Loading...

Oleh Sri Suyanta Harsa

sumber ilustrasi: REQnews.com
Muhasabah 11 Syakban 1441
Saudaraku, indahnya berislam sungguh mengagumkan dan dapat dinikmati oleh siapa saja, kapan saja, di mana saja dan dalam kondisi apapun juga. Kita akan tunjukkan satu saja semacam "standar operasional prosedur atau SOP" perilaku akhlaqul karimah untuk tema muhasabah hari ini, yaitu akhlak bersin. Mengapa ini menjadi hal penting untuk dingat kembali?

Karena di ataranya, akhir-akhir ini, saat covid 19 mewabah global, maka bersin atau batuk bisa membuyarkan suasana, karena menjadi di antara kondisi buruk yang sangat memungkinkan dapat menyebarkan virus melalui percikan partikel-partikel air liur yang keluar dari mulut atau hidung saat bersin atau batuk. Konon kabarnya virus bisa meloncat dengan gaya bebas dalam jarak relatif jauh.

Menurut postingan wikipedia, bersin adalah adalah keluarnya udara semi otonom yang terjadi dengan keras melalui hidung dan mulut. Udara ini dapat mencapai kecepatan 70 m/detik (250 km/jam). Bersin dapat menyebarkan penyakit lewat butir-butir air yang terinfeksi yang diameternya antara 0,5 hingga 5 µm. Sekitar 40.000 butir air seperti itu dapat dihasilkan dalam satu kali bersin.

Begitu, dahsyatnya sekali bersin, padahal biasanya bersin bisa berulang kali. Oleh karenanya, kita bersyukur kepada Allah telah menurunkan syariat Islam yang universal dan komprehensif. Termasuk dalam tuntunan saat bersin atau batuk. 

Pada tubuh kita ini, ada beberapa hal yang tidak bisa dielak atau ditahan-tahan oleh siapapun dan sebaiknya segera ditunaikan, seperti hajat buang air besar (bab), buang air kecil (bak, pipis), keringatan dan bersin atau batuk. Pas saatnya tiba, mestinya ya ditunaikan saja, tidak elok ditahan-tahan. Karena semua yang akan keluar tersebut ya harus segera dikeluarkan, bila ditahan-tahan menjadi tidak baik bagi kesehatan diri. 

Nah, khusus tentang  akhlak bersin saya kutipkan postingan dari Harakah Islamiyah.com dengan editing dan tambahan untuk menjelaskan sehingga mudah dipahami. Setidaknya, ada tiga adab yang perlu kita lakukan saat bersin, yaitu;

Pertama, menutup mulut dan hidung dengan tangan atau siku sebelah dalam. Hal ini dimaksudkan agar udara atau kotoran yang keluar akibat bersin tidak menyebar dan terkena pada orang lain atau menempel pada media tertentu. Selain itu, hal tersebut merupakan sunnah Nabi saw. Abu Hurairah berkisah;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا عَطَسَ غَطَّى وَجْهَهُ بِيَدِهِ أَوْ بِثَوْبِهِ وَغَضَّ بِهَا صَوْتَهُ
Sesungguhnya Nabi saw ketika bersin, beliau menutup wajahnya dengan tangan atau kainnya sambil merendahkan suaranya (HR. Al-Tirmidzi)

Setelah bersin, syukur-syukur, kita dapat sesegera mungkin mencuci tangan atau berwudhuk kembali agar segala kotoran atau virus yang menempel di telapak tangan atau lainnya dapat dibersihkan kembali.

Kedua, merendahkan suara saat bersin. Kita dianjurkan untuk merendahkan suara saat bersin sehingga tidak mengganggu atau menyakiti orang lain. Nabi saw bersabda;

إذا تجشأ أحدكم أو عطس فلا يرفعن بهما الصوت ، فإن الشيطان يحب أن يرفعه بهما الصوت
Jika salah seorang di antara kalian bersendawa atau bersin, maka jangan mengeraskan suara dengan keduanya. Karena setan senang terhadap salah seorang dari kalian yang mengeraskan suara saat bersin dan bersendawa.(HR. Al-Dailami).

Rasanya tidak etis bila mengeraskan suara saat bersin atau batuk, sehingga kedengaran dari jarak jauh. Karena dalam praktiknya, malah ada orang yang justru suara bersinnya menjadi tanda akan keberadaan seseorang, meski di tempat yang relatif jauh. Bahkan ada yang mengucapkan kata atau suara yang enggak karuan nadanya. Ini kan keterlaluan, namanya.

Ketiga, membaca hamdalah dengan suara yang bisa didengar oleh orang lain. Nabi saw bersabda;

إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَإِذَا قَالَ لَهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَلْيَقُلْ يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ
Jika salah seorang dari kalian bersin, hendaknya dia mengucapkan, ‘Alhamdulillah’ dan saudaranya atau temannya (yang mendengar) hendaklah mengucapkan, ‘Yarhamukallah (Semoga Allah merahmatimu).’ Jika saudaranya berkata ‘Yarhamukallah,’ maka hendaknya dia berkata, ‘Yahdikumullah wa yushlihu balakum (Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki hatimu).” (HR. Al-Bukhari).

Saudaraku, sesaat setelah bersin kita membaca 'alhamdulillah’, segala puji hanya bagi Allah. Coba, mengapa kita bersyukur kepada Allah saat bersin?. Ya itu tadi definisi bersin kan keluarnya sesuatu yang memungkinkan ada virus atau bibit penyakit. Makanya kita mensyukurinya. Bersinnya orang sehat saja, juga menimbulkan bau yang tidak sedap karena mulut adalah anggota tubuh yang paling kotor, apalagi bersinnya orang sakit. Makanya bersin harus dikedalikan, tidak bebas, jangan liar.

Kemudian bagi orang yang ada di sekitarnya yang mendengar ucapan hamdalah dari orang yang bersin disunatkan mendoakannya seraya membaca ‘Yarhamukallah" Semoga Allah merahmatimu’  Semoga Allah menganugrahi kesehatan kepadamu.

Nah, kemudian seseorang yang bersin membalas mendoakan orang yang barusaja mendoakannya, dengan membaca  ‘Yahdikumullah wa yushlihu balakum, semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki hatimu.

Indah, bukan? Pertama, keberadaan seorang muslim dan sikap serta kondisinya di manapun dan kapanpun tidak boleh memberikan dampak negatif yang merugikan pada lingkungan dan sesamanya. 

Kedua, saling mendoakan. Inilah pesan moral ajaran Islam, dimana seseorang di samping harus menjaga dirinya sendiri juga harus menjaga kepentingan orang lain, bahkan saling mendoakan kebaikan satu dengan lainnya.

Ketika kita mampu menjaga diri dan memberi rasa aman kepada sesamanya, maka kini saatnya bagi kita menambahi rasa syukur ke haribaan Allah ta'ala,  baik di hati, lisan maupun perbuatan nyata. Pertama, mensyukuri di hati dengan meyakini bahwa  keselamatan diri dan orang lain menjadi tanggungjawab bersama. Jadi harus saling pengertian, saling menjaga dan saling ingat mengingatkan. Kedua, mensyukuri dengan lisan seraya melafalkan alhamdulillahi rabbil 'alamin. Dengan memujiNya, semoga Allah menganugrahi kita sikap kehati-hatian, sehingga dapat memberi rasa aman rasa kepada diri dan sesamanya. Ketiga, mensyukuri dengan langkah konkret, menjaga etika saat bersin agar tidak menimbulkan mudharat pada diri dan orang lain.

Sehubungan dengan tema muhasabah hari ini, maka dzikir pengkodisian hati penyejuk kalbu guna menjemput hidayahNya adalah membasahi lisan dengan lafal ya Allah ya Rahman ya Rahiim ya Waduud. Ya Allah, zat yang maha pengasih, zat yang maha penyayang, zat yang maha mencintai, tunjuki kami ke jalan keridhaanMu ya Rabb. Aamiin.
SHARE :
 
Top