Loading...

Oleh T.A. Sakti

sumber ilustrasi: www.antarafoto.com
Khanduri Tamaddaroih (Kenduri tanda tamat tadarrus Al Qur’an) adalah tradisi di bulan Ramadhan yang terus berkembang di Aceh  hingga sekarang.  Dulu, setiap kali – biasanya  3 s/d  4 kali – tadarus/pembacaan Al Qur’an dapat ditamatkan, khanduri tamaddaroih pasti akan berlangsung di Meunasah.

Sekarang pun demikian!. Perbedaannya jelas ada, antara lain tentang saat/waktu acara itu berlangsung dan jenis“selingan” yang ditampilkan sebelum  makan bersama tersebut dilaksanakan. Hanya karena sedang dilanda penyakit tha’un, tradisi Aceh di bulan Puasa  tahun 1441 H  ini menjadi sepi!.

Memang ada perbedaan waktu makan khanduri tamaddaroih antara zaman dulu dengan sekarang. Kalau dahulu pasti tetap pada saat dinihari,  yang sekaligus menjadi makan sahur bagi  warga kampung  yang hadir. Sedangkan sekarang, waktu makan kenduri itu sudah berubah,yakni dilangsungkan  setelah shalat maghrib berjamaah.

Acara  “selingan”  pun pada malam itu juga sangat berlainan antara dulu dengan masa kini. Dewasa ini penduduk desa yang hadir disuguhi ceramah agama yang disampaikan oleh Teungku (ahli agama), yang sengaja diundang untuk tujuan itu. Atau kalau acara ceramah tak jadi, biasanya diganti dengan do’a bersama, yakni semacam do’a bersama pada bermacam kenduri dalam tradisi Aceh - yakh,  paling lama 20 menit!.

Pada zaman dulu sebelum acara menikmati hidangan, peserta yang hadir terlebih dahulu melakukan tarian syukuran yang dinamakan: Grop Tamaddaroih (tarian Tadarrus). Pembacaan Al Qur’an sengaja ditiadakan pada malam tersebut. Waktunya, sejak selesai sembahyang ‘Isya sampai saat makan sahur; paling lambat jam  tiga  dini hari.

Dengan melilitkan kain sarung di pinggang agar lebih tegap, peserta tarian  mengatur posisi menurut panjang -lebarnya Meunasah yang bertiang tinggi itu. Tua muda ikut serta dalam permainan ini, tak terkecuali penganten baru(Linto baro), yang biasanya  lebih dihormati di desa.

Dalam pengertian tempo dulu, gelaran  Lintobaro/penganten baru masih terus melekat pada seseorang;  sejak mulai upacara ‘Intat Linto”/mengantar mempelai  laki-laki ke rumah Darabaro sampai  dua tahun setelah itu(mempunyai anak pertama).

“Ilahi katammat kalam beuet  Quru’an ka  samporeuna, le that pahla ta beuet Quru’an, Tuhan bri kandran  blang padang masya. Sajan kandran na saboh payong, uroe tutong hana sapat bla!”

 (Ya Tuhanku, sekarang kami selesailah  kalam, karena kami telah khatamkan Al Qur’an . Banyak pahala bagi yang membaca Al Qur’an; Tuhan berikan kendaraan di Padang Mahsyar-- bila hari kiamat tiba. Pada kenderaan ada satu payung, panas terik tak ada yang terlindung).

Itulah sekedar kutipan dari  salah satu lagu. Syair Grop Tamaddaroih banyak macamnya;  baik yang berbahasa Arab maupun bahasa Aceh, yang dinyanyikan sambil meloncat dan lari-lari kecil.

Bunyi hentakan kaki(tindrom-tindrom gaki) dan gema syair lagu-lagu, cukup menggelegar keseluruh kampung, bahkan tembus ke kampung-kampung  lain. Apalagi sebagian  peserta memang sengaja mencari-cari bagian lantai papan  Meunasah yang pecah(aleue  beukah),maka  dapatlah dibayangkan;  bagaimana besar gemuruhnya jika papan pecah yang ditendang/diinjak-injak  dengan sekuat tenaga. 

Irama loncatan dan bunyi hentakan kaki terdengar serasi, tidak sumbang; karena permainan itu memang punya tata cara tersendiri yang sudah dijiwai para peserta. Getaran lantai tidak hanya menimbulkan irama yang indah, tetapi juga sekaligus berfungsi sebagai pemberi pengumuman kepada penduduk desa-desa  lain, bahwa  kampung  mereka sedang mengadakan khanduri Tamaddaroih buat  kesekian kalinya. Dan hal ini merupakan suatu kebanggaan istimewa pada masa itu.

Peugrob Lintobaro
Satu adegan lainnya yang kadang-kadang pernah dilakukan pada  Grop tamaddaroih tempo dulu, adalah Peugrob Lintobaro (meloncat-loncatkan pengaten baru). Perbuatan yang dianggap kurang pantas ini, tidaklah dilakukan  terhadap  semua Lintobaro, tetapi hanya ditujukan kepada penganten baru yang congkak, sombong, terutama yang malas datang ke Meulasah selama bulan Puasa atau sebelumnya.

Linto baro dirangkul sambil diangkat-angkat beramai-ramai sampai lemas. Ketika itu mereka menyanyikan:”Hob  ala ya hob, linto baro han jitem grop.Hai aneuk ka kalon dilee, munoe lagee kamoe grop-grop!” (Hob ala ya hob, penganten baru nggak mau loncat. Wahai anak  lihat dulu, begini laku kami loncat!). 

Inilah salah satu hukuman masyarakat pada masa dulu, terhadap orang yang menyombongkan diri dalam pergaulan  di desanya. Hukuman lainnya yang diberikan masyarakat/terutama oleh para pemuda kampung terhadap Lintobaro yang jarang ke Meunasah antara lain: memboikot acara buka puasa bersama  - tradisi Buka Puasa Lintobaro -   yang dilaksanakan Lintobaro di Meunasah, dipasangkan  duri bambu(duroe trieng/keureungkeum) pada tangga rumah Lintobaro, ditanamnya  batang pisang(dipula bak pisang) di sawah milik Lintobaro dan lain-lain.

Karena tidak bisa mengaji Al Qur’an termasuk salah satu alasan seorang Linto baro malu/malas pergi ke Meunasah  dimalam bulan puasa, maka para orang tua sangat hati-hati demi menjaga martabat diri dan anaknya dalam “satu” hal ini. Sejak kecil, anak-anak sudah diantar mengaji ke Meunasah. 

“Mengajilah rajin-rajin, biar nanti waktu kamu kawin tidak memalukan kami”, pesan sang orang tua kepada anaknya, ketika menyerahkan dia kepada guru ngaji(Teungku seumeubeuet)  Hal itu terjadi zaman dulu, bagaimana  dengan keadaan sekarang?. 

Masyarakat Aceh masih tetap mengadakan tradisi khanduri tamaddaroih, walaupun dengan variasi yang berbeda. Tetapi tradisi  “Grop Tamaddaroih”   di bulan Ramadhan sudah punah ditelan zaman. 

Sementara itu,   kesungguhan orang tua mendidik anaknya  pun dalam  hal  agama sudah kian memudar!. Siapakah yang harus bertanggung-jawab mengatasi kemerosotan ini?. Tentulah masyarakat Aceh sendiri dan Pemda Aceh  yang memikul  amanah Negeri Syariat!!!.
SHARE :
 
Top