Oleh: Syahrati, S. HI., M. Si. 

Penyuluh Agama Islam Aceh


Jauh sebelum Islam datang, nama Khadijah binti Khuwailid sudah harum di Makkah. Ia berasal dari Bani Asad, salah satu keluarga Quraisy paling terpandang. Masyarakat menjulukinya ath-Thahirah, perempuan yang menjaga kesucian dan kehormatannya. Khadijah juga saudagar sukses yang mengupah para lelaki untuk membawa dagangannya ke Syam.

Suatu hari Khadijah mendengar kabar tentang pemuda bernama Muhammad bin Abdullah yang dijuluki al-Amin, orang yang tepercaya. Ia menawarkan pemuda itu membawa dagangannya ke Syam dengan upah lebih besar dari biasanya. Ia juga mengutus pelayannya, Maisarah, untuk menemani.

Di Syam, Muhammad saw. berteduh di bawah sebuah pohon dekat biara seorang rahib. Rahib itu bertanya kepada Maisarah siapa lelaki itu, lalu berkata, "Tidak pernah ada yang singgah di bawah pohon ini kecuali seorang nabi." Dagangan Khadijah kembali dengan laba dua kali lipat. Maisarah pun menceritakan semua yang ia saksikan, dari ucapan rahib itu sampai kejujuran dan kemuliaan akhlak Muhammad saw.

Cerita itu meninggalkan kesan mendalam. Melalui perantara yang ia percaya, Khadijah menyampaikan keinginannya untuk menikah dengan Muhammad saw. Saat itu Khadijah berusia 40 tahun dan Muhammad saw. 25 tahun. Khadijah tidak menimbang harta, sebab ia sendiri jauh lebih kaya. Ia memilih kejujuran dan akhlak.

Lima belas tahun kemudian, Muhammad saw. pulang dari Gua Hira dalam keadaan gemetar setelah menerima wahyu pertama. Beliau meminta Khadijah menyelimutinya. Khadijah tidak panik. Ia menenangkan suaminya dan meyakinkan bahwa Allah tidak akan menghinakan orang yang menyambung silaturahmi, menolong yang lemah, dan memuliakan tamu. Khadijah lalu menjadi orang pertama yang beriman.

Ujian berikutnya datang saat Quraisy memboikot Bani Hasyim dan Bani Abdul Muththalib. Rasulullah saw. bersama keluarganya bertahan di Syi'ib Abi Thalib. Quraisy memutus perdagangan dan pernikahan dengan mereka. Khadijah bisa saja tetap hidup nyaman di rumahnya. Ia memilih menemani suaminya selama tiga tahun dan merelakan hartanya untuk menopang dakwah.

Tiga tahun sebelum hijrah, Khadijah wafat dalam usia 65 tahun. Pada tahun yang sama Abu Thalib juga wafat. Rasulullah saw. kehilangan dua pelindung sekaligus, sehingga tahun itu dikenal sebagai 'Amul Huzn, Tahun Kesedihan.

Cinta beliau tidak ikut terkubur. Setiap kali menyembelih kambing, Rasulullah saw. membagikan dagingnya kepada sahabat-sahabat Khadijah. Aisyah sampai cemburu, padahal ia tidak pernah bertemu Khadijah. Ketika Aisyah menyebut Allah telah memberi beliau pengganti yang lebih baik, Rasulullah saw. menjawab:

"Allah tidak memberiku pengganti yang lebih baik darinya. Ia beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkariku, membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, membantuku dengan hartanya ketika orang-orang menahan hartanya dariku, dan Allah memberiku anak darinya."

Rasulullah saw. sedang mengenang seseorang yang setia ketika dakwah belum mendapat tempat, pengikut masih sedikit, dan perjuangan belum menjanjikan apa pun selain ujian.

Allah pun memuliakan Khadijah. Suatu hari Jibril datang kepada Rasulullah saw. saat Khadijah sedang berjalan membawakan makanan untuk beliau. Jibril meminta beliau menyampaikan salam dari Allah dan dari Jibril kepada Khadijah. Jibril juga membawa kabar gembira berupa baitun min qashab, rumah di surga dari mutiara berongga, tanpa kebisingan dan tanpa keletihan.

Mengapa rumah, bukan istana? Imam as-Suhaili, ulama Andalusia penulis ar-Raudh al-Unuf, kitab penjelas Sirah Ibnu Hisyam, menjawab pertanyaan ini. Menurut beliau, balasan dari Allah sering disebut dengan nama amal yang dibalas, meskipun balasannya jauh lebih mulia. Khadijah membangun rumah di dunia, maka balasannya pun disebut rumah.

Rumah Khadijah memang istimewa. Pada hari pertama Rasulullah saw. diutus, belum ada satu pun rumah Islam di muka bumi selain rumahnya. Rasulullah saw. menemukan ketenangan setelah wahyu pertama di rumah itu, dan dari rumah itu pula iman pertama diikrarkan.

Khadijah membangun rumah itu dengan kesetiaan, harta, dan ketenangan yang ia berikan di masa paling genting. Allah menggantinya dengan rumah yang bebas dari kebisingan cemoohan dan keletihan perjuangan.

Barangkali karena itu cinta Rasulullah saw. kepadanya tidak pernah tergantikan. Beliau tidak sedang mengenang seorang istri saja. Beliau mengenang rumah pertama tempat Islam bertumbuh.

SHARE :

0 facebook:

 
Top