Oleh: Muhibuddin Hanafiah

Baru-baru ini alam jagad raya Indonesia dihebohkan dengan sebuah ironi besar yang muncul di tengah-tengah arus kenihilan urat malu para ilmuan (tepatnya ulama). Betapa tidak, satu sosok mutiara tiba-tiba menghentak alam kesadaran bangsa ini. Seakan sosok ini mengembalikan anggapan bahwa masih ada satu keteladanan di tengah kemirisan kondisi bangsa ini. Sosok itu adalah KH Hasan Abdul Sahal, mudir atau rektornya (pimpinan) Pondok Modern Gontor Ponorogo Jawa Timur Indonesia. Hentakan dahsyat itu terjadi pada acara resepsi syukuran Seratus Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponoroga Jawa Timur, 19 September 2026. Kehebohan ini menjadi viral di media sosial lantaran pidato KH Hasan Abdul Sahal yang sarat pesan moral dan kritik sosial yang tajam. 

Salah satu angle pidatonya di hadapan ribuan santri, alumni dan tamu negara adalah ketika menyinggung tentang fenomena “cari muka” hingga “cari ijazah” sebagai gambaran perilaku pragmatis masyarakat Indonesia saat ini. Menurutnya sekarang banyak orang yang suka cari muka, orang yang tidak punya ijazah cari ijazah,  orang yang tidak punya nama cari nama, orang yang tidak punya jabatan, cari jabatan. Orang yang tidak punya muka, cari muka. Kendati sindiran ini tidak dimaksudkan pada pihak tertentu, namun fenomena ini adalah refleksi atas realitas perilaku masyarakat yang mengejar validasi dan posisi secara instan  yang sedang marak di negeri ini. Pidato ini menjadi wadah pengingat bahwa di tengah budaya instan yang ingin serba cepat, pendidikan karakter dan keikhlasan tetap menjadi jalan utama membangun kemajuan bangsa.

Kritikan sosial itu bukan tanpa dasar, Kiyai Hasan sendiri menjadi contoh yang benar bagi para santrinya di pondok. Ia menegaskan  bahwa pola hidupnya harus tetap sejalan dengan para santri. Makan, pakaian, kenderaan hingga rumah tempat tinggalnya tidak boleh lebih mewah dari keseharian para santri. Jika sebaliknya, ia mempersilakan secara terbuka untuk menegur dan bahkan memprotes beliau. Selain keteladan beliau di pesantren, KH Hasan juga disebut-sebut sebagai sosok ulama pemberani dan tegas di hadapan penguasa selevel presidenpun.  Sosok seperti ini seakan kontras dengan kebanyakan tokoh agama (baca; ulama) lain yang justru bermanis-manis di hadapan penguasa. Dengan lantang ia mengatakan; “kalau apa yang saya makan, apa yang saya pakai, apa yang saya tempati, apa yang saya kerjakan lebih daripada santri, boleh diprotes, boleh dikritik, boleh didemo, satu hal yang pasti kami tetap memilih pendidikan”. Benar-benar seorang pemimpin yang memilih jalan kebebasan dan kemerdekaan yang sejati.

Keteguhan lain juga beliau ungkapkan di hadapan para santri dan undangan pada acara ini;“kau besar aku tak berlindung, kau kaya aku tak meminta, kau kuat aku tak gentar, di atas hanya Allah, di bawah hanya tanah”. Suatu prinsip ketegaran di atas situasi dunia yang cukup ironi dewasa ini. Sehingga tidak mengherankan jika motto yang ditanamkan di Gontor itu adalah “berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja”. Peran utama Gontor di abad ini tetap memilih jalur pendidikan dalam membangun peradaban bangsa, Gontor juga telah mewaqafkan ide, nilai, sistem dan kecintaan kepada bangsa. Gontor menegaskan masih tetap berdiri di atas nilai Islam, tanpa sekat organisasi, menjadi pemersatu santri dari berbagai golongan dan elemen bangsa. 

Pondok Modern Darussalam Gontor didirikan pada tahun 1926, sebuah lembaga pendidikan Islam modern yang memegang prinsip kemandirian. Gontor didirikan dan besar dengan kekuatan waqaf (berkiblat pada Universitas al-Azhar Mesir). Gontor tidak dimiliki oleh keluarga atau organisasi karena sudah diwaqafkan oleh para pendidi kepada kaum muslimin. Badan waqaf merupakan institusi tertinggi dalam struktur Balai Pendidikan Pondok Modern Gontor. Badan ini yang memilih pimpinan Gntor. Dalam sistem pendidikannya Pondok Modern Gontor memadukan ilmu agam dan umum (berkiblat pada Universitas Islam Aligarh India). Gontor juga dibangun dengan keikhlasan para guru yang mengabdi siang dan malam dengan ikhlas untuk mendidik seluruh santri yang belajar di pondok. Guru-guru ini tidak dibayat atau digaji, namun seluruh kebutuhan hidupnya dipenuhi tanpa mengambil dari iuran santri. Kebutuhan para guru dipenuhi dari unit-unit usaha yang dikembangkan oleh pondok. Gontor yang awalnya sebuah kampung yang kini menjadi pusat ilmu pengetahuan, kebudayaan dan perdagangan dengan keihlasan menjadi ruh dalam segala aspek dan denyut kehidupan guru dan santri. Dalam konteks ini Gontor berkiblat pada model keikhlasan guru Madrasah Chinguetti di Mauritania. 

Gontor merupakan lembaga pendidikan Islam modern yang dikenal dengan kesederhanaan dan ketenangannya di dalam desa yang jauh dari hiruk pikuk suasana perkotaan. Tetapi mampu mempersembahkan kepada dunia dengan ilmu pengetahuan.  Gontor adalah salah satu pesantren yang paling murah biaya pendidikannya, biaya hidup santri dikondisikan sehemat mungkin. Santri ditekankan untuk hidup dengan penuh kesederhanaan dan kedamaian. Nilai-nilai ini sudah berlangsung hingga seratus tahun. Lima jiwa Gontor yang ditanam kuat pada semua santri adalah keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah islamiyah dan kebebasan. Satu harapan kita adalah keteladan Pondok Modern Gontor mampu menginspirasi ribuan lembaga pendidikan Islam yang kini tumbuh subur di bumi pertiwi ini. Semoga!

Penulis adalah Akademisi Kopelma Darussalam 

SHARE :

0 facebook:

 
Top