Adv

Adv

Dok. IST
Gempa, gempa gempa... 
Seketika wajahmu hadir menemani
Air mata tumpah
Mayat-mayat berteriak
Riuhan emosi
Runtuhlah hampir seluruh lautan
Yang dulunya kokoh

Kini sisa kenangan,
Lalu lihatlah takdir, kini menjadi buas
Menghisap hampir seluruh energi bumi
Dan yang tersisa hanyalah elupsi

"Hancur semua tidak ada yang tersisa kasian. Laa ilaaha ilallah Lailahaa ilallah. Apa yang bisa kau banggakan, kecuali ketakutan ini yang menjalar di tubuhmu. Insya Allah kita bisa lewati. Saya tidak terima! Hancur semua, hancur."

Sementara di belahan bumi yang berbeda ada isakan tangis yang mengguncang 
Penuh berderai
Bumi Syam... 
Wahai semesta tanah kami telah dihancurkan
Wahai dunia tidakkah kau lihat, tanah kami telah direnggut kebebasannya
Wahai dunia kau tahu? 

Lampu yang berkedap-kedip" tak henti-hentinya. Suara menggema terdengar di gedung siang itu. Saat sepenggal puisi teatrikal dan monolog yang ditampilkan. Memecahkan keramaian menjadi kesunyian yang terdengar khidmat hingga meneteskan air mata.

Suara itu merasuk ke palung hati, merasakan keperihan. Perih ketika merasakan derita yang dirasakan oleh saudara seiman ketika di timpa sebuah bencana. Apabila anggota tubuh yang satu merasakan kesakitan, maka anggota tubuh yang lainnya ikut merasakan. Seperti itulah diibaratkan sebuah ukhuwah yang terjalin antar sesama manusia.

Suasana begitu terasa padat di gedung Celebes Convention Center yang menandakan bahwa begitu antusiasnya para muslimah menghadari acara Silaturahim Majelis Muslimah Bisa Dan Gema Majelis Tak'lim dengan mengangkat tema "Satu Hati Satu Aksi Untuk Dakwah Kemanusiaan, Minggu (2/12)


Sekitar 930 ribu muslimah yang hadir dalam kegiatan ini. Para peserta memenuhi gedung hingga hampir ke sudut-sudut ruangan. Meja registrasi tak henti-hentinya didatangi oleh membludaknya para peserta untuk dapat menghadiri acara ini. Bahkan dibatasi karena gedung sudah penuh tak ada tempat duduk lagi. 

Sebelum teatrikal berlangsung, saat membuka acara secara resmi, suasana ketika itu terasa bersahabat. Ibu Liestiaty F. Nurdin istri Gubernur provinsi Sulsel mengungkapkan rasa terima kasih dan senangnya ketika di undang dalam acara yang mempertemukannya dengan para muslimah yang pesertanya di berbagai kalangan. 

"Saya begitu bangga dapat hadir dalam kegiatan ini. Saya juga suka dengan ilmu hal ini dibuktikan dengan senangnya saya juga membuat acara seminar-seminar untuk masyarakat, misalnya saja seminar tentang narkoba. Melihat antusias para ibu-ibu membuat saya berpikir bahwa ibu-ibu itu harus pintar. Seorang ibu adalah tiang agama. Seorang perempuan itu memiliki keistimewaan, dapat masuk ke pintu surga yang mana saja. Asalkan ia mampu menjaga kehormatan keluarganya dan mendidiknya dengan sebaik-baiknya" ungkapnya.

Sementara Dr Ir Majdah M Zain MSi selaku Rektor Universitas Islam Makassar, perempuan inspiratif dan cerdas ini,  ketika di depan para peserta ia mengungkapkan setiap manusia itu adalah seorang mubaligh. 

"Ketika bencana datang itu adalah sebuah proses bermuhasabah diri. Karena itulah setiap manusia itu adalah seorang mubalgh. Seorang pembawa amal ma'ruf dan mencegah perbuatan nahi mungkar. Dalam artian jangan pernah berkata yang terpenting bukan saya yang mengalami keburukan. Bukan anak saya yang mengalami keburukan. Bagaimanapun apapun itu sepatutnya selalu memberi kemanfaatan yang berguna bagi orang lain, kalau belum mampu cukuplah bagi keluarga kita sendiri, "ungkapnya.


Ustadzah Harisa Tipa Abidin SPdI sebagai Mubalighat,  Inspirator Hijrah, Aktivis Dakwah dan kemanusiaan mengatakan bencana yang menimpa saudara kita adalah sebuah pembelajaran bagi kita semua. Ketika ustadzah mendeskripsikan pengalamannya saat berada di lokasi bencana, suasana terasa merasuk jiwa dan mencekap yang membuat para peserta turut merasakan oleh ustadzah. 

Setelah acara usai, salah satu mahasiswi bernama Ani mengungkapkan rasa senangnya dapat ikut acara satu hati dan aksi kemanusiaan ia mengutarakan apa yang dirasakannya.

"Saya mendapatkan sebuah hal baru dari acara ini. Teatrikal dan monolog yang begitu menyentuh benar-benar di jiwaku. Merasakan kesedihan dan rasa haru, hingga sempat meneteskan air mata," ungkapnya sambil tersenyum

Acara yang menghadirkan hampir 10 ribu muslimah tentu bukanlah tak memiliki hambatan. Persiapan yang dilakukan itu sekitar 1 bulan sebelum acara berlangsung. Tak main-main panitia volunteer yang dikerahkan sekitar 350 orang dan 15 orang dari Event Organizer (EO).

"Tindak lanjut dari acara ini sebagai respon dari problematika umat yang terjadi yang juga dinamakan sebagai Gerakan Muslimah Bisa yang biasanya diadakan 3 tahun atau 4 tahun sekali. Untuk acara ini, dalam acara yang selalu diadakan oleh Gerakan Muslimah Bisa ada hal-hal baru yang ditampilkan seperti teatrikal yang disajikan sebagai bentuk penggalangan dana dan donasi kemanusiaan, "tutup Ketua EO Zelfia Amran. (smh)
SHARE :
 
Top