Oleh: Muhibuddin Hanafiah
Kehidupan masyarakat Aceh akhir-akhir ini telah kehilangan arah, seumpama bahtera di lautan yang diombang-ambing badai sehingga kehilangan arah dan tujuan. Bahkan bahtera itu telah pecah, dan bagian-bagian utamanya menjadi terpilah-pilah dan akhirnya masing-masing bagian itu hanyut dibawa gelombang. Demikian mungkin tamsil yang tepat untuk kondisi Aceh hari ini. Kini masing-masing pilar utama itu berjalan sendiri-sendiri. Pemimpin sibuk sendiri, ulama dan cendekia asyik sendiri, rakyat apoh apah sendiri. Rakyat tidak ada yang mempedulikan, tidak ada yang menyokong, tidak ada yang menghiraukan, tidak ada yang mau menoleh.Pemimpin semakin rakus, pamer kekuasaan, tidak lagi berpegang pada amanah, planga-plongo di media sosial, tidak ada lagi yang mengingatkan, memberi arah untuk memegang amanah dengan benar.Ulama dan cendekia sebagai harapan justru sedang bersekongkol bersama. Rakyat berfikir sendiri dan bertindak sendiri tanpa ada yang patut diharapkan. Bila rumah rakyat rusak silakan buat sendiri, bila jembatan dan jalan rusak silakan cari donasi dan bangun sendiri, bila mata pencaharian hilang, juga harus mikir sendiri. Sementara pemimpin, ulama dan cendekia sibuk menjaga kepentingannya sendiri, ulama menjaga tumpoknya sendiri, dan rakyat meratapi kemelaratannya sendiri.Lalu satu soal jika ditanyai orang, sejak kapan tatanan masyarakat Aceh menjadi centang perenang seperti sekarang ini? Jawabannya bisa beragam, tergantung siapa yang menjawabnya. Jika ditanya kepada saya, maka saya kira sejak masing-masing pilar penopang kehidupan masyarakat Aceh “tuli” terhadap posisi dan amanahnya masing-masing. Padahal pemimpin telah jelas posisinya sebagai apa dan harus bagaimana, demikian juga poros ulama dan cendekia telah klir harus berbuat apa dan bagamaiman caranya terhadap penguasa. Penguasa itu pihak yang melaksanakan amanah rakyat, ulama dan cendekia itu sebagai penasehat dan pengawas penguasa untuk memastikan amanah itu sampai ke rakyat yang paling jelata. Bila posisi ini ditinggalkan oleh ulama dan cendekia maka penguasa bisa berleha-leha, ketawa-ketawa dan mengabaikan amanahnya, tidak tahu mau berbuat apa disaat rakyat semakin menderita. Saat inilah tatanan kehidupan masyarakat Aceh mulai kehilangan arah dan tanpa kendali. Pemimpin terombang-ambing, rakyat apalagi lagi, sebab ulama dan cendekia sudah tidak peduli karena khawatir posisinya dikebiri.
Lihatlah belapa ulama dan cendekia telah melebur diri dalam barisan penguasa. Namun mereka bukan dalam rangka melaksanakan amanah rakyat, fungsi kontrol dan penyeimbang kekuasaan. Melainkan mereka sedang memperjuangkan kepentingannya sendiri berupa proferti pribadi, namun jahilnya mengatasnamakan demi kemashlahatan umat atau masyarakat. Mereka mencari cuan sehingga butuh kemesraan dengan penguasa. Salahpun kebijakan penguasa dalam mengemban amanah rakyat tidak menjadi soal, karena yang penting cuan dari penguasa lancar mengalir untuknya. Penguasa tidak ada yang kontrol, justru bertepuk tangan dan bersorak bersama secara berjama’ah lantaran anggaran selalu terpenuhi. Kepada siapa lagi ditakuti atau disegani oleh penguasa, tidak ada lagi. Sebab ulama telah kehilangan gezah dan kharismanya sehingga tidak perlu ditakutkan lagi. Cendekia telah kehilangan pikiran waras dan daya kritisnya terhadap penguasa sehingga bisa cuek saja. Keduanya telah menjadi macan ompong yang tidak berdaya lantaran telah menjadi peliharaan penguasa di istana yang serba ada.
Apa solusinya agar Aceh kembali ke khittah kejayaannya? Menurut saya yang awam ini sederhana saja, yaitu kembalikan marwah masing-masing pilar tersebut melalui berpegang teguh pada tupoksinya dan tanggungjawabnya masing-masing. Ulama dan cendekia sudah saatnya melepaskan diri dan bertaubat dari perselingkannya dengan penguasa. Jaga jarak dengan penguasa, bila benar kebijakannya berikan dukungan dan bila salah kritik dan sampaikan arahan supaya dia kembali ke jalurnya yang benar. Ulama dan cendekia harus berwibawa di hadapan penguasa. Caranya jaga independensi di depan mereka, jangan mau dimanfaatkan untuk bekerjasama dalam mencabuli hak rakyat. Ulama berdiri pada posisinya dengan penuh kharisma dan kewibaan disebabkan bukan bagian pelaku kebijakan. Cendekia tegak di atas pemikirannya yang waras dan logis saat mengontrol kerja penguasa. Saat itu, penguasa merasa ada yang mengawasi, menjaga dan memastikan kekuasaannya berada pada amanah dan kepercayaan rakyat.
Penulis adalah Akademisi Darussalam

0 facebook:
Post a Comment