Oleh: Juariah Anzib, S.Ag.

Penulis Buku Wakaf di Aceh: Tradisi, Inovasi dan Keberkahan


Masjid Raya Baiturrahman merupakan bangunan megah yang menjadi kebanggaan masyarakat Aceh. Masjid ini memiliki nilai sejarah, identitas, perjuangan, dan peradaban Islam. Lebih dari itu, Masjid Raya Baiturrahman menjadi pusat kehidupan spiritual umat Islam di Aceh. Di balik kemegahan dan keagungannya, tersimpan tanggung jawab besar bagi masyarakat untuk menjaga marwah dan kehormatan rumah ibadah kebanggaan tersebut.

Menjaga marwah masjid bukan semata-mata mempertahankan kemegahan arsitektur, keindahan lingkungan, atau meningkatkan jumlah pengunjung. Lebih dari itu, marwah masjid tercermin dari cara umat memuliakan rumah Allah, menjaga adab, menanamkan nilai-nilai keislaman, serta menjadikannya sebagai pusat ibadah, pendidikan, dakwah, dan pembinaan umat.

Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam program Perbincangan Sabtu Pagi yang disiarkan Radio Baiturrahman FM 98,5 pada 31 Oktober 2026. Acara yang dipandu Irfan Maulana itu menghadirkan Redaktur Senior Tabloid Gema Baiturrahman, Sayed Muhammad Husen, dan Pemimpin Redaksi Tabloid Gema Baiturrahman, Juniazi Yahya.

Juniazi  menyampaikan bahwa Masjid Raya Baiturrahman bukan hanya ikon kebanggaan masyarakat Aceh, melainkan juga destinasi wisata religi, pusat ibadah, pendidikan, dakwah, peradaban, dan pemberdayaan ekonomi umat. Salah satu bentuk pemberdayaan tersebut terlihat melalui keberadaan Baitul Qiradh yang telah berkembang dengan sejumlah cabang di Banda Aceh.

Pengelolaan Masjid Raya Baiturrahman belakangan ini menunjukkan perkembangan. Saat ini, pengelolaannya berada di bawah unit pelaksana teknis daerah (UPTD) Dinas Syariat Islam Aceh. Berbagai pembenahan terus dilakukan untuk meningkatkan pelayanan kepada jamaah dan pengunjung.

Di bawah kepemimpinan Aprilizar, SE, pengelolaan masjid semakin diarahkan pada pelayanan yang nyaman dan berkualitas. Berbagai fasilitas ditata dan dirawat, termasuk  karpet hijau yang tebal sehingga menambah keindahan sekaligus kenyamanan jamaah dan musafir yang beribadah.

Selain pembenahan fisik, publikasi juga memiliki peran penting dalam menjaga eksistensi dan marwah Masjid Raya Baiturrahman. Menurut Juniazi, salah satu kelemahan komunitas umat Islam adalah belum optimalnya pemanfaatan media untuk mendokumentasikan dan menyebarluaskan berbagai capaian peradaban Islam. Padahal, pada masa lalu, perkembangan peradaban Islam turut dikenal luas melalui tradisi literasi dan penulisan buku.

Karena itu, publikasi tentang Masjid Raya Baiturrahman perlu dilakukan secara berkelanjutan. Berbagai keunggulan, kegiatan, dan kontribusinya bagi umat harus terus disampaikan kepada masyarakat luas.

Dari sisi sarana komunikasi, Masjid Raya Baiturrahman memiliki perangkat publikasi yang cukup lengkap. Tabloid Gema Baiturrahman, siaran radio, media sosial, hingga podcast dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi aktual mengenai berbagai kegiatan masjid, termasuk pelaksanaan ibadah shalat lima waktu dan aktivitas keislaman lainnya.

Pengelolaan masjid tidak cukup hanya berorientasi pada pemeliharaan bangunan dan fasilitas. Masjid juga harus dikembangkan sebagai simbol peradaban melalui kegiatan dakwah, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan media Islam. Berbagai pengalaman positif dalam pengelolaan Masjid Raya Baiturrahman dapat menjadi pembelajaran bagi masjid-masjid lain di Indonesia.

Sebagai ikon wisata religi, Masjid Raya Baiturrahman telah menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara. Namun, daya tariknya tidak hanya terletak pada arsitektur dan kemegahan bangunan. Masjid ini juga bagian  dari sejarah dan identitas spiritual masyarakat Aceh, terutama dalam mengenang perjuangan melawan kolonialisme Belanda.

Di tempat ini, jamaah tidak hanya melaksanakan ibadah, tetapi juga memperoleh pengetahuan melalui pengajian dan kegiatan keilmuan. Nilai kepedulian sosial turut tumbuh melalui berbagai kegiatan, seperti wakaf, infak, dan bentuk amal lainnya.

Sementara itu, Sayed Muhammad Husen menegaskan, sejarah Masjid Raya Baiturrahman harus terus dijaga dan dilestarikan. Salah satu  bagian dari warisan sejarah tersebut adalah kubah pertama masjid yang memiliki nilai cagar budaya. Meskipun telah mengalami beberapa kali renovasi dan pengembangan, jejak sejarahnya tetap  dipertahankan.

Masjid yang pembangunannya diinisiasi oleh Sultan Aceh ini tidak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarah masyarakat dan pemerintahan Aceh. Keberadaannya mencerminkan hubungan erat antara umat, kerajaan, dan kemudian negara dalam menjaga kehidupan keagamaan. Hingga kini, pemeliharaan masjid didukung anggaran pemerintah daerah dan partisipasi masyarakat melalui infak dan wakaf.

Dalam perjalanan sejarahnya, Masjid Raya Baiturrahman  memiliki kisah perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Setelah masjid dibakar dalam peperangan, pemerintah kolonial membangunnya kembali. Namun, pembangunan tersebut tidak serta-merta menghapus sikap perlawanan masyarakat. Bahkan, terdapat kisah pemboikotan ketika sebagian jamaah menolak beribadah di masjid yang dibangun oleh pemerintah kolonial tersebut.

Semangat perlawanan itu menjadi bagian dari sejarah panjang Masjid Raya Baiturrahman. Pada era reformasi, semangat tersebut menemukan bentuk perjuangan baru melalui penguatan penerapan syariat Islam di Aceh. Masjid Raya Baiturrahman kemudian menjadi salah satu pusat penyampaian pesan keislaman dan penguatan identitas masyarakat Aceh.

Aceh sekarang ini  masih menghadapi berbagai persoalan sosial, seperti penyalahgunaan narkoba, kemiskinan, pengangguran, dan rapuhnya ketahanan keluarga. Dalam menghadapi tantangan tersebut, masjid memiliki peran strategis untuk menyampaikan pesan perubahan dan pembinaan umat. Pesan-pesan keislaman dapat disebarluaskan melalui siaran radio, Tabloid Gema Baiturrahman, ceramah Magrib, khutbah Jumat, dan berbagai media dakwah lainnya.

Media masjid harus menjadi corong penyebaran nilai-nilai Islam sekaligus penggerak perubahan sosial. Dengan demikian, Masjid Raya Baiturrahman tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pembaruan pemikiran dan gerakan membangun masyarakat Aceh yang berkemajuan dalam bingkai syariat Islam.

Perkembangan Masjid Raya Baiturrahman juga semakin terbuka terhadap dunia internasional, terutama setelah tsunami melanda Aceh pada 2004. Perhatian masyarakat dunia terhadap Aceh turut membuka peluang kerja sama dengan berbagai lembaga dan komunitas Islam di luar negeri. Hubungan dengan Arab Saudi, misalnya, membuka peluang pengembangan pendidikan Islam berbahasa Arab. Kerja sama dengan Malaysia juga memberikan ruang pertukaran pengalaman dalam bidang pendidikan dan pengelolaan masjid.

Untuk itu, jaringan kerja sama internasional tersebut perlu terus dikembangkan. Pertukaran pengetahuan dan pengalaman antarmasjid dapat menjadi sarana memperkuat pendidikan Islam, meningkatkan kualitas pengelolaan, serta memperluas peran Masjid Raya Baiturrahman dalam peradaban Islam dunia.

Dari sisi pariwisata, kemegahan arsitektur Masjid Raya Baiturrahman merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Pada sisi lai,  masjid yang dikenal sebagai salah satu ikon arsitektur Islam di Asia Tenggara ini membutuhkan penguatan komunikasi dan publikasi agar keunggulan dan nilai sejarahnya semakin dikenal luas.

Namun, popularitas tidak boleh menggeser fungsi  masjid sebagai tempat ibadah. Pengaturan kunjungan wisatawan mesti dilakukan dengan memperhatikan adab dan ketentuan yang berlaku. Setiap pengunjung, khususnya wisatawan nonmuslim, harus mendapatkan panduan mengenai tata cara memasuki dan menghormati kawasan masjid. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga kesucian, ketertiban, dan kehormatan rumah ibadah.

Menjaga marwah Masjid Raya Baiturrahman sebenarnya bukan tanggung jawab pengelola semata, melainkan tanggung jawab seluruh masyarakat Aceh. Maka  kemegahan bangunannya harus diiringi dengan kemakmuran masjid, kuatnya kegiatan keagamaan, berkembangnya pendidikan, dan meningkatnya kepedulian sosial dan pemberdayaan umat.

Untuk itu, mari kita jaga bersama warisan sejarah dan peradaban Islam ini dengan memakmurkan masjid, memelihara adab, dan mengembangkan perannya sebagai pusat ibadah, dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, Masjid Raya Baiturrahman akan tetap menjadi kebanggaan Aceh, bukan hanya karena keindahan bangunannya, tetapi juga karena kontribusinya bagi kehidupan umat dan peradaban Islam, kini dan pada masa mendatang.*

SHARE :

0 facebook:

 
Top