LAMURIONLINE.COM I ACEH BESAR
-  Setiap Muslim hendaknya tidak menunggu datangnya hari perhitungan amal di akhirat untuk menyadari kesalahan dan kekurangan dirinya. Sebaliknya, introspeksi dan evaluasi diri harus dilakukan sejak di dunia. Sebab, ketakwaan merupakan sebaik-baik bekal yang akan menyelamatkan manusia ketika menghadap Allah Swt pada hari kiamat.

Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Ustaz Muhammad Alif Rahmatulloh, menyampaikan hal itu dalam khutbah Jumat di Masjid Jami’ PMDG Kampus 8, Seulimuem, Aceh Besar, Jumat (30/10/2026).

Dalam khutbahnya, dia mengingatkan, iman kepada hari akhir merupakan salah satu rukun iman yang sangat penting. Pada hari itu, seluruh manusia, sejak generasi pertama hingga generasi terakhir, akan dikumpulkan di Padang Mahsyar. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindar dari pengadilan Allah Swt.

Matahari akan didekatkan hingga berjarak satu mil di atas kepala manusia. Akibatnya, manusia akan mengalami kesulitan yang luar biasa dan tenggelam dalam keringatnya sendiri sesuai dengan kadar amal masing-masing. Ada yang keringatnya mencapai mata kaki, lutut, bahkan ada yang sampai menenggelamkan mulutnya.

Ustaz Alif menjelaskan, kengerian hari kiamat tidak berhenti sampai di situ. Manusia juga akan menghadapi pembagian catatan amal perbuatan dan penegakan timbangan keadilan (mizan) untuk menentukan berat atau ringannya amal mereka.

Setelah itu, setiap manusia harus melewati Shirath, jembatan yang terbentang di atas Neraka Jahannam. Jembatan tersebut digambarkan lebih halus daripada rambut dan lebih tajam daripada pedang.

Kecepatan manusia ketika melintasi Shirath pun berbeda-beda sesuai dengan amalnya. Ada yang melintas secepat kilat, secepat angin, berjalan, merangkak, bahkan ada yang tersungkur dan akhirnya terjerumus ke dalam neraka.

Karena itu, Ustaz Alif mengajak kaum Muslimin agar segera bertaubat dan memperbaiki amal sebelum kesempatan hidup di dunia berakhir.

“Bertaubatlah kepada Tuhanmu sebelum datang suatu hari ketika tidak ada lagi jual beli, persahabatan, dan syafaat,” pesannya.

Dia juga mengingatkan,  keberuntungan sejati pada hari kiamat ditentukan oleh beratnya timbangan amal kebaikan. Orang yang berat timbangan kebaikannya akan memperoleh kehidupan yang menyenangkan, sedangkan mereka yang ringan timbangannya akan berakhir di Neraka Hawiyah, yaitu api yang sangat panas.

Menurutnya, seluruh gambaran tentang kedahsyatan hari kiamat tersebut bukanlah cerita atau dongeng untuk sekadar menakut-nakuti manusia. Semua itu merupakan peringatan Allah Swt agar manusia menyadari hakikat kehidupan, tidak terlena oleh kesenangan dunia, dan mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan akhirat.

Oleh sebab itu, setiap Muslim perlu membiasakan diri melakukan muhasabah, mengevaluasi keimanan, memperbaiki ibadah, dan memperbanyak amal saleh. Jangan sampai kesempatan hidup yang diberikan Allah berlalu tanpa diisi dengan kebaikan.

Jangan menunggu dihisab di akhirat. Hisablah diri sendiri hari ini, sebelum tiba saatnya manusia mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya di hadapan Allah Swt. (Sayed MH/Kaffah)

SHARE :

0 facebook:

 
Top