Oleh: Syahrati,S.HI., M. Si.

Penyuluh Agama Islam Bireuen

Tidak semua ujian iman datang dalam bentuk kesedihan. Ada ujian yang justru hadir melalui kebahagiaan orang lain. Ketika seseorang memperoleh sesuatu yang juga kita impikan, hati kita sedang diuji: lapang atau sempit, ridha atau dipenuhi perbandingan. Ujian semacam ini sering tidak disadari. Kita mungkin tidak mengucapkan apa apa, tetapi hati terasa berat. Sulit benar benar ikut bahagia. Ada kegundahan yang halus, bahkan mungkin muncul harapan agar keadaan berbeda. Perasaan seperti ini kerap dianggap wajar, padahal justru pada titik itulah keimanan seseorang mulai rapuh.

Rasulullah Saw. bersabda: "Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa keimanan tidak cukup diukur dari ibadah personal saja. Ia juga tampak dari sikap hati dalam kehidupan sosial. Mencintai kebaikan untuk orang lain bukan sekadar ucapan, melainkan kemampuan untuk benar benar ikut bahagia ketika orang lain memperoleh nikmat yang juga kita dambakan.

Yang sering luput disadari: sikap sempit terhadap kebahagiaan orang lain bukan sekadar kekurangan akhlak. Ia berpotensi masuk kategori dosa besar yang selama ini diremehkan, terjadi diam diam di dalam hati, tidak terlihat, dan mudah dianggap manusiawi. Namun ketika Nabi Saw. memakai redaksi "tidak beriman", ini menunjukkan bahwa perkara tersebut menyentuh langsung kualitas keimanan seseorang, bukan sekadar etika sosial biasa.

Para ulama, di antaranya Imam Adz Dzahabi dalam Al Kaba'ir dan Ibnu Hajar al Haitami dalam Az Zawajir 'an Iqtiraf al Kaba'ir, menjelaskan beberapa tanda suatu perbuatan tergolong dosa besar: adanya ancaman neraka, adanya laknat dari Allah atau Rasul-Nya, dan adanya redaksi penafikan iman seperti "tidak beriman...". Dengan indikator terakhir inilah, hadis di atas berubah posisi, dari sekadar anjuran akhlak menjadi peringatan serius. Merasa sempit terhadap kebahagiaan orang lain berpotensi tergolong dosa besar yang halus namun berbahaya.

Al-Qur'an juga menegur sikap ini secara langsung. Allah berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 32: "Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain."

M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa setiap orang, laki laki maupun perempuan, memperoleh bagiannya masing masing sesuai usaha dan haknya. Karena itu, mengharapkan bagian orang lain berpindah kepada diri sendiri, apalagi berharap ia hilang dari yang memilikinya, adalah bentuk ketidakadilan terhadap ketetapan Allah sekaligus bentuk iri hati yang dilarang.

Bahaya sikap ini bukan hanya menyentuh hubungan sosial, tetapi juga pahala amal yang telah dikumpulkan. Rasulullah Saw. bersabda: "Jauhilah hasad, karena hasad memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar." (HR. Abu Dawud)

Hadis ini menggambarkan betapa cepat dan tuntasnya kebaikan bisa lenyap ketika hati dipenuhi hasad, sebagaimana kayu yang habis dilalap api hingga tersisa abu. Bayangkan ketika kita memiliki impian yang sama dengan seseorang. Berjuang bersama, berharap bersama, menunggu hasil dengan harapan yang sama. Namun qadarullah, yang terpilih adalah dia. Pada titik itulah hati benar benar diuji. Ikut bahagia, atau justru merasa berat? Ridha, atau diam diam membandingkan?

Jika hati mampu berkata, "Ini adalah takdir terbaik Allah untuknya," lalu benar benar ikut bahagia, itu tanda iman sedang hidup. Kita bukan hanya ridha terhadap takdir Allah untuk diri sendiri, melainkan juga terhadap takdir Nya untuk orang lain. Inilah kelapangan hati yang tinggi. Sebaliknya, saat hati sulit menerima kebahagiaan orang lain, penyakit hati mulai bekerja secara halus: iri, dengki, ketidaksenangan yang tidak terlihat namun perlahan menggerogoti keimanan. Karena itu, ujian ini sesungguhnya terjadi setiap hari, saat teman dipuji, rekan mendapat amanah, sahabat meraih prestasi, atau orang lain memperoleh kesempatan yang kita juga harapkan.

Orang yang matang imannya tidak berhenti pada "aku sabar atas takdirku", tetapi mampu melangkah lebih jauh: "aku ridha atas takdirnya." Ia tidak merasa kehilangan ketika orang lain mendapat kebaikan, karena yakin pembagian Allah selalu adil. Apa yang Allah berikan kepada orang lain tidak mengurangi bagian kita, dan apa yang menjadi bagian kita tidak akan tertukar.

Maka mulai hari ini, setiap kali kebahagiaan orang lain terasa berat untuk disambut, itulah saat yang tepat untuk berhenti sejenak dan beristighfar, bukan karena telah berbuat dosa besar secara nyata, tetapi karena hati sedang menunjukkan gejalanya. Belajar ikut bahagia atas kebahagiaan orang lain bukan sekadar akhlak mulia. Ia adalah bagian dari menjaga iman agar tetap hidup dan bersih.

SHARE :

0 facebook:

 
Top