Oleh: Muhibuddin Hanafiah

Akademisi Kopelma Darussalam  

Sampai kapan penghargaan terhadap istri dan anak perempuan yang sepantasnya saja dalam budaya kita menjadi lebih baik, layak, benar dan waras? Mengapa perempuan khususnya yang berstatus sebagai istri dan anak kerap mendapatkan penghinaan dan pelebelan yang tidak pantas dari masyarakat? Ada banyak contoh kasus yang terjadi dalam kehidupan keseharian yang menggambarkan ketimpangan keadaan ini. 

Berikut ini ilustrasi ketimpangan itu; seorang bapak singgah di pasar ikan dan kemudian membeli sejenis ikan kesukaan istri dan anak-anaknya di rumah. Laki-laki penjual ikan menawarkan untuk menyiangi ikan tersebut, namun sang bapak menolaknya karena biar di rumah saja nanti dikerjakan sendiri. Lalu laki-laki penjual ikan itu mengatakan, “Oh iya berarti istri bapak nanti yang kerjakan supaya kebagian lelahnya.” 

Bapak pembeli ikan langsung membantah pernyataan laki-laki sang penjual ikan; “Bukan dan sama sekali tidak, nanti saya sendiri yang membersihkan ikan ini dan saya juga yang akan memasaknya.” Laki-laki penjual ikan bukan kepalang terkejut. Belum pernah ditemukan pelanggannya yang “aneh” seperti ini. Dalam batinnya mengatakan, “Ini seorang bapak yang tidak punya harga diri, masih mau diperbudak oleh istrinya.” 

Demikian contoh kasus betapa rendahnya posisi seorang istri, lebih rendah dari seorang pembantu yang pekerjaan domestiknya dari A sampai Z harus dikerjakan sendiri tanpa boleh berbagi tugas dengan suami dan anak-anaknya. Dalam budaya kita seakan suami tabu atau tidak pantas mengerjakan rutinitas domestik seperti berbelanja, memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah, serta melayani istri dan anak-anak mereka. Seakan semua pekerjaan dalam rumah tangga itu kewajiban kaum perempuan (istri atau anak perempuan) yang menyelesaikannya. Laki-laki di rumah adalah raja yang mesti dilayani A sampai Z. 

Akibat dari ketimpangan budaya yang terus menerus dirawat ni, laki-laki (suami dan anak laki-laki) mengambil posisi sebagai penerima layanan penuh tanpa ada rasa tanggungjawabnya sedikitpun. Nah ketika ada laki-laki yang menolak dan melawan hukum rimba tradisional i seperti bapak pembeli ikan di atas, akan mendapatkan label negatif di pandangan masyarakat yang telah terpapar sangat parah seperti laki-laki penjual di atas.

Ilustrasi kejadian serupa berikut ini semakin memberikan penguatan bahwa budaya kita sedang menemui ketidakwarasannya. Alkisah seorang bapak singgah ke toko sayuran dan rempah-rempah dapur. Di sana sudah ada juga emak-emak yang belanja kebutuhan dapur. Salah seorang ibu muda sedang sibuk memilih dan mensortir buah tomat agar tidak terambil yang kurang matang. 

Sambil ngerumpi sesamanya pandangan mata mereka tertuju pada  seorang bapak yang sendirian masuk ke toko sayur itu. Emak-emak tadi langsung sewot sendiri. Sambil nyelutuk dan memonyongkan mulutnya ke arah sang bapak, salah seorang diantara mereka berkata: “Aneh kok ada laki-laki yang mau dibodohin istrinya”. Maksud si emak kira-kira kenapa ada laki-laki mau berbelanja untuk kebutuhan rumahnya, bukankah itu tugas si istri seperti mereka. Jadi kita dapat menilai bahwa bukan hanya kaum laki-laki saja yang memojokkan perempuan, justru sesama perempuan sendiri juga ikut merendahkan diri mereka sendiri.

Ada apa dengan budaya kita yang sangat partiarkhi ini? Padahal kita mengakui diri sebagai Muslim yang ajarannya sangat memuliakan perempuan, menjaga dan memastikan terwujudnya keseimbangan kedudukan antara kaum laki-laki dan perempuan. Keduanya saling bekerjasama dalam kebaikan dan bahkan tidak mengenal adannya pembagian wilayah kerja yang terasa kaku, seperti kaum perempuan bekerja di ranah domestik sedangkan kaum laki-laki menguasai ranah publik.  

Bukankah sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa Siti Khadijah r.a, istri Rasulullah saw adalah seorang entrepreneur sukses di zamannya, lalu mengapa kita masih latah dan ambigu dengan budaya jahiliyah.

Editor: Sayed M. Husen

SHARE :
Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 facebook:

 
Top