LAMURIONLINE.COM | BANDA ACEH — Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) UIN Ar-Raniry Banda Aceh menggelar sosialisasi “Stop Bullying” bagi siswa MTsN 4 Banda Aceh pada Jumat, 2 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung di Mushalla Kompas UIN Ar-Raniry tersebut mengusung tema “Bersama Ciptakan Madrasah yang Aman, Nyaman, dan Bebas Bullying.”
Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KPM dalam memberikan edukasi kepada generasi muda mengenai pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan saling menghargai. Para siswa diajak untuk mengenali berbagai bentuk perundungan, memahami dampaknya, serta mengetahui langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menghadapi bullying.
Kegiatan dibuka oleh Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan sekaligus Pembina KPM, Asep Hasdiyansyah, S.Pd. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa KPM UIN Ar-Raniry yang telah menginisiasi kegiatan edukatif tersebut.
Menurutnya, edukasi mengenai pencegahan bullying penting dilakukan secara berkelanjutan agar siswa memiliki kesadaran untuk saling menghormati, menjaga perasaan teman, dan menciptakan suasana belajar yang positif.
“Kami sangat berterima kasih kepada adik-adik mahasiswa KPM yang telah menginisiasi kegiatan positif ini. Edukasi ini sangat penting agar para siswa makin peka dan sadar untuk saling menjaga satu sama lain, sehingga tercipta suasana belajar yang aman, nyaman, dan ramah anak di madrasah kita,” ujar Asep Hasdiyansyah, S.Pd.
Sementara itu, Ketua Kelompok KPM, Chairil Murtala, menyampaikan terima kasih kepada pihak MTsN 4 Banda Aceh yang telah memberikan ruang dan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.
Ia berharap sosialisasi ini tidak hanya memberikan pemahaman kepada siswa mengenai bahaya bullying, tetapi juga mendorong seluruh warga madrasah untuk bersama-sama membangun lingkungan yang saling peduli dan menghargai.
“Kami berharap melalui sosialisasi ini seluruh elemen madrasah, mulai dari siswa, guru, hingga staf, dapat bersama-sama menjadi bagian dalam mencegah perundungan. Menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman merupakan tanggung jawab kita bersama,” ungkap Chairil.
Dalam sesi penyampaian materi, Fuaddatun Najmi menjelaskan berbagai bentuk perundungan, mulai dari bullying secara verbal dan fisik hingga perundungan yang dapat terjadi melalui media sosial. Ia juga memaparkan dampak bullying serta langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menangani perundungan.
Pemateri menyampaikan bahwa perundungan tidak selalu berbentuk tindakan fisik, tetapi juga dapat terjadi melalui ucapan, ejekan, pemberian julukan yang tidak disukai, pengucilan, maupun perilaku di media sosial. Tindakan-tindakan tersebut dapat memberikan dampak terhadap perasaan, kepercayaan diri, dan kenyamanan seseorang.
Karena itu, para siswa diajak untuk lebih peka dalam berinteraksi dengan teman serta memahami batas antara bercanda dan tindakan yang dapat menyakiti orang lain.
“Terkadang kita tidak menyadari bahwa gurauan yang diniatkan bercanda bisa melukai perasaan teman. Oleh karena itu, mari kita bangun kesadaran bersama: jaga diri, jaga teman, dan mari bersama-sama kita wujudkan madrasah yang aman, nyaman, dan ramah bagi siapa saja,” pesan Fuaddatun Najmi.
Fuaddatun juga menekankan pentingnya keberanian untuk mengatakan tidak pada bullying, baik sebagai korban maupun sebagai orang yang menyaksikan terjadinya perundungan. Para siswa didorong untuk tidak menjadi pelaku ataupun membiarkan perundungan terjadi.
Sebaliknya, siswa diharapkan dapat saling mendukung, berani melaporkan tindakan perundungan kepada guru atau pihak yang dipercaya, serta ikut menciptakan lingkungan pertemanan yang penuh kepedulian dan saling menghargai.
Kegiatan berlangsung dengan antusias dan interaktif. Para siswa mengikuti materi dengan baik serta mendapatkan pemahaman melalui contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.*

0 facebook:
Post a Comment