LAMURIONLINE.COM | BANDA ACEH – Pendakwah yang dicintai umat, Ust Mursalin Basyah, Lc., MA., menyampaikan tausiyah pada kegiatan Safari Subuh BBC di Masjid Jamik Babussalam, Kemukiman Lam Ujong, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Banda Aceh, Ahad (25/10/2026), bertepatan dengan 14 Jumadil Awal 1448 Hijriah.
Dalam tausiyahnya, Ust Mursalin menekankan pentingnya memadukan zikir dan pikir sebagai dua kunci utama untuk menjadi ulul albab, yakni pribadi yang senantiasa mengingat Allah SWT sekaligus menggunakan akal untuk merenungi penciptaan alam semesta dan memahami tujuan kehidupan.
Menurutnya, orang yang tergolong ulul albab adalah mereka yang senantiasa berzikir kepada Allah dalam berbagai keadaan, baik ketika berdiri, duduk, maupun berbaring, serta bertafakur tentang penciptaan langit dan bumi beserta seluruh isinya.
Hal itu sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 190–191. Mereka menyadari bahwa Allah tidak menciptakan semua itu dengan sia-sia. Kesadaran tersebut kemudian melahirkan doa agar Allah SWT melindungi mereka dari azab neraka.
“Kalau kita ingin menempuh jalan menuju Allah dengan lurus dan tepat sasaran, kita harus memegang dua kunci besar, yaitu zikir dan pikir. Keduanya harus berjalan bersamaan, tidak boleh hanya salah satunya,” jelasnya.
Ia menerangkan, zikir merupakan kunci pertama yang mencakup seluruh bentuk ibadah dan amal saleh, baik yang dilakukan melalui lisan maupun anggota tubuh lainnya. Salat, misalnya, merupakan ibadah utama yang mengandung zikir kepada Allah. Demikian pula Al-Qur’an yang disebut sebagai zikir, petunjuk, dan pengingat bagi manusia.
Menurut Ust Mursalin, Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa terhubung dengan Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Setiap aktivitas dan pengabdian seorang Muslim semestinya menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Namun, ia mengingatkan bahwa ibadah saja tidak cukup apabila tidak disertai cara berpikir yang benar. Seorang Muslim perlu menggunakan akalnya untuk memahami makna, tujuan, dan hikmah di balik ibadah yang dilakukannya.
“Beribadah saja belum cukup. Kita juga harus memiliki cara berpikir yang baik dan sehat. Di sinilah pentingnya pikir atau tafakur agar kita dapat memahami mengapa kita beribadah dan apa tujuan yang hendak dicapai,” ujarnya.
Syariat Memiliki Tujuan
Lebih lanjut, Ust Mursalin menjelaskan bahwa keyakinan terhadap penciptaan Allah yang tidak sia-sia harus menjadi landasan berpikir seorang Muslim. Kehidupan manusia, alam semesta, dan seluruh ketentuan syariat memiliki tujuan yang perlu dipahami dan dipelajari.
Ia mengutip penggalan doa dalam surah Ali Imran ayat 191, “Rabbana ma khalaqta haza bathila”, yang berarti, “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia.”
Menurutnya, penggalan ayat tersebut mengandung dorongan kuat agar manusia terus belajar, mengaji, dan mengembangkan pengetahuan. Umat Islam perlu mempelajari alam semesta serta mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah agar semakin memahami kebesaran-Nya dan memperoleh pemahaman tauhid yang lebih mendalam.
Ia juga mengingatkan bahwa tauhid merupakan konsep yang luas dan tidak boleh dipersempit hanya pada penguasaan sejumlah konsep dasar akidah. Pemahaman tauhid harus terus dikembangkan melalui ilmu, penghayatan, dan pengenalan terhadap tanda-tanda kebesaran Allah.
“Tauhid itu luas dan besar, tidak sesempit pikiran kita. Karena itu, kita harus terus belajar agar semakin mengenal Allah dan memahami makna tauhid dalam kehidupan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, syariat yang diturunkan Allah juga mengandung maqasid atau tujuan-tujuan yang hendak diwujudkan. Karena itu, seorang Muslim tidak cukup hanya mengetahui tata cara menjalankan ibadah, tetapi juga perlu memahami tujuan dan hikmah di balik ketentuan tersebut.
Pemahaman terhadap tujuan ibadah, katanya, akan membantu seseorang merasakan dzauq atau cita rasa spiritual, sehingga ibadah tidak berhenti pada pelaksanaan formal, melainkan menghadirkan penghayatan, ketenangan, dan kedekatan dengan Allah SWT.
Akal dan Ilmu Mengantarkan pada Penghayatan Ibadah
Dalam kesempatan itu, Ust Mursalin juga mengingatkan bahwa penggunaan akal dalam beragama merupakan bagian dari karunia Allah yang harus disyukuri. Akal perlu digunakan untuk memahami ajaran agama secara benar, dengan tetap berpedoman pada Al-Qur’an, sunah, dan penjelasan para ulama.
Ia mencontohkan ilmu fikih yang dirumuskan para ulama melalui proses kajian mendalam. Berbagai ketentuan hukum yang menjadi panduan umat dalam beribadah lahir dari kesungguhan para ulama dalam menelaah dalil, memahami ’illah atau alasan hukum, serta merumuskan ketentuan yang dapat menjadi pedoman bagi umat Islam.
Karena itu, umat tidak seharusnya memandang ilmu agama sebagai kumpulan aturan yang cukup dijalankan tanpa pemahaman. Sebaliknya, ilmu perlu menjadi bekal agar pelaksanaan syariat semakin benar, bermakna, dan sesuai dengan tujuan yang dikehendaki Allah.
Ia menegaskan bahwa salat dan seluruh ibadah semestinya dilaksanakan dengan pemahaman yang memadai tentang tata cara sekaligus tujuannya. Dengan demikian, ibadah tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga sarana membentuk pribadi yang lebih baik dan mendekatkan diri kepada Allah.
Jangan Mudah Diombang-ambingkan Informasi
Pada bagian lain tausiyahnya, Ust Mursalin mengingatkan pentingnya ilmu dan sikap kritis dalam menghadapi berbagai informasi keagamaan. Menurutnya, seseorang yang tidak memiliki pengetahuan memadai dan tidak memahami tujuan beragama akan lebih mudah diarahkan, bahkan diombang-ambingkan oleh informasi yang belum tentu benar.
Karena itu, setiap informasi atau pengetahuan yang diterima perlu diserap dan dikonfirmasi secara cermat sebelum dijadikan dasar untuk mengambil keputusan atau menjalankan suatu amalan.
Sikap tersebut bukan berarti meragukan ajaran agama, melainkan memastikan bahwa pemahaman dan praktik keagamaan dibangun di atas ilmu yang benar, bukan sekadar ikut-ikutan.
Ia mengajak jamaah untuk terus meningkatkan semangat belajar, memperkuat zikir, dan membiasakan tafakur dalam kehidupan sehari-hari. Dengan perpaduan keduanya, umat Islam diharapkan tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga mampu menangkap makna dan manfaat ibadah sesuai dengan tuntunan Allah SWT.
Menutup pesannya, Ust Mursalin kembali menegaskan bahwa zikir dan pikir merupakan dua sayap yang harus terus dijaga dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah.
Melalui zikir, hati senantiasa terhubung dengan Sang Pencipta. Melalui pikir, akal memahami tanda-tanda kebesaran-Nya, tujuan syariat, dan hikmah kehidupan. Keduanya menjadi landasan penting untuk membentuk pribadi ulul albab yang kuat imannya, luas ilmunya, dan baik amalnya. (Saifuddin A. Rasyid)

0 facebook:
Post a Comment