Oleh: Juariah Anzib, S.Ag
Penulis Buku “Wakaf di Aceh: Tradisi, Inovasi, dan Keberkahan”
Dakwah sekarang ini hadir dalam beragam bentuk dan media. dakwah tidak lagi terbatas di mimbar masjid atau majelis pengajian. Perkembangan teknologi membuka ruang yang luas bagi umat mengakses siraman rohani kapan saja dan di mana saja. Berbagai platform digital hingga media konvensional tetap memainkan peran dalam menyampaikan nilai-nilai Islam kepada masyarakat.
Salah satu media dakwah yang tetap bertahan dan relevan adalah radio. Di Aceh, Radio Baiturrahman pada frekuensi 98,5 FM merupakan salah satu rujukan masyarakat dalam mendapatkan informasi syariat Islam dan dakwah islamiyah.
Dalam Perbincangan Sabtu Pagi, 19 Juli 2026, Pimpinan Redaksi Gema Baiturrahman, Juniazi Yahya, menyampaikan bahwa Radio Baiturrahman telah hadir sejak era 1970-an. Radio ini merupakan salah satu radio tertua di Aceh yang menjadi kebanggaan masyarakat.
Perjalanan panjang selama puluhan tahun menjadikan Radio Baiturrahman sebagai media yang sarat pengalaman dan konsistensi. Berbasis di Masjid Raya Baiturrahman, radio ini tetap eksis dan bertahan di tengah gempuran media modern. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Aceh masih membutuhkan kehadirannya sebagai media dakwah.
Di tengah arus digitalisasi yang semakin pesat, Radio Baiturrahman tidak tinggal diam. Transformasi dilakukan dengan menghadirkan siaran melalui berbagai platform digital seperti Facebook, Instagram, dan media daring lainnya. Langkah ini memungkinkan dakwah menjangkau audiens yang lebih luas, terutama generasi muda yang lebih akrab dengan perangkat smartphone.
Memang tidak dapat dipungkiri, budaya mendengarkan radio konvensional mulai mengalami pergeseran. Masyarakat lebih memilih media yang praktis dan mudah diakses. Namun demikian, Radio Baiturrahman tetap memiliki tempat tersendiri di hati pendengarnya, terutama karena konten dakwahnya yang khas.
Sebagai aset masjid, Radio Baiturrahman tidak sekadar media penyiaran, tetapi juga simbol komitmen dakwah berkemajuan. Di tengah dominasi media berbasis bisnis, radio ini tetap bertahan dengan mengedepankan nilai keikhlasan dan pengabdian. Pendanaannya pun sederhana, mengandalkan donasi dan iklan terbatas, tanpa menggeser orientasi utamanya sebagai media dakwah.
Transformasi dari sistem analog menuju digital menjadi keniscayaan. Hal ini agar kualitas siaran tetap terjaga dan mampu mengikuti perkembangan zaman. Dengan semangat “sekali mengudara insya Allah tetap di udara”, Radio Baiturrahman terus berupaya menyampaikan dakwah dan informasi aktual dan akurat.
Direktur Radio Baiturrahman, Saiful A. Bakar menegaskan, keikhlasan merupakan landasan dalam operasional radio ini. Para penyiar bekerja secara sukarela dengan penuh dedikasi. Mereka menghadirkan program-program bernuansa islami, seperti pengajian menjelang waktu shalat, lantunan azan yang terjadwal, dan siaran yang menguatkan suasana syariat Islam.
Keunikan lainnya, Radio Baiturrahman sering dijadikan rujukan masyarakat dalam memastikan masuknya waktu salat. Gema azan yang disiarkan menjadi penanda yang dipercaya. Selain itu, radio ini juga menjaga integritas dengan menyajikan informasi yang bebas dari hoaks dan berita menyesatkan.
Hasil survei yang dilakukan oleh mahasiswa UIN Ar-Raniry menunjukkan, Radio Baiturrahman memiliki jumlah pendengar signifikan. Meski tidak menonjolkan hiburan populer dan lebih banyak memutar nasyid dan kasidah, radio ini tetap diminati karena kekuatan konten dakwahnya.
Kita berharap masyarakat terus mendukung dan mendengarkan siaran Radio Baiturrahman sebagai sumber inspirasi dan pembinaan spiritual. Dukungan pemerintah juga sangat diperlukan agar radio tertua ini dapat terus bertahan dan berkembang di tengah persaingan media.
Semoga Radio Baiturrahman tetap mengudara sepanjang masa, menyampaikan dakwah, informasi, serta nilai-nilai Islam kepada umat. Sebuah media yang tidak hanya hidup, tetapi juga menghidupkan, menjadi referensi dakwah yang terpercaya di tengah-tengah umat.*

0 facebook:
Post a Comment