentuk oleh wahyu, bukan karena dunia memperlakukannya dengan lembut.
Membangun Jiwa, Merawat Peradaban
Ketenangan sejati tidak selalu lahir karena dunia menjadi lebih nyaman. Sering kali, ketenangan justru hadir ketika hati menjadi lebih matang menghadapi dunia. Islam tidak mengajarkan umatnya hidup steril dari manusia, melainkan hidup bersama manusia dengan akhlak yang mulia. Ukuran kematangan seseorang bukanlah kemampuannya menghindari orang-orang yang sulit, melainkan kemampuannya tetap adil dan bermanfaat di tengah keberagaman karakter manusia—sejauh kondisi jiwanya memang mampu untuk itu.
Barangkali yang perlu kita kurangi bukanlah pergaulan, melainkan ego. Yang perlu kita jauhi bukanlah manusia, melainkan prasangka dan akhlak buruk dalam diri kita sendiri. Kesehatan mental dan ajaran Islam sesungguhnya berjalan menuju tujuan yang sama, yaitu membentuk manusia yang utuh dan ketika jiwa yang kuat itu kembali hadir di tengah tetangga yang jarang bertegur sapa, di sanalah kesehatan mental dan ketahanan sosial tumbuh bersama, dan peradaban pun ikut terjaga.

0 facebook:
Post a Comment