Melalui Milad Media LAMURI Yang Ke-10 Kami Terus Berbenah Untuk Berbagi Informasi Kepada Pembaca (15 Juli 2010 - 15 Juli 2019) Lebih Cerdas - Lamuri Online
Loading...

Oleh: Sri Suyanta Harsa
(Muhasabah 21 Syawal 1440)

Saudaraku, menyambung muhasabah tentang pesan moral syawalan, upgrading personaliti islami, maka tema muhasabah hari ini adalah berupaya meningkatkan kecerdasan.

Cerdas di sini tentu harus totalitas kepribadian manusia yang sempurna, meliputi cerdas fisik, cerdas akal pikiran, cerdas perasaan, dan cerdas hatinya. Dengan perincian yang agak banyak Gardner menyebutnya dengan multiple inteligence (kecerdasan ganda). Namun di sini untuk menyebut kecerdasan yang totalitas atau kecedasan holistik, sudah memadahi dengan empat ranah, yaitu cerdas fisik, cerdas akal, cerdas perasaan, dan cerdas hatinya.

Pertama, kecerdasan fisik lazimnya mewujud pada diri yang sehat, bugar, rupawan, tampan/cantik, semampai, menawan, menarik, rapi, pakaiannya islami juga serasi dan terampil. Dalam dunia pendidikan kecerdasan fisik ini dikenal dengan kecerdasan kinestetik (KK). Meskipun usia terus semakin menua, namun KK  mestinya dipertahankan selagi mungkin untuk meraih bahagia.

Agar memiliki KK yang baik, terstandar dan berkualitas, maka dihajadkan usaha maksimal. Untuk ranah ini dapat dilakukan dengan olah raga atau olah fisik secara istiqamah, mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi, halalan thayyiban dan tidak israf atau tidak berlebih-lebihan dan membiasakan puasa.

Ilustrasi
Di samping itu agar KK tetap baik, Islam melarang umatnya menelantarkan fisik/badan apalagi menciderai atau mencelakai diri atau membunuh dirinya sendiri atau orang lain.

Islam mengharamkan umatnya membuat atau dibuatkan tatto pada tangan atau anggota badan lainnya karena melukai diri; mengharamkan merokok karena mengganggu kesehatan (ingat iklannya bahwa para perokok tidak pernah tua! karena mereka mati muda), mengharamkan meminum khamar dan sejenisnya karena dapat merusak diri dan seterusnya.

Kedua, kecerdasan akal biasanya mewujud pada pribadi yang cakap, pintar, genius, intelek, dan memiliki kemandirian dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam dunia pendidikan kecerdasan akal ini dikenal dengan kecerdasan intelektual (KI). 

Agar memiliki KI yang mumpuni dapat dilakukan dengan olah pikir, belajar, mengajar, kuliah, PBM, diskusi, membaca buku-buku, tadabbur alam, merenung berfilsafat dan memikirkan segala ciptaan Allah.

Di samping itu, kita tidak boleh menelantarkan akal pikiran, apalagi merusaknya dengan mengomsumsi rokok, ganja, khamar, dan segala yang membahayakan akal pikiran.

Ketiga, kecerdasan perasaan lazimnya mewujud pada halusnya budi pekerti, care, peduli, sensitif, apresiatif, berjiwa sosial yang senantiasa bisa merasakan apa yang dialami oleh sesamanya. Dalam dunia pendidikan kecerdasan perasaan ini dikenal dengan kecerdasan (sosial) emosional (KE). 

Agar memiliki KE yang standar berkualitas dapat dilakukan dengan olah rasa, berinteraksi berkomunikasi dengan sesamanya dan memahami keadaannya, berinteraksi sosial yang bermartabat, dan bermasyarakat yang berkeadaban.

Keempat, kecerdasan hati lazimnya mewujud pada figur uswatun hasanah, beriman kepada Allah, beramal shalih, bertakwa, sabar, qanaah, 'iffah, wara' dan memeluk akhlaqul karimah lainnya. Dalam dunia pendidikan kecerdasan hati ini dikenal dengan kecerdasan spiritual (KS).

Agar memiliki KS yang standar berkualitas dapat dilakukan dengan olah hati, meningkatkan iman dan ketakwaan, tilawah al-Qur'an, memberi/mendengarkan tausiyah, dan beramal shalih.

Saudaraku, seiring dengan berjalannya kehidupan seringkali peningkatan kecerdasan itu tidak kita sadari, tetapi dengan proses, usaha dan doa yang kita lakukan, sudah semestinya kita mensyukuri kecerdasan yang dianugrahkan Allah ke atas kita, baik di hati, lisan maupun perbuatan nyata.

Pertama, mensyukuri di hati dengan meyakini bahwa cerdas holistik menghajadkan usaha yang holistik juga. Bila usahanya juga sporadis dengan mengutamakan yang satu atas lainnya dikhawatirkan akan memunculkan generasi yang berkepribadian pecah berantakan (split personality) nantinya. Oleh karenanya mestinya kita asah asih asuh fisik, akal, perasaan dan hati kita sehingga meraih kecerdasan sempurna.

Kedua, mensyukuri  di lisan dengan memperbanyak mengucapkan alhamdulillahi raabil 'alamin. Dengan terus memuji Allah dan atas kemahamurahanNya, semoga hari demi hari kita menjadi lebih cerdas 

Ketiga, mensyukuri dengan langkah konkret, yaitu berusaha dan berdoa agar kecerdasan kita memperoleh keberkahan dan di dalam naungan keridhaan Allah.
SHARE :
 
Top