Oleh: Dr. Ishak, M. Pd. 

Penyuluh Agama Islam Bireuen


Di era digital, lisan tidak lagi hanya keluar dari mulut, tetapi juga melalui jari. Komentar pedas, sindiran, ghibah, dan ujaran kebencian dapat menyebar dalam hitungan detik. Luka yang ditimbulkan pun tidak selalu terlihat, tetapi bisa membekas dalam waktu yang lama. Fenomena ini menunjukkan bahwa menjaga lisan bukan sekadar persoalan kesantunan, melainkan bagian penting dari pendidikan akhlak.

Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa kualitas komunikasi berkaitan erat dengan keimanan. Karena itu, menjaga lisan mencakup dua hal: menahan diri ketika disakiti oleh perkataan orang lain dan mengendalikan ucapan sendiri agar tidak menyakiti sesama.

Memahami Hakikat Kekebalan Hati

Kekebalan hati bukan berarti menjadi pribadi yang keras dan tidak memiliki perasaan. Dalam perspektif pendidikan Islam, kekebalan hati merupakan kemampuan mengelola emosi, menahan amarah, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan. Konsep ini dapat dikaitkan dengan qalbun salim, yakni hati yang bersih dan selamat, sebagaimana disebutkan dalam Surah Asy-Syu‘ara ayat 88–89.

Ada tiga sikap penting dalam membangun kekuatan hati, yaitu hilm (kesantunan dan kemampuan menahan diri), sabr (kesabaran), serta ‘afw (memaafkan). Allah berfirman dalam Surah Ali ‘Imran ayat 134 bahwa orang bertakwa adalah mereka yang menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.

Menahan amarah bukan berarti membenarkan tindakan yang menyakitkan. Memaafkan juga tidak berarti membiarkan kesalahan terus berulang. Keduanya merupakan bentuk pengendalian diri agar seseorang mampu menyikapi persoalan secara bijaksana tanpa kehilangan adab.

Menjaga Lisan sebagai Tanggung Jawab Keimanan

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, khususnya pembahasan tentang bahaya lisan, menguraikan berbagai bentuk kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh perkataan. Di antaranya ialah dusta, ghibah, adu domba, ejekan, dan ucapan yang merendahkan martabat orang lain.

Al-Qur’an secara tegas melarang tindakan mengolok-olok sesama dalam Surah Al-Hujurat ayat 11. Sementara itu, Surah Qaf ayat 18 mengingatkan bahwa setiap ucapan manusia dicatat oleh malaikat pengawas. Peringatan ini relevan dengan kehidupan digital, ketika sebuah komentar dapat disebarkan berulang kali dan menjangkau banyak orang.

Menjaga lisan, dengan demikian, bukan hanya menghindari kata-kata kasar, tetapi juga mempertimbangkan kebenaran, manfaat, dan dampak ucapan. Sebelum berbicara atau menulis komentar, seseorang perlu bertanya apakah perkataannya membawa kebaikan atau justru memperpanjang perselisihan.

Strategi Membangun Kekebalan Hati

Kekebalan hati perlu dilatih secara terus-menerus melalui beberapa langkah. Pertama, membiasakan diam secara aktif, yaitu menunda respons ketika emosi memuncak agar tidak mengucapkan sesuatu yang disesali kemudian. Diam bukan berarti takut menyampaikan kebenaran, melainkan memberi ruang bagi pertimbangan yang matang.

Kedua, memperkuat hubungan dengan Al-Qur’an dan zikir serta membiasakan muhasabah. Kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi (muraqabatullah) dapat membantu seseorang lebih berhati-hati dalam bertutur.

Ketiga, menerapkan prinsip komunikasi yang diajarkan Al-Qur’an, seperti qaulan sadida (perkataan yang benar), qaulan ma‘rufa (perkataan yang baik), qaulan karima (perkataan yang mulia), qaulan maysura (perkataan yang mudah dan pantas), qaulan layyina (perkataan yang lemah lembut), dan qaulan baligha (perkataan yang tepat sasaran).

Keempat, berusaha membalas keburukan dengan cara yang lebih baik. Allah berfirman dalam Surah Fussilat ayat 34 bahwa keburukan dapat ditolak dengan cara yang lebih baik sehingga permusuhan berpeluang berubah menjadi kedekatan.

Pendidikan Hati dalam Kehidupan Sosial

Kemampuan menahan lisan memberikan dampak nyata bagi kehidupan. Hati menjadi lebih tenang, hubungan sosial terpelihara, dan konflik tidak mudah berkembang menjadi permusuhan berkepanjangan. Nilai ini penting ditanamkan dalam keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat, sebab perkataan yang menyakitkan, termasuk dari orang tua kepada anak, dapat meninggalkan luka batin yang terbawa hingga dewasa.

Kekebalan hati bukan bakat yang hadir dengan sendirinya, melainkan hasil latihan dan pendidikan akhlak. Dalam kehidupan yang semakin ramai oleh komentar, seseorang tidak hanya dituntut mampu menahan ucapan orang lain, tetapi juga bertanggung jawab atas ucapannya sendiri.

SHARE :

0 facebook:

 
Top