Oleh: Juariah Anzib, S.Ag

Penulis Buku Wakaf di Aceh, Tradisi, Inovasi dan Keberkahan


Akhlak merupakan landasan utama dalam kehidupan manusia. Sikap dan perilaku yang baik mencerminkan kepribadian yang luhur sekaligus menjadi modal penting dalam membangun hubungan yang harmonis dengan sesama. Kehidupan akan terasa indah ketika setiap orang mampu hidup berdampingan dengan mengedepankan kebaikan, kesantunan, kejujuran, serta rasa saling menghormati.

Dalam Islam, akhlak memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Rasulullah saw diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Akhlak menjadi panduan agar setiap tindakan dan perilaku manusia senantiasa berada dalam tuntunan Ilahiah. Karena itu, ilmu yang dimiliki seseorang semestinya melahirkan sikap dan perilaku yang baik. Ilmu tanpa akhlak bukan hanya kehilangan manfaat, tetapi juga dapat disalahgunakan dan menjadi bumerang bagi kehidupan manusia.

Akhlak tidak cukup hanya dibicarakan sebagai persoalan pribadi. Akhlak harus menjadi bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Bangsa yang memiliki sumber daya manusia berilmu sekaligus berakhlak akan lebih mampu membangun kehidupan yang adil, aman, dan sejahtera.

Hal tersebut juga disampaikan Pimpinan Redaksi Tabloid Gema Baiturrahman, Juniazi Yahya, dalam  Perbincangan Sabtu Pagi Radio Baiturrahman, Sabtu, 22 Agustus 2026. Menurutnya, pembinaan akhlak harus menjadi perhatian bersama karena pembangunan bangsa tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan intelektual dan kemajuan fisik.

Akhlak merupakan modal dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pembentukannya harus dimulai sejak dini, terutama melalui keluarga. Orang tua merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak. Perilaku orang tua menjadi contoh yang setiap hari dilihat dan ditiru oleh anak. Karena itu, pendidikan akhlak tidak cukup hanya dengan nasihat, tetapi harus diwujudkan melalui keteladanan.

Akhlak dan Krisis Keteladanan

Peran ulama, guru, tokoh masyarakat, serta lembaga pendidikan juga sangat penting dalam membangun karakter bangsa. Pembinaan akhlak tidak boleh berhenti pada tingkat individu, tetapi harus menjadi gerakan bersama hingga kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kita menyaksikan berbagai persoalan moral yang masih terjadi di tengah masyarakat, termasuk korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Praktik korupsi tidak hanya terjadi pada satu sektor, tetapi dapat muncul di berbagai lingkungan pemerintahan dan kehidupan publik. Ketika perbuatan yang salah dilakukan berulang-ulang tanpa rasa takut dan malu, masyarakat akan menghadapi persoalan yang lebih serius: hilangnya kepekaan moral.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan akhlak tidak boleh dipandang sebagai pelengkap. Dalam perspektif Islam, akhlak merupakan bagian integral dari kehidupan. Seorang Muslim tidak hanya dituntut memiliki ilmu, tetapi juga harus mampu menggunakan ilmu tersebut untuk kebaikan.

Ironisnya, dalam kehidupan ini, sebagian orang tua lebih menekankan prestasi akademik anak daripada pembentukan karakter. Nilai rapor, gelar akademik, dan keberhasilan memperoleh pekerjaan sering menjadi ukuran utama keberhasilan pendidikan. Sementara itu, kejujuran, tanggung jawab, kesantunan, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap sesama kurang mendapatkan perhatian yang seimbang.

Akibatnya, dapat lahir generasi yang memiliki kecerdasan tinggi tetapi tidak selalu diiringi integritas dan tanggung jawab moral. Persoalan ini dapat terjadi di berbagai profesi, baik di lingkungan birokrasi, politik, penegakan hukum, dunia pendidikan, maupun kehidupan sosial.

Karena itu, persoalan akhlak bukan hanya tanggung jawab satu kelompok. Polisi, jaksa, politikus, birokrat, guru, dosen, ulama, pengusaha, serta seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab moral dalam menjaga kualitas kehidupan bangsa.

Jika akhlak tidak lagi menjadi prioritas, bagaimana masa depan bangsa ini? Pertanyaan tersebut patut menjadi bahan renungan bersama. Persiapan kepemimpinan masa depan harus dimulai dengan pembinaan etika, moral, adab, dan akhlak. Kepemimpinan tanpa integritas berpotensi melahirkan kecurangan, ketidakadilan, dan penyalahgunaan kewenangan yang pada akhirnya merugikan masyarakat luas.

Tanggung Jawab Bersama

Pendidikan akhlak bukan hanya tanggung jawab keluarga, guru, atau ulama. Semua pihak memiliki tanggung jawab dalam membentuk karakter generasi bangsa.

Nilai-nilai moral kebangsaan yang dahulu mendapat tempat dalam pendidikan harus terus dihidupkan dalam bentuk yang relevan dengan perkembangan zaman. Pendidikan karakter tidak boleh berhenti sebagai teori di ruang kelas, tetapi harus menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari.

Penasihat Gema Baiturrahman, Prof. Apridar, S.E, M.Si, menambahkan bahwa Aceh memiliki sejarah perjuangan yang unik, termasuk dalam penerapan syariat Islam. Karena itu, pembangunan Aceh tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan fisik dan peningkatan indikator ekonomi. Pembangunan manusia, terutama karakter dan akhlak, harus menjadi perhatian utama.

Peningkatan indeks pembangunan manusia tidak akan memiliki makna yang sempurna apabila tidak dibarengi dengan peningkatan integritas dan kualitas moral masyarakat. Orang tua juga perlu menyeimbangkan antara pencapaian akademik dengan pembentukan karakter anak.

Adab dan akhlak merupakan modal penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kecerdasan akademik saja tidak cukup untuk menjadikan seseorang insan yang mulia. Ilmu harus dipandu oleh nilai moral agar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kita dapat melihat berbagai kasus korupsi yang merugikan negara dan masyarakat. Bahkan sektor yang seharusnya menjadi instrumen pembangunan dan kesejahteraan masyarakat pun tidak selalu terbebas dari penyalahgunaan. Fenomena tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak boleh hanya diukur dari indeks prestasi, gelar, atau pekerjaan yang diperoleh, tetapi juga dari integritas dan kontribusi seseorang bagi masyarakat.

Aceh dan Tantangan Akhlak

Aceh merupakan daerah yang memiliki kekayaan sumber daya alam dan sejarah panjang sebagai pusat ilmu pengetahuan Islam. Namun, kekayaan alam dan sejarah tersebut tidak otomatis menjamin kesejahteraan masyarakat apabila tidak dikelola dengan amanah.

Kepemimpinan yang berintegritas sangat diperlukan agar sumber daya yang dimiliki Aceh dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Keteladanan pemimpin menjadi sangat penting karena masyarakat membutuhkan contoh nyata tentang kejujuran, tanggung jawab, keadilan, dan amanah.

Aceh pernah dikenal sebagai wilayah yang kuat dalam tradisi ilmu, agama, dan peradaban. Karena itu, pembangunan Aceh masa kini semestinya tidak hanya memperkuat aspek fisik, tetapi juga membangun mental dan karakter manusianya.

Jika fondasi akhlak kokoh, kehidupan sosial dan pembangunan juga akan lebih kokoh. Sebaliknya, pembangunan yang hanya mengejar kemajuan material tanpa memperhatikan moral berisiko melahirkan kesenjangan, ketidakadilan, dan berbagai persoalan sosial.

Pembentukan karakter tidak dapat dilakukan secara instan. Ia membutuhkan proses panjang dan konsisten yang dimulai dari rumah, dilanjutkan di sekolah dan perguruan tinggi, kemudian diperkuat oleh lingkungan masyarakat.

Perjuangan orang tua, karena itu, tidak semestinya hanya diarahkan agar anak memperoleh nilai akademik tinggi dan pekerjaan yang baik. Lebih jauh dari itu, anak harus dibekali karakter agar mampu menggunakan ilmu dan pekerjaannya secara amanah.

Tantangan Akhlak di Era Digital

Perkembangan teknologi merupakan rahmat apabila digunakan dengan benar. Namun, teknologi juga menghadirkan tantangan baru bagi pendidikan akhlak, terutama bagi generasi muda.

Di era digital, informasi dapat diterima dalam hitungan detik. Karena itu, manusia membutuhkan kemampuan untuk menyaring informasi dengan akal sehat, ilmu, dan nilai agama. Sikap santun dalam bermedia sosial harus menjadi bagian dari akhlak.

Jangan mudah menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya, jangan mudah terprovokasi, dan jangan menjadikan media sosial sebagai tempat melampiaskan kemarahan serta kebencian. Kebebasan berkomunikasi harus tetap dibatasi oleh tanggung jawab moral.

Keluarga memiliki peran penting dalam mendampingi anak menghadapi perkembangan teknologi. Orang tua perlu memberikan pengawasan sekaligus keteladanan dalam menggunakan media digital. Anak harus dibimbing agar mampu membedakan antara informasi yang bermanfaat dan konten yang dapat merusak akhlak.

Saat ini banyak konten di media sosial yang dianggap biasa, padahal mengandung nilai yang bertentangan dengan norma Islam dan moral. Apabila dibiarkan, konten semacam itu dapat memengaruhi cara berpikir dan perilaku generasi muda.

Karena itu, setiap orang perlu menyadari bahwa apa yang diproduksi, dibagikan, dan disebarkan di ruang digital memiliki konsekuensi moral. Konten yang memberikan manfaat dapat menjadi amal kebaikan, sementara konten yang mendorong keburukan berpotensi membawa dampak dosa yang terus berlanjut selama masih dikonsumsi dan disebarkan orang lain.

Membudayakan Akhlak

Pendidikan akhlak harus diwujudkan melalui kebiasaan sederhana. Di rumah, anak dibiasakan mengucapkan salam, berdoa sebelum belajar, menghormati orang tua, menyayangi saudara, berkata jujur, dan bertanggung jawab terhadap tugasnya.

Di sekolah, budaya saling menghormati antara guru dan peserta didik harus terus diperkuat. Demikian pula di perguruan tinggi, kecerdasan akademik harus berjalan seiring dengan integritas, etika ilmiah, tanggung jawab sosial, dan kepedulian terhadap masyarakat.

Di tengah masyarakat, budaya ramah, santun, saling menolong, menghormati perbedaan, serta menjaga lisan harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Akhlak bukan teori yang hanya dibicarakan dalam majelis ilmu. Akhlak harus tampak dalam tindakan: bagaimana seseorang berbicara, bekerja, memimpin, menggunakan kekuasaan, mengelola harta, memperlakukan orang lain, dan mengambil keputusan.

Karena itu, pembangunan bangsa membutuhkan manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga jujur, amanah, adil, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian sosial.

Mari kita kembali menempatkan akhlak sebagai fondasi kehidupan. Pemuda bukan sekadar masa depan Aceh, tetapi merupakan kekuatan Aceh hari ini dan masa yang akan datang. Mereka harus dipersiapkan bukan hanya dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga dengan etika, adab, akhlak, dan karakter mulia.

Kemajuan teknologi boleh berubah, zaman boleh berganti, dan kebutuhan kehidupan boleh berkembang. Namun, nilai-nilai kejujuran, amanah, keadilan, kesantunan, dan akhlak mulia akan tetap menjadi landasan kehidupan manusia.

Bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang maju secara ilmu dan teknologi, tetapi bangsa yang memiliki manusia berilmu, berintegritas, dan berakhlak mulia.*

SHARE :
Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 facebook:

 
Top