Oleh: Muhibuddin Hanafiah
Akademisi UIN Ar-Raniry Banda Aceh
Menurut orang Aceh, memperingati Maulid Nabi Muhammad saw bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bagian dari ekspresi keislaman dan kebudayaan yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Dalam kosmologi masyarakat Aceh, hari kelahiran Rasulullah saw memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Kecintaan kepada Rasulullah ditanamkan melalui tradisi, tutur kata, pendidikan keluarga, serta praktik kehidupan sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Begitu kuatnya tradisi tersebut, persiapan untuk kenduri Maulid bahkan dilakukan jauh-jauh hari. Setahun sebelumnya, berbagai kebutuhan telah dipersiapkan dan disimpan secara khusus. Beras pilihan disimpan beberapa karung. Ayam dan bebek dipelihara sejak kecil. Pisang, semangka, jeruk bali, jambu, serta berbagai hasil kebun lainnya tidak boleh dipetik sembarangan karena telah diniatkan untuk kenduri Maulid.
Begitulah masyarakat Aceh menyambut kelahiran Rasulullah saw: dengan hati penuh cinta, sukacita, penghormatan, sekaligus persiapan yang maksimal. Tidak mengherankan jika dikenal ungkapan, “Nyoe bek kacok, cok keunuek khauri keu Pang Ulee”. Ini jangan diambil, akan dikendurikan untuk Pang Ulee.
Dalam terminologi masyarakat Aceh, Pang Ulee merupakan sebutan penuh penghormatan kepada Rasulullah Muhammad saw. Secara harfiah, istilah tersebut bermakna penghulu atau pemimpin. Ia menggambarkan kedudukan Nabi Muhammad saw sebagai penghulu para nabi dan rasul sekaligus nabi terakhir yang diutus Allah Swt hingga akhir zaman.
Namun, kenduri Maulid sesungguhnya tidak berarti mempersembahkan makanan secara fisik kepada Rasulullah saw. Hidangan yang telah diniatkan dalam rangka memperingati Maulid itu pada akhirnya dinikmati oleh masyarakat, jamaah, tamu undangan, fakir miskin, anak yatim, serta berbagai lapisan masyarakat lainnya.
Di sini pula letak pentingnya memahami makna di balik tradisi. Kenduri bukan tujuan akhir. Maulid merupakan sarana menghidupkan rasa cinta kepada Rasulullah saw, memperkuat silaturahmi, menumbuhkan kepedulian sosial, serta mengingat kembali perjuangan dan keteladanan beliau.
Persoalannya, kita tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang ada di dalam hati setiap orang yang hadir. Apakah mereka datang karena kecintaan kepada Rasulullah saw, memenuhi undangan, bersilaturahmi, atau sekadar menikmati hidangan yang tersedia. Bisa jadi, bagi sebagian orang, kelezatan makanan lebih dominan dalam pikiran daripada pesan dan keteladanan Rasulullah.
Tetapi soal kedalaman niat dan hati manusia bukanlah wilayah kita. Allah Swt lah yang paling mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati hamba-Nya. Yang terpenting bagaimana orang yang menyiapkan kenduri menjaga keikhlasan niatnya dan menjadikan seluruh rangkaian peringatan Maulid sebagai kesempatan untuk semakin mencintai Rasulullah saw dan mengikuti sunnahnya.
Karena itu, tradisi Maulid patut disyukuri dan terus dipelihara. Namun, Maulid tidak boleh berhenti pada seremoni. Maulid harus bergerak dari sekadar perayaan menuju gerakan perubahan.
Menuju Kepedulian Sosial
Jika Maulid merupakan ekspresi cinta kepada Rasulullah saw, maka cinta itu semestinya memiliki konsekuensi sosial. Rasulullah saw adalah teladan dalam menyantuni kaum lemah, membela orang-orang yang terpinggirkan, membangun persaudaraan, mengangkat martabat manusia, serta menghadirkan keadilan di tengah masyarakat.
Karena itu, kaum mustadh'afin, anak yatim, fakir miskin, korban bencana, korban pemutusan hubungan kerja, keluarga rentan, serta kelompok masyarakat yang membutuhkan, semestinya mendapatkan perhatian lebih besar dalam momentum Maulid.
Kenduri Maulid akan jauh lebih bermakna apabila sebagian energi dan sumber daya yang dihimpun untuk perayaan juga diarahkan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Maulid dapat menjadi momentum berbagi pangan, santunan anak yatim, pemberdayaan ekonomi keluarga miskin, bantuan pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga penguatan usaha mikro masyarakat.
Dengan demikian, Maulid tidak hanya menyajikan makanan di atas meja, tetapi juga menghadirkan harapan bagi mereka yang sedang berada dalam kesulitan.
Gerakan Pendidikan
Maulid juga harus menjadi momentum pendidikan umat. Ceramah, zikir, shalawat, pembacaan sejarah Nabi, dan berbagai kegiatan keagamaan hendaknya tidak hanya berlangsung sebagai rutinitas tahunan. Semuanya harus diarahkan untuk membangun pemahaman tentang bagaimana Rasulullah saw membentuk manusia dan masyarakat.
Terutama bagi generasi muda (Gen Z dan Gen Alpha) Maulid harus dikemas dengan pendekatan yang sesuai dengan dunia mereka. Sejarah Rasulullah saw perlu disampaikan bukan hanya sebagai cerita masa lalu, tetapi sebagai sumber inspirasi untuk menghadapi persoalan masa kini dan masa depan.
Mereka perlu memahami bahwa kehadiran Rasulullah saw merupakan momentum revolusioner dalam sejarah manusia. Rasulullah tidak hanya mengajarkan ritual ibadah, tetapi juga mengubah cara manusia memandang kehidupan, ilmu pengetahuan, keadilan, persaudaraan, ekonomi, kepemimpinan, serta martabat kemanusiaan.
Al-Qur'an menggambarkan umat Islam sebagai khairu ummah, umat terbaik yang memiliki tanggung jawab sosial untuk menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah Swt. Allah juga menyebut umat Islam sebagai ummatan wasathan, umat pertengahan yang memiliki tanggung jawab menghadirkan keseimbangan dan menjadi saksi bagi manusia.
Karena itu, kecintaan kepada Rasulullah saw tidak cukup diucapkan melalui shalawat dan pujian, namun harus diwujudkan dalam perilaku, kerja keras, kejujuran, keadilan, kepedulian, penguasaan ilmu, dan keberanian memperbaiki kehidupan.
Menuju Revolusi Peradaban
Maulid mestinya menemukan makna yang lebih dalam. Perayaan kelahiran Rasulullah saw harus menjadi momentum untuk mengevaluasi diri: sudah sejauh mana kita mengikuti akhlak dan perjuangan beliau? Jika setelah Maulid kita masih mudah berdusta, melakukan korupsi, menzalimi orang lain, merendahkan kaum lemah, menyebarkan fitnah, bermusuhan karena kepentingan duniawi, dan tidak peduli terhadap penderitaan sesama, maka ada sesuatu yang perlu kita koreksi dalam cara kita memaknai Maulid.
Rasulullah saw bersabda bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. Maka ukuran keberhasilan Maulid tidak semata-mata seberapa meriah acaranya, seberapa banyak hidangan yang disediakan, atau seberapa banyak orang yang hadir. Ukuran yang lebih penting adalah apakah setelah Maulid terjadi perubahan akhlak dan perilaku.
Maulid harus mampu mewujudkan manusia yang lebih jujur, lebih peduli, lebih berilmu, lebih produktif, lebih mandiri, dan lebih bertanggung jawab terhadap masyarakat.
Bagi generasi muda Aceh, semangat itu harus diterjemahkan menjadi keberanian mengubah sejarah. Mereka tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan zaman. Mereka harus menjadi pelaku perubahan dengan ilmu, iman, akhlak, kreativitas, teknologi, kewirausahaan, dan kepedulian sosial.
Aceh memiliki sejarah panjang sebagai masyarakat yang menjadikan Islam sebagai landasan kehidupan. Karena itu, tradisi Maulid semestinya menjadi salah satu kekuatan budaya membangun kembali etos keilmuan, kepedulian sosial, kemandirian ekonomi, dan kepemimpinan umat.
Dengan demikian, Maulid tidak berhenti sebagai seremoni yang datang dan pergi setiap tahun. Maulid harus menjadi energi perubahan yang terus hidup setelah lampu acara dipadamkan, setelah hidangan kenduri habis disantap, dan setelah jamaah meninggalkan tempat perayaan.
Maulid sejatinya bukan hanya tentang memperingati hari kelahiran Rasulullah saw, tetapi tentang melahirkan kembali semangat kerasulan dalam kehidupan kita.
Dari kenduri menuju kepedulian. Dari shalawat menuju keteladanan. Dari peringatan menuju perubahan. Dan dari seremoni menuju revolusi peradaban.
Semoga Maulid Nabi Muhammad saw tidak hanya membuat kita semakin mengenang Rasulullah, tetapi juga semakin mampu menghadirkan akhlak, rahmat, keadilan, ilmu, dan kemaslahatan yang beliau ajarkan dalam kehidupan umat dan bangsa.
Editor: Sayed M. Husen

0 facebook:
Post a Comment