Loading...

Oleh: Nursalmi SAg

sumber foto: atjehwatch.com
Wabah corona telah menjangkiti umat manusia di seluruh penjuru dunia, dan mengakibatkan jatuhnya korban sampai jutaan orang, baik yang tewas maupun yang dirawat, meskipun ada juga yang sembuh. Kedatangannya sangat meresahkan, karena banyak aktivitas yang terganggu, bahkan ada yang terhenti dikarenakan kita harus di rumah saja untuk memutuskan mata rantai virus covid-19. Hal ini juga menjadi kendala dalam proses perjalanan dakwah. Corona mengharuskan kita lockdown sehingga dakwah tidak bisa dilakukan dengan cara tatap muka antara jamaah di dalam majlis taklim. 

Baru satu minggu majlis taklim diliburkan, ibu-ibu jamaah sudah mulai resah karena tidak bisa mengikuti taklim. Tidak ada penambahan ilmu, otak tidak ternutrisi, jika ini berlalu lama maka otak akan kekurangan gizi, lama kalamaan otak akan kosong dan bisa masuk angin, serta dikhawatirkan nanti akan bertambah lalai dan malas menghadiri majlis ilmu. 

Ada juga ibu-ibu jamaah yang mengatakan nanti bacaan Alquran kami tidak lancar lagi, karena di rumah membaca sendiri, tidak ada yang memperbaiki jika bacaan kami salah. Mereka berharap corona segera pergi agar libur pengajian tidak begitu lama. Karena ingin membaca dan memperbaiki bacaan Alqurannya secara langsung di di hadapan ustadz/ustadzah. 

Ada sebagian ibu-ibu yang sudah pandai menggunakan IT, mereka meminta pengajian tetap dilaksanakan walaupun harus melalui hand phon android, dengan menggunakan aplikasi ZOOM. Inipun tidak juga membuat pengajian bisa berjalan lancar, disebabkan jaringan yang sering terganggu. Sehingga suara terputus-putus dan pesan dakwah yang disampaikan tidak bisa dipahami dengan baik. Karena itu jamaah meminta agar pengajian atau taklim dilaksanakan dengan cara langsung duduk di majlis talkim, mereka juga sudah tidak sabar menunggu masa pandemi ini berakhir. 

Ini sekilas problem yang membuat dakwah sangat terganggu di tengah-tengah wabah ini. Namun demikian dakwah tidak boleh berhenti sekejabpun, karena apabila dakwah berhenti maka dunia ini akan hancur. Satu menit saja dahwah berhenti maka akan lahir seribu kemaksiatan. Oleh karena itu, dalam kondisi bagaimanapun dakwah harus tetap berjalan. Jangankan dalam masa musibah wabah seperti ini, dalam berbagai tantangan  dan rintanganpun dakwah tetap harus dilaksanakan dengan cara mencari metode yang sesuai dengan kondisi. 

Lihat saja mereka yang sudah haus dengan ilmu, mereka yang selalu memubutuhkan siraman rohani, yang selalu menanti jadwal agenda dakwah, yang selalu merindukan suara qiraah Alquran, rasanya tidak menginginkan waktunya terbuang begitu saja dengan percuma. Mereka merasa rindu dengan teman-teman ahli surga untuk duduk bersama-sama di taman surga ( majlis ilmu ) untuk menikmati seteguk air dan sepotong buah-buahan surga. 

Meskipun banyak umat merindukan dakwah, haus dengan siraman rohani, merindukan sahabat untuk berkumpul di majis ilmu dan majlis zikir. Dalam masa pandemi dakwah bisa dilaksanakan melalui media onlie, tetapi tetap saja ada kendala. Dakwah lebih efektif dilaksanakan secara tatap muka di majlis ilmu. Mengkaji bersama, berdiskusi secara langsung. 

Pelaksanaan dakwah secara online sangat terbatas di kalangan tertentu saja. Bagi orang yang memiliki fasilitas android mungkin bisa memasang aplikasi tertentu untuk bisa mengikuti dakwah. Namun tidak semua orang memilikinya. Yang memilikipun tidak semua mempunya wifi di rumahnya dan tidak semua mampu membeli kuota. Apalagi bagi masyarakat pedesaan, jangankan untuk menggunakan android kadang handphon seluler biasa saja tidak punya. Kalaupun ada kadang jaringan tidak sampai ke tempat mereka. Hal ini menjadi salah satu kendala dakwah di tengah mewabahnya covid-19. 

Kondisi seperti ini juga menjadi renungan bagi kita, sekarang kita baru menyadari ketika majlis majlis ilmu dan zikir sudah di tutup. Mungkin sebelumnya kita rela menghabiskan waktu pada hal-hal tidak berguna, di tempat-tempat yang membuat kita lalai dengan kehidupan dunia. Kita rela berjam-jam keliling mall hanya untuk mencari sesuatu yang tidak terlalu penting. Tidak sedikitpun merasa rugi  duduk nongkrong sampai tengah malam di cafe atau tempat karaoke. Tidak pernah bosan untuk melakukan perjalanan traveling, hobby bersepeda, vespa clasic, memancing yang bukan untuk kebutuhan keluarga, tetapi hanya sekedar hobby melepaskan kejenuhan dan kesibukan lainnya yang tidak bermanfaat. Namun merasa enggan untuk duduk di majlis ilmu walau hanya sebentar saja. 

Ketika Allah Swt. Mengirimkan makhluk kecil-Nya yaitu virus corona menyerang penduduk seluruh dunia, menegur kita yang telah jauh lalai dari mengingat Allah. Di sini Allah membuka mata hati kita, agar sadar dan inshaf terhadap amalan yang telah diperbuat. Ketika lockdown diberlakukan kita tidak bisa kemana-mana, tidak bisa mengikuti taklim, tidak bisa shalat jamaah di mesjid, baru sadar dan langsung protes, majlis zikir tidak boleh ditutup, shalat jamaah tidak boleh dilarang, padahal sebelumnya tidak pernah datang ke majlis ilmu dan tidak pernah melaksanakan shalat berjamaah di mesjid. 

Mari kita renungkan firman Allah dalam Alquran yang mulia, 

 اِنَّ اللّٰهَ لَا يَسْتَحْيٖٓ اَنْ يَّضْرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوْضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۚ وَاَمَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَيَقُوْلُوْنَ مَاذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِهٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهٖ كَثِيْرًا وَّيَهْدِيْ بِهٖ كَثِيْرًا ۗ وَمَا يُضِلُّ بِهٖٓ اِلَّا الْفٰسِقِيْنَۙ 

“Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi mereka yang kafir berkata, "Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?" Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang dibiarkan-Nya sesat, dan dengan itu banyak (pula) orang yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu selain orang-orang fasik”. ( Al-Baqarah: 26 ). 

Ini baru Allah kirim tentaranya dari golongan makhluk paling kecil, bahkan lebih kecil dari nyamuk. Agar manusia bisa mengambil ibrah. Makhluk sehalus ini, mampu membunuh manusia yang paling kuat sekalipun. Kita sudah kewalahan menghadapinya. 

Bagaimana jika Allah mendatangkan huru hara kiamat, sudah siapkan kita. Ini baru diberlakukannya locdown kita tidak bisa mengikuti dakwah seperti biasa, tidak bisa belajar membaca Alquran secara langsung di hadalan guru. Tidak bisa shalat jamaah dan shalat jumat di mesjid. Coba bayangkan suatu saat yang mungkin tidak lama lagi Allah menjemput para ulama kembali ke hadirat-Nya dan tulisan Alquran sudah dihilangkan, apa yang bisa kita lakukan, penyesalan selalu datang belakangan saat tidak berguna lagi. 

Oleh karena itu, kita wajib mencari ilmu sebelum beramal, karena ketika kita hendak melaksanakan suatu amalan yang sangat mendesak dan kita belum mengetahui ilmu fiqhnya, tidak ada waktu lagi untuk belajar, apalagi majlis taklim sedang tidak bisa dijalankan. Seperti masalah penangan fardhu kifayah terhadap jenazah korban corona. Selama ini tidak pernah dikaji dalam majlis-majlis taklim, ketika menghadapi problem seperti ini, membuat umat bingung sehingga menimbulkan kekhawatiran yang berlebihan terhadap jenazah yang dibawa pulang ke daerahnya, yang mengakibatkan di beberapa tempat jenazah ada yang tidak diterima di kampunh halamannya. 

Oleh karena itu, manfaatkanlah sisa-sisa waktu dan umur kita sebaik-baiknya. Perbanyak membaca Alquran, jika belum pandai membacanya segera cari ustadz/ustadzah untuk belajar. Segera mengikuti taklim untuk mencari bekal agar ibadah bisa dilakukan dengan baik, karena ibadah tanpa berilmu akan ditolak. Di masa pandemi ini, jangan ragu untuk mengeuarkan sedikit dana membeli kuota internet agar bisa mengukiti pengajian lewat online, nanti ketika masa mandemi berakhir maka segera kita mencari majlis-majlis dakwah. 

Semoga kondisi seperti ini menjadi pelajaran buat kita untuk memperbaiki diri lebih bertaqarrub ilallah ( mendekatkan diri kepada Allah ). Untuk itu, mari kita bertaubat kepada Allah, memperbanyak istighfar, karena bala tidak diangkat kecuali dengan taubat dan istighfar. Perbanyak sedekah, karena sedekah bisa menghapus dosa. Perbanyak doa bermunajat kepada Allah agar menerima taubat kita, dan bermohon agar wabah corona ini segera berakhir. 

Semoga kita termasuk golongan at-tawwabiin ( orang yang bertaubat ) dan golongan al-mutathahhiriin ( orang yang mensucikan diri ). Semoga kita menjadi orang yang terus menerus mencari ilmu minal mahdi ilallahdi ( dari ayunan sampai liang lahad ). Dan menjadi pengemban dakwah untuk menyampaikan risalah Allah kepada ummat. Apapun rintangan, dakwah tetap harus berjalan. Bagaimanapun kondisi, dakwah tidak boleh berhenti. Hanya kepada Allah kita berserah diri.
SHARE :
 
Top