Adv

Adv

Semua orang setuju bahwa shadaqah itu perbuatan baik. Sayangnya kebanyakan kita jarang bershadaqah. Bagi sebagian orang, shadaqah itu mudah karena mereka mempunyai harta berlebih dan sebagian yang lain malah enggan bershadaqah. Namun jarang sekali kita menemukan orang yang masih mau bershadaqah di kala hidupnya susah.   Anjuran untuk bershadaqah ketika kita dalam keadaan kaya ataupun miskin adalah ujian dan cobaan. Allah SWT ingin melihat apakah hamba-Nya mampu mengolah amanah yang dititipkan-Nya ketika kaya, dan apakah hamba-Nya tetap mau berbagi ketika miskin. Allah SWT menjanjikan bahwa orang yang senantiasa bershadaqah itu hidupnya penuh berkah. Bukan hanya jaminan balasan yang berlipat ganda (Q.S. Al-Baqarah: 245), bahkan Allah  menjanjikan syurga seluas langit dan bumi kepada mereka yang gemar bershadaqah, baik di kala senang maupun susah (Q.S. Ali-'Imran: 133-134). 

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi SAW pernah bercerita tentang kisah 3 orang Bani Israil yang menderita sakit. Orang yang pertama berpenyakit kusta (abrash), yang kedua berkepala botak (aqra'), dan yang ketiga buta (a'ma). Allah SWT mengutus seorang malaikat untuk menguji mereka. Malaikat mendatangi orang yang berpenyakit kusta dan bertanya, “Apakah yang paling engkau sukai?” Orang tersebut menjawab, “Kulit yang bagus dan sembuh dari penyakit kusta”. Maka malaikat mengusap kulitnya sehingga hilang penyakitnya. Setelah itu malaikat bertanya lagi, “Harta apakah yang paling engkau sukai?” Orang itu menjawab, “Unta”. Malaikat pun memberikannya unta dan berdo'a untuk keberkahannya. Kemudian malaikat mendatangi orang yang berpenyakit rambut rontok dan bertanya, “Apakah yang paling engkau sukai?” Orang tersebut menjawab, “Rambut yang bagus dan sembuh dari penyakit botak”. Maka malaikat mengusap kepalanya sehingga hilang penyakitnya. Setelah itu malaikat bertanya lagi, “Harta apakah yang paling engkau sukai?” Orang itu menjawab, “Sapi”. Malaikat pun memberikannya sapi yang sedang bunting dan berdo'a untuk keberkahannya. Yang terakhir malaikat mendatangi orang yang buta dan bertanya, “Apakah yang paling engkau sukai?” Orang tersebut menjawab, “Aku ingin Allah SWT mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat manusia”. Maka malaikat mengusap matanya sehingga ia bisa melihat kembali. Setelah itu malaikat bertanya lagi, “Harta apakah yang paling engkau sukai?” Orang itu menjawab, “Kambing”. Malaikat pun memberikannya kambing yang sedang bunting dan mendo'akan keberkahan daripadanya. Mereka pun sibuk memelihara unta, sapi dan kambing masing-masing sehingga beranak-pinak banyak memenuhi lembah- lembah. Selang beberapa waktu malaikat kembali mendatangi mereka satu per satu. 

Malaikat mendatangi lelaki yang pertama dengan menyerupai dirinya sebagai orang berpenyakit kusta dan  mengadu, “Aku seorang musafir yang kehabisan bekal, tidak mempunyai tempat mengadu selain kepada Allah dan engkau. Demi Yang yang telah memberikan engkau kulit yang bagus dan harta berupa unta, berikanlah kepadaku bekal supaya dapat meneruskan perjalanan”. Lelaki itu menjawab, “Aku mempunyai banyak t a n g g u n g a n ” . M a l a i k a t p u n mengingatkannya bukankah dia dahulu juga berpenyakit kusta dan miskin, kemudian Allah memberikan kesembuhan dan harta kepadanya. Namun lelaki itu membantah dan menjawab, “Aku mewarisi harta ini dari orang tuaku”. Akhirnya malaikat berkata, “Sekiranya kamu b e r d u s t a , n i s c a y a A l l a h a k a n menjadikanmu seperti semula”. Kemudian malaikat mendatangi lelaki yang kedua dengan menjelma sebagai orang yang berpenyakit rontok dan mendapatkan jawaban yang sama seperti lelaki sebelumnya. Ketika malaikat mendatangi lelaki yang ketiga, malaikat mendapatkan jawaban yang berbeda dari lelaki tersebut, “Aku sebelum ini adalah lelaki buta dan miskin, kemudian Allah memberikan kesembuhan dan harta  kepadaku. Maka ambillah sesukamu karena Allah Ta'ala. Dan malaikat pun menjawab, “Peliharalah hartamu. Sesungguhnya kalian sedang diuji dan Allah Ta'ala telah ridha kepadamu dan murka kepada kedua temanmu” (H.R. Bukhari dalam Kitab Ahadith Al-Anbiya' No. 3464 dan Muslim dalam Kitab Az- Zuhd wa Ar-Raqaiq No. 2964). Dalam hadith tersebut di atas tersirat contoh orang yang pandai bersyukur terhadap ni'mat Allah dan orang yang kufur akan ni'mat-Nya. 

Ingatlah bahwa Allah akan menambah ni'mat apabila kita senantiasa bersyukur dan melenyapkannya apabila kita kufur (Q.S. Ibrahim: 7). Shadaqah yang benar itu mengajarkan kita menjadi orang yang pemurah dan tidak pelit. Bagaimanakah sebenarnya shadaqah yang benar-benar benar? Yaitu shadaqah yang dilakukan atas dasar tulus ikhlas serta tidak ada unsur ria dan pamer dalam memberi. Semoga kita menjadi hamba-hamba Allah SWT yang pandai bersyukur dan gemar bershadaqah sehingga hidup kita penuh berkah. Wallaahua'lam.

© Akhi (Gombak: 19.11.2014, 9:00 a.m.)

SHARE :
 
Top