Loading...

Oleh Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 16 Zulkaidah 1440

Ilustrasi
Saudaraku, argumen perlunya manusia memeluk agama (baca Islam) di antaranya karena tuntutan fitrah setiap dirinya, karena tantangan yang dihadapinya dan karena kedhaifan dirinya selaku makhluk. Oleh karenanya dalam iman Islam, kita dituntun untuk berserah diri sepenuhnya hanya kepada Allah. Inilah sebenarnya inti menjadi muslim. Untuk menghadapi tantangan kita dituntun berdoa memohon perlindungan juga petunjukNya dan untuk mengatasi kedhaifan diri kita dituntun untuk memohon pertolongan juga kekuatan dari Allah, sehingga dapat menyelesaikan masalah mengemban peran kekhalilafan di muka bumi ini dengan baik. Di sinilah, betapa pentingnya permohonan atau doa sebagai senjata orang beriman agar tetap aman selamat sentosa dan bahagia.

Realitasnya, tidak bisa dipungkiri bahwa saat hidup di dunia ini tidak ada seorangpun di antara kita yang tidak memerlukan pertolongan Allah. Semua butuh, semua perlu dan semua menghajadkan Rabbnya untuk disembah, dicintai, ditakuti, ditaati titahNya dan dimintai pertolonganNya. Malah dalam Islam hanya Allah sajalah satu-satunya Zat yang layak disembah, dicintai, ditakuti, dimintai pertolongan, dan diikuti titahNya. Kecintaan dan ketaatan kepada selainNya idealnya sangat bergantung dan hanya bermuara pada kecintaan dan ketaatan kepadaNya jua.

Dalam praktiknya, kebutuhan dan dekatnya manusia akan Rabbnya, di antaranya ditunjukkan dengan dipanjadkannya doa. Doa dipahami sebagai permohonan atau penyampaian harapan, permintaan, seruan, puji-pujian yang ditujukan kepada Allah ta'ala. Orang yang tidak pernah berdoa memohon kepada Allah, dinilai sebagai kesombongan yang paling nyata sebagai seorang hamba. Karena itu, doa bukan saja menunjukkan kedhaifan dan kecilnya manusia di hadapan Allah Yang Maha Besar, tetapi justru sekaligus menjadi instrumen kekuatan yang maha dahsyat. Jadi berdoa yang dilakukan oleh seseorang itu justru menunjukkan kekuatan dan kehebatan dirinya sebagai wujud penghambaan diri pada Allah Rabbuna. Inilah bedanya dengan meminta-minta pada sesama yang nyata-nyata akan menunjukkan kelemahan atasnya.

Umat Islam lazimnya memanjadkan doa secara formal dan tidak formal. Permohonan secara formal dilakukan saat shalat, karena seluruh aktivitas, bacaan dan kaifiatnya dari takbir sampai salam mengandung doa permohonan, puji-pujian dan harapan yang ditujukan kepada Allah swt. Sedangkan permohonan tidak formal dilakukan umat Islam dalam setiap aktivitasnya secara bebas kapan saja, di mana saja dan untuk maksud kebaikan apapun juga. Misalnya saat akan tidur dan bangun tidur, akan dan usai mandi, saat bercermin dan mengenakan baju, pakai sepatu, akan keluar atau masuk rumah, menaiki kendaraan, memulai dan mengakhiri suatu pekerjaan di tempat kerja, akan makan minum dan setelah selesai, keluar masuk kamar kecil, akan belajar dan setelah selesai belajar dan seterusnya. Atau saat-saat kondisi yang relevan, berdoa bersama-sama, saat "beribadah" bersama suami atau istri, saat gelar akikah, saat nikah, walimatul 'ursy, walimah safar, buka usaha atau rumah baru, dan seterusnya.

Allah menuntun kita di beberapa tempat dalam firmanNya. Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (Qs. al-A’raf 55)

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam  hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, di waktu pagi dan petang, dan dengan tidak mengeraskan suara, dan jangalah kamu termasuk orang-orang yang lalai (QS.al-A'raf: 205).

Katakanlah: “Serulah (berdo’alah kepadaku) Allah atau serulah Al-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaa-ul husna (nama-nama yang   terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu, dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu” (Qs.Al-Isra’  110)

Saudaraku, kita meyakini sepenuhnya bahwa semua doa yang kita sampaikan pasti diijabah oleh Allah ta'ala, karena Allah juga disifati dengan Al-Sami' juga Al-Mujiib.

Sebagai Al-Sami dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mendengar, maha memperkenankan doa permohonan yang disampaikan oleh hamba-hambaNya, malah yang tidak diucapkannya sekalipun, karena Allah maha mengetahuinya.

Allah sebagai Al-Mujib secara populis dimaknai bahwa Allah adalah zat yang maha mengabulkan doa. Allahlah yang mengijabahi seluruh permohonan dari hamba-hambaNya. Allah lah yang menjawab semua keluhan hamba-hambaNya. Allah lah tempat berlabuhnya semua perasaan hamba-hambaNya.

Asma Allah, al-Mujib disebut dalam al-Qur'an, Allah berfirman yang maknanya Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)“. (Qs. Hud 61)

Oleh karenanya sudah selayaknya kita mengembangkan akhlak mensyukuri kedahsyatan doa yang kita sampaikan dan sekaligus mensyukuri perkenan Allah atas doa kita, baik dengan hati, lisan maupun tindakan nyata.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa doa bagi orang Islam merupakan senjata yang sangat dahsyat kekuatannya. Orang Islam yang jarang berdoa berarti ia telah menyia-nyiakan senjata yang dimilikinya, padahal sangat diperlukannya. Apalagi setiap kita menghadapi problema, dan tantangan hidup yang berbeda-beda dan beragam skalanya. Dan  Allah maha mendengar, maha mengabulkan seluruh permohonan kita, cepat atau lambat bersesuaian dengan kondisi dan kebaikan bagi kita.

Kedua, mensyukuri dengan lisan seraya memperbanyak ucapan alhamdulillahi rabbil 'alamin atas perkenan Allah terhadap permohonan yang senantiasa kita panjadkan ke haribaanNya. Seandainya ada permohonan yang belum dikabulkanNya, berarti Allah menginginkan kita lebih sering lagi menyebut asmaNya dan memohon kepadaNya. Dan pasti suatu saat cepat atau lambat, doa dan permohonan hamba dikabulkannya, atau diganti dengan lainnya yang lebih maslahah bagi dirinya.

Ketiga, mensyukuri dengan langkah nyata, yaitu senantiasa berdoa memohon apapun hajad kebutuhan kita. Karena doa itu permohonan atau permintaan  yang dapat disampaikan secara lisan tetapi juga melalui getaran atau bisikan dalam hati, maka cukuplah diri kita sendiri dan Allah sajalah yang mendengarnya. Artinya saat berdoa tidak perlu dengan berteriak-teriak atau bersuara keras sehingga justru mengurangi kekhusyukannya. Kecuali untuk tujuan pengajaran, maka bacaan doa lazim dilakukan dengan jelas. Karena Allah juga Al-Sami', zat yang maha mendengar, maha mengabulkan permohonan.

Di samping itu, tentu sebagai hambaNya yang dhaif juga berdoa kepada Allah atas apapun persoalan yang kita hadapi dan cita cinta kita, agar mendapat solusi dan meraih kebahagiaan abadi. 

Agar doa dan permohonan diijabah oleh Allah swt, kita juga harus sadar dan tahu diri dengan senantiasa menjaga ketaatan kepadaNya, memelihara diri dari menggunakan fasilitas atau mengonsumsi makanan minunan yang makhruh apalagi haram serta tidak berlebihan.

Sembari berusaha, maka dzikir pengkondisian jiwa penyejuk qalbu agar hati terbuka sehingga khusyuk saat berdoa bersungguh saat berusaha adalah membasahi lisan dengan mengucapkan ya Allah ya Sami', ya Allah ya Mujib al-Saailin, Allah ya Sami', ya Allah ya Mujib al-Saailin, Allah ya Sami', ya Allah ya Mujib al-Saailin.
SHARE :
 
Top