*Alumni SMA Sibreh yang kini berkiprah di dunia akademik ajak calon pemimpin OSIS SMAN 1 Sukamakmur menyiapkan diri menghadapi tantangan masa depan.
LAMURIONLINE.COM I ACEH BESAR – Menjadi generasi muda yang sukses tidak cukup hanya dengan mengandalkan kecerdasan akademik. Integritas, kedisiplinan, kemampuan beradaptasi, dan ketangguhan menghadapi tantangan merupakan bekal penting untuk membentuk pemimpin masa depan. Pesan inilah yang disampaikan Dr. Yusran Asnawi, Wakil Dekan Fakultas Kedokteran UIN Ar-Raniry, saat memberikan motivasi kepada peserta Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) OSIS SMA Negeri 1 Sukamakmur, Aceh Besar, pada Sabtu, 17 Oktober 2026.
Di hadapan para calon pengurus OSIS, Yusran mengajak para pelajar untuk melihat diri mereka bukan sekadar sebagai siswa yang sedang menempuh pendidikan, melainkan sebagai bagian dari generasi yang memiliki potensi besar untuk membawa perubahan. Ia secara khusus mengangkat tema tentang keistimewaan Generasi Z Sibreh, sebuah ajakan agar para pelajar mengenali potensi diri, memahami tantangan zaman, dan berani mengambil peran dalam berbagai bidang kehidupan.
Bagi Yusran, para pelajar Sibreh memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh menjadi pribadi unggul, berkiprah di tingkat daerah, nasional, bahkan internasional. Namun, kesempatan itu tidak akan berarti banyak tanpa kesungguhan dalam belajar, kemauan untuk terus berkembang, serta karakter yang kuat.
Mengenali Generasi Z, Menyiapkan Diri Menghadapi Zaman
Dalam pemaparannya, Yusran menguraikan karakteristik Generasi Z yang tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan arus informasi. Generasi ini memiliki peluang besar untuk mengakses pengetahuan, membangun jejaring, dan mengembangkan kreativitas. Akan tetapi, kemudahan tersebut juga menuntut kemampuan untuk memilah informasi, mengelola waktu, menjaga fokus, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Menurutnya, generasi muda tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus mampu memanfaatkannya untuk menghasilkan karya, menyelesaikan persoalan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia menekankan empat langkah nyata yang perlu dilakukan pelajar Sibreh untuk meraih kesuksesan.
Pertama, aktif berorganisasi. Organisasi menjadi ruang belajar yang penting untuk mengembangkan kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi, kerja sama, tanggung jawab, dan keberanian mengambil keputusan. Melalui OSIS, siswa dapat belajar menghadapi perbedaan pendapat, menyusun program, menyelesaikan persoalan, dan mempertanggungjawabkan amanah yang diberikan.
Kedua, menguasai bahasa dan keterampilan. Kemampuan berbahasa, terutama bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, menjadi modal penting untuk memperluas wawasan serta membuka peluang pendidikan dan karier. Di samping itu, pelajar perlu terus mengembangkan keterampilan sesuai perkembangan zaman, termasuk literasi digital, berpikir kritis, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah.
Ketiga, membuat proyek sosial. Yusran mendorong pelajar untuk tidak berhenti pada gagasan, tetapi berani menghadirkan aksi nyata di lingkungan sekitar. Kegiatan seperti gerakan literasi, kepedulian terhadap lingkungan, penggalangan bantuan sosial, dan kampanye perilaku positif dapat menjadi sarana melatih kepemimpinan sekaligus membangun kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat.
Keempat, disiplin dan istiqamah. Kesuksesan, menurutnya, bukan hasil dari semangat sesaat, melainkan buah dari kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten. Kemampuan mengatur waktu, menepati janji, menyelesaikan tanggung jawab, dan terus berusaha meskipun menghadapi kesulitan merupakan bagian penting dari proses tersebut.
Belajar dari Jejak Para Tokoh Sibreh
Sebagai alumni SMA Negeri 1 Sukamakmur yang dahulu dikenal sebagai SMA Sibreh, Yusran memiliki kedekatan emosional dengan lingkungan sekolah dan masyarakat setempat. Pengalamannya kembali ke sekolah bukan sekadar untuk menyampaikan materi, tetapi juga untuk mengingatkan para pelajar bahwa mereka tumbuh dari lingkungan yang memiliki sejarah dan potensi besar.
Dalam sesi motivasi tersebut, ia mengajak peserta menengok kembali kiprah tokoh-tokoh asal Sibreh yang telah berkontribusi di berbagai bidang profesi, mulai dari tingkat lokal dan kabupaten, hingga nasional dan internasional.
Kisah perjalanan para tokoh itu menjadi pengingat bahwa latar belakang daerah bukanlah batas bagi seseorang untuk meraih cita-cita. Anak-anak Sibreh memiliki peluang untuk menjadi akademisi, tenaga profesional, pemimpin, wirausahawan, maupun tokoh masyarakat yang memberikan manfaat luas.
Namun, keberhasilan generasi terdahulu tidak seharusnya hanya menjadi kebanggaan yang dikenang. Jejak tersebut perlu dijadikan inspirasi untuk melahirkan generasi penerus yang lebih siap, lebih kompeten, dan lebih berintegritas.
Yusran menegaskan bahwa integritas harus ditempa sejak dini. Kejujuran dalam belajar, keberanian mengakui kesalahan, kesediaan menjalankan amanah, serta konsistensi antara perkataan dan tindakan merupakan fondasi kepemimpinan yang tidak dapat ditawar.
Ia juga mengingatkan bahwa perubahan besar harus dimulai dari diri sendiri. Jika bangsa ini ingin mengejar ketertinggalan dalam berbagai bidang, generasi mudanya perlu membangun budaya disiplin, meningkatkan kompetensi, menjaga kejujuran, dan tidak mudah puas dengan pencapaian yang ada.
Dari Bangku Sekolah Menuju Gelar Doktor
Suasana kegiatan semakin interaktif ketika salah seorang peserta, Dinul, yang terpilih sebagai Ketua OSIS, mengajukan pertanyaan tentang kiat menempuh pendidikan hingga mencapai jenjang doktoral.
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu momen penting dalam sesi motivasi. Di hadapan para peserta, Yusran membagikan sejumlah prinsip yang menurutnya perlu dipegang oleh pelajar yang ingin melanjutkan pendidikan hingga jenjang tertinggi.
Ia menekankan pentingnya memanfaatkan waktu dengan baik, menjaga keistiqamahan dalam belajar, memelihara kejujuran, serta tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan akademik.
Baginya, perjalanan pendidikan yang panjang membutuhkan ketekunan dan kemampuan bertahan menghadapi berbagai tantangan. Ada kalanya seseorang menemui kebuntuan dalam memahami pelajaran, mengalami kegagalan, atau menghadapi keputusan sulit. Pada saat seperti itu, seorang pelajar perlu tetap berusaha, mencari solusi, dan belajar dari pengalaman.
Yusran juga menekankan pentingnya menjadikan salat sebagai sumber ketenangan, kekuatan spiritual, dan tempat memohon petunjuk ketika menghadapi kebuntuan dalam belajar maupun mengambil keputusan. Ikhtiar yang sungguh-sungguh perlu berjalan beriringan dengan doa dan penyerahan diri kepada Allah Swt.
Ia turut menyoroti pentingnya daya lenting atau resiliensi, yakni kemampuan untuk bangkit kembali setelah mengalami kegagalan dan terus melangkah meskipun menghadapi hambatan.
Menurutnya, pelajar yang ingin sukses tidak boleh mudah menyerah hanya karena memperoleh nilai yang kurang memuaskan, mengalami kegagalan dalam perlombaan, atau menghadapi kesulitan dalam mencapai target. Kesulitan harus menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki cara belajar dan memperkuat tekad.
Pesan tersebut relevan bagi para calon pengurus OSIS. Kepemimpinan tidak selalu berjalan mulus. Seorang pemimpin harus siap menghadapi kritik, menyelesaikan konflik, menerima masukan, dan tetap bertanggung jawab ketika program yang direncanakan tidak berjalan sesuai harapan.
Kepala Sekolah: Membangun Pemimpin Masa Depan Membutuhkan Kebersamaan
Kepala SMA Negeri 1 Sukamakmur, Khairul Zami, S.Pd., M.Pd. menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Yusran serta para alumni lainnya yang terus memberikan dukungan terhadap upaya sekolah dalam menyiapkan calon pemimpin masa depan.
Menurut Khairul, keterlibatan alumni merupakan kekuatan penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang lebih baik. Alumni tidak hanya menjadi bukti perjalanan dan capaian sekolah, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi, pengalaman, jejaring, dan pendampingan bagi peserta didik.
Ia berharap upaya membimbing generasi muda Sibreh tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Keterlibatan alumni, masyarakat, dan orang tua merupakan keniscayaan apabila semua pihak ingin mewujudkan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan.
Khairul menilai tantangan pendidikan saat ini tidak hanya berkaitan dengan capaian akademik, tetapi juga perkembangan karakter peserta didik yang membutuhkan perhatian bersama. Kemampuan memahami pelajaran perlu berjalan seiring dengan pembentukan kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, kepedulian sosial, dan penghormatan terhadap sesama.
Di tengah derasnya arus informasi digital, remaja membutuhkan pendampingan yang intensif agar mampu menyaring informasi dan membedakan hal yang bermanfaat dari hal yang berpotensi merugikan diri sendiri maupun lingkungannya.
Ia mengingatkan bahwa generasi muda tidak boleh dibiarkan tumbuh tanpa arah dan pendampingan. Mereka perlu dibimbing dengan pendekatan yang bijaksana, keteladanan, komunikasi yang baik, dan penguatan nilai-nilai agama serta budaya lokal.
“Para remaja tidak boleh dibiarkan tumbuh bagai ilalang liar. Mereka membutuhkan pendampingan agar tumbuh menjadi pribadi yang selaras dengan ajaran agama, adat, dan kearifan lokal Aceh yang menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman,” demikian pesan Khairul.
Baginya, pendidikan karakter bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan hanya melalui kegiatan seremonial atau pembelajaran di ruang kelas. Pendidikan karakter perlu dihidupkan dalam keseharian melalui keteladanan guru, perhatian orang tua, lingkungan masyarakat yang mendukung, serta ruang bagi siswa untuk belajar mengambil tanggung jawab.
LDKS sebagai Ruang Menyemai Kepemimpinan
Kegiatan LDKS OSIS SMA Negeri 1 Sukamakmur menjadi salah satu upaya sekolah untuk menyiapkan peserta didik agar mampu menjalankan organisasi secara bertanggung jawab dan berorientasi pada kemajuan bersama.
Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan memahami bahwa menjadi pengurus OSIS bukan sekadar memperoleh jabatan atau pengakuan dari teman-teman. Amanah organisasi merupakan kesempatan untuk belajar melayani, mendengarkan aspirasi, menyusun program yang bermanfaat, serta menjadi teladan dalam sikap dan perilaku.
Motivasi yang disampaikan Yusran Asnawi mempertemukan dua hal penting dalam pendidikan kepemimpinan: dorongan untuk meraih prestasi setinggi mungkin dan komitmen untuk tetap berpijak pada integritas serta nilai-nilai spiritual.
Bagi para pelajar Sibreh, pesan itu menjadi pengingat bahwa masa depan tidak ditentukan semata-mata oleh tempat seseorang dilahirkan atau sekolah tempat ia belajar. Masa depan dibentuk melalui pilihan, kebiasaan, ketekunan, dan keberanian untuk terus memperbaiki diri.
Dari ruang kegiatan LDKS, harapan itu disemai: lahirnya generasi muda Sibreh yang tidak hanya cerdas dan terampil, tetapi juga jujur, tangguh, beradab, serta siap mengambil peran dalam membangun masyarakat dan bangsa.
Sebab, pemimpin masa depan tidak lahir hanya ketika seseorang menduduki jabatan. Ia mulai tumbuh ketika seorang pelajar berani memegang amanah, memilih kejujuran, menghargai waktu, dan melakukan kebaikan secara konsisten bahkan ketika tidak ada seorang pun yang sedang mengawasinya.*


0 facebook:
Post a Comment