LAMURIONLINE.COM I ACEH BESAR
– Semangat mewujudkan swasembada pangan nasional tidak hanya lahir dari kebijakan pemerintah, tetapi juga dari kerja keras para petani di lapangan. Di tengah tantangan musim kemarau dan keterbatasan sumber air, perempuan tani di Kabupaten Aceh Besar tetap menunjukkan ketangguhan dalam menjaga produktivitas lahan demi memenuhi kebutuhan pangan keluarga dan mendukung ketahanan pangan nasional.

Salah satu sosok inspiratif tersebut adalah Nurmawati (60), petani asal Desa Lamreh, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar. Dengan penuh semangat, ia tetap mengolah sawah meski harus menghadapi berbagai kendala, terutama keterbatasan pasokan air untuk irigasi.

Menurut Nurmawati, untuk dapat mengairi sawahnya, ia harus memompa air dari saluran yang lokasinya cukup jauh dengan biaya yang tidak sedikit.

"Untuk pompanisasi air dari saluran yang jauh di sana saya harus membayar sekitar Rp200.000,"* ujar Nurmawati saat ditemui di areal persawahan, Kamis.

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, semangatnya untuk terus menanam padi tidak pernah surut. Baginya, bertani merupakan sumber penghidupan utama bagi keluarga sekaligus bentuk kontribusi nyata dalam menjaga ketersediaan pangan.

Nurmawati menjelaskan bahwa lahan di wilayahnya tidak selalu memperoleh izin tanam pada setiap musim tanam gadu (ruweung). Namun demikian, para petani tetap berupaya memanfaatkan sumber daya air yang tersedia agar lahan tetap produktif.

"Kami memang tidak ada izin tanam setiap musim tanam ruweung, tetapi kami terus didampingi oleh Penyuluh Pertanian Kementerian Pertanian agar memanfaatkan air yang ada di saluran pembuang untuk menanam padi," katanya.

Pendampingan tersebut merupakan bagian dari komitmen Kementerian Pertanian Republik Indonesia melalui Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui peningkatan luas tambah tanam (LTT) dan optimalisasi lahan pertanian.

Penyuluh Pertanian Lapangan, Khaidir, mengatakan bahwa pemerintah terus hadir memberikan pendampingan kepada petani, baik melalui program bantuan maupun penguatan sarana dan prasarana pertanian.

"Ada beberapa program dari Kementerian Pertanian yang sedang kami dampingi, mulai dari pembagian benih padi, rehabilitasi saluran irigasi, pembangunan saluran baru hingga pengajuan bantuan irigasi perpompaan untuk mendukung kebutuhan sarana dan prasarana petani," jelas Khaidir.

Ia menambahkan, peran penyuluh tidak hanya sebatas menyalurkan program pemerintah, tetapi juga memberikan solusi teknis agar petani tetap dapat bercocok tanam di tengah kondisi cuaca yang semakin tidak menentu.

Kisah Nurmawati menjadi gambaran bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam pembangunan sektor pertanian. Ketangguhan mereka menjaga sawah di tengah keterbatasan merupakan fondasi penting bagi terwujudnya ketahanan pangan, bahkan menjadi bagian dari upaya besar menuju swasembada pangan nasional sebagaimana menjadi prioritas Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Dari hamparan sawah Desa Lamreh, semangat para perempuan tani terus tumbuh. Dengan kerja keras, ketekunan, dan pendampingan berkelanjutan dari penyuluh pertanian, mereka membuktikan bahwa ketahanan pangan nasional sesungguhnya dimulai dari tangan-tangan tangguh yang setiap hari menjaga kehidupan melalui sepetak sawah.*

SHARE :

0 facebook:

 
Top