Loading...

Oleh Sri Suyanta Harsa

ilustrasi
Muhasabah 28 Rabiul Awal 1441
(Catatan Hari Guru)

Saudaraku, dalam setiap pelatihan guru, kita sering diingatkan bahwa di dunia ini hanya ada dua predikat untuk pekerjaan. Dalam hal ini, saya juga sering bertanya kepada peserta pelatihan, tetapi belum pernah memperoleh jawaban benar seketika. Padahal sudah saya pancing bahwa predikat pekerjaan yang satu adalah GURU, lalu predikat yang lain apa? Jawaban untuk predikat pekerjaan yang satu lagi ternyata sangat beragam. Ada yang menjawab presiden, ada yang bilang menteri, ada yang mengatakan gubernur, ada yang berpendapat pedagang, kontraktor dan seterusnya. Mungkin kalau diulur-ulur terus akan ada yang  menjawab maling atau penjahat atau koruptor.

Karena lama tidak kunjung memperoleh jawaban yang diinginkan, maka saya jawab sendiri. Predikat yang pertama adalah GURU dan yang kedua adalah SELAIN GURU. Sebelum peserta tertawa berketerusan heran dan tidak menyangka-nyangka. Kemudian saya katakan bahwa menjadi seorang pesiden, atau menteri atau gubernur, atau pedagang, atau kontraktor atau predikat apapun juga yang pasti mereka semua memiliki guru dan dilahirkan oleh rahim yang bernama guru. Bahkan para maling, atau penjahat atau koruptor sekalipun, ia pasti punya "guru", minimal gurunya adalah pengalaman nyurinya, pengalaman berbuat jahatnya, praktik korupsinya sendiri yang belum ketahuan.

Nah, guru itu hebat, bukan? Semua predikat atau pekerjaan apapun di dunia ini lahir dari rahimnya. Guru dalam konteks ini mengakomodir para pihak termasuk dosen, widyaiswara, tutor, pelatih, pembina, kyai, teungku, dai, orangtua dan orang-orang yang mengemban peran pendidikan dan pelatihan lainnya.  Hari ini dan untuk selamanya kita takdhim kepada semua guru kita sejak orangtua dan keluarga di lingkungan informal, guru PAUD, RA/TK, MI/SD, MTS/SMP, MA/PGA/SPG/SGO/SMA/SMEA/STM, para dosen di lingkungan formal sampai para ustad/ustadah/khatib/penceramah/penulis di lingkungan nonformal.

Dalam iman Islam, semua guru yang ditaati petuahnya dan diteladani akhlaknya adalah mengemban misi risalah, waratsatul anbiya, agen perubahan zaman, dan berperan mewariskan surga (baca kebahagiaan)  bagi diri dan peserta didiknya. Oleh karenanya asuhan dan bimbingannya tidak terbatas pada melatih fisik sehingga terampil, mengajari akal pikiran sehingga pintar, tetapi juga mendidik hatinya sehingga memiliki kemandirian sikap berakhlaqul karimah. Inilah yang saya sebut guru sikap, untuk membedakan dengan guru silat.

Tanpa mengurangi rasa takdhim kita pada guru di manapun dan dalam konteks apapun jua, dua prasa kata yang menjadi judul muhasabah hari ini tentu punya makna yang berbeda.

Guru sikap berusaha mendidik peserta didik (anak, siswa, mahasiswa) agar dapat menjadi terdidik sehingga sikap kesehariannya merupakan akhlaqul karimah. Sedangkan guru silat berusaha melatih agar peserta didiknya terampil olah kanuragan, yakni memiliki ilmu bela diri secara supranatural, termasuk kemampuan bertahan (kebal) terhadap serangan dan kemampuan untuk menyerang dengan kekuatan yang luar biasa.

Guru sikap berusaha mentransfer seluruh kemampuan bahkan totalitas kepribadiannya, sehingga peserta didik menjadi pribadi yang sempurna atau bahkan melampaui gurunya; lebih terampil, lebih cerdas, lebih berhasil. Sedangkan guru silat biasanya tidak mentransfer semua keahlian dan jurus olah kanuragannya. Tetap saja ada satu atau beberapa ilmu dan jurus pamungkas yang menjadi andalan dirinya dirahasiakan sehingga tidak tersaingi di padepokannya, kecuali jelang dekat wafatnya.

Ketika telah dapat mendidik anak-anak kita dan peserta didik lainnya dengan baik, sehingga memiliki sikap terpuji, maka sudah selayaknya kita bersyukur kepada Allah, baik di hati, lisan maupun perbuatan konkret.

Pertama, mensyukuri di hati dengan meyakini sepenuhnya bahwa guru mengemban peran waratsatul anbiya', pewaris para nabi yang bertugas mengeluarkan manusia dari kegelapan karena kebodohannya kepada suasana terang benderang berilmu pengetahuan dan bertenologi karena akhlak dan budi pekertinya.

Kedua, mensyukuri di lisan dengan memperbanyak mengucapkan alhamdulillahi rabbil 'alamin. Dengan terus memujiNya semoga Allah menganugrahi hidayah dan inayahNya kepada kita sehingga senatiasa istiqamah dalam menunaikan tugas mendidik putra putri bangsa ini dengan sebaik-baiknya.

Ketiga, mensyukuri dengan perbuatan nyata, yaitu menjalankan amanah pendidikan kepada anak-anak kita dan sesamamya sehingga meraih bahagia bersama-sama.

Sehubungan dengan tema muhasabah hari ini, maka dzikir pengkodisian hati penyejuk kalbu guna menjemput hidayahNya adalah membasahi lisan dengan lafal ya Allah ya Rabbiy ya Haakim ya Haady. Ya Allah zat yang maha mendidik, zat yang maha mengaruniai kebijaksanaan, tunjuki kami jalan untuk meraih keridhaanMu ya Rabb. Aamiin.

Berbahagia Menjadi Guru
Dirgahayu Guruku
Guru bangsaku
Penggerak
Indonesia
Maju
SHARE :

0 facebook:

Post a Comment

 
Top