Loading...

Oleh: Nursalmi, S.Ag
Penulis Buku Madrasah Ramadan

Umat menghadapi berbagai problema dalam kehidupan saat ini, khususnya di bidang ekonomi. Begitu banyak rakyat hidup di bawah garis kemiskinan. Jangankan untuk memiliki rumah layak huni, untuk biaya makan sehari-hari saja tidak punya, di tambah lagi dengan biaya kesehatan yang begitu mahal.

Di sisi lain, banyak juga orang yang memiliki kekayaan. Mereka punya perusahaan. Untuk itu, Islam mengatur kehidupan umat manusia, untuk saling berbagi. Mengharamkan riba dan menyuburkan sedekah, agar bisa mengurangi beban hidup orang miskin. Allah memberikan pahala berlipat ganda bagi orang yang ikhlas bersedekah, bahkan sampai tujuh ratus kali lipat. 

Anjuran bersedekah tidak hanya bagi para aghniya. Namun setiap orang dianjurkan. Allah tidak membedakan pahala sedekah orang kaya dan orang miskin. Pahala disesuaikan dengan kadar sedekah dan tingkat keikhlasannya. Oleh karena itu, jangan menunggu kaya baru bersedekah. Rasulullah saw sampai tidak ada lagi sesuatu yang bisa disedekahkan, namun tetap bersedekah. 

Umar bin Khattab r.a mengisahkan: “Suatu hari seorang laki-laki datang menemui Rasulullah saw untuk meminta-minta, lalu Rasulullah saw memberinya. Keesokan harinya, laki-laki itu datang kembali meminta-minta, lalu Rasulullah saw memberinya. Keesokan harinya, ia datang kembali dan meminta, Rasulullah kembali memberinya. Keesokan harinya, ia datang dan kembali meminta-minta. 

Rasulullah saw lalu bersabda, "Saya tidak mempunyai apa-apa saat ini. Akan tetapi, ambillah apa yang engkau mau, dan jadikanlah itu utang bagiku. Jika suatu saat saya mempunyai sesuatu, saya akan membayarnya”.  Umar r.a lalu berkata kepada Rasulullah saw, "Wahai Rasulullah, janganlah engkau memberikan sesuatu yang berada di luar batas kemampuanmu." Rasulullah saw tersenyum, lalu beliau bersabda kepada Umar, “Karena itulah saya diperintahkan oleh Allah."

Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata bahwa ada seseorang yang menemui Nabi saw, lalu ia berkata:

“Wahai Rasulullah, sedekah yang mana yang lebih besar pahalanya? Beliau menjawab: engkau bersedekah pada saat kamu masih sehat, saat kamu takut menjadi fakir, dan saat kamu berangan-angan menjadi kaya. Dan janganlah engkau menunda-nunda sedekah itu, hingga apabila nyawamu telah sampai di tenggorokan, kamu baru berkata, “Untuk si fulan sekian dan untuk fulan sekian, dan harta itu sudah menjadi hak si fulan."  (HR Bukhari dan Muslim) 

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, hadits di atas mendorong supaya setiap orang berjuang melawan hawa nafsunya untuk mengeluarkan harta, padahal ada sifat pelit dan tamak yang menghalanginya. Ini yang menunjukkan bahwa sedekahnya benar-benar jujur dan kuatnya semangat orang yang melakukannya.

Rasulullah saw bersabda, “Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau menyedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan barakah rizeki tersebut. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu”. ( HR Bukhari dan Muslim) 

Ibnul Munir mengatakan, hadits di atas menunjukkan larangan menunda-nunda berinfak dan supaya menjauhi panjang angan-angan. Juga di dalamnya diajarkan supaya segera sedekah, jangan suka menunda-nunda.

Allah Swt memerintahkan kita segera bersedekah, jangan menunggu ajal tiba. Sebagaimana firman-Nya, “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian”. (QS Al Munafiqun: 10)

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, orang pelit itu ketika dalam keadaan sehat. Jika ia berbaik hati bersedekah dalam keadaan sehat seperti itu, maka terbuktilah akan benarnya niatnya dan besarnya pahala yang diperoleh. Hal ini berbeda dengan orang yang bersedekah saat menjelang akhir hayat atau sudah tidak ada harapan lagi untuk hidup, maka sedekah ketika itu masih terasa kurang, berbeda halnya ketika sehat.  (Syarah Shahih Muslim)

Nasihat Ibnu Athaillah As-Sakandari mengatakan,  “Menunda amal shalih karena menantikan kesempatan yang lebih baik, merupakan tanda kebodohan yang mempengaruhi jiwa”.

Rasulullah sawsangat khawatir jika masih ada hartanya yang belum beliau sedekahkan. Seperti diceritakan dari Sayyidah Ummu Salamah, istri Rasulullah saw berikut ini: "Suatu hari Rasulullah saw  masuk ke dalam rumahku dalam keadaan muka pucat. Saya khawatir jangan-jangan beliau lagi sakit. Lalu saya bertanya:  Ya Rasulullah, mengapa wajahmu begitu pucat? Apakah Engkau sakit? Rasulullah saw menjawab, “Saya pucat begini bukan karena sakit, tetapi karena saya ingat uang tujuh dinar yang kita dapatkan kemarin. Sore ini uang itu masih ada di bawah kasur dan kita belum menginfakkannya."

Subhanallah, Rasulullah sampai pucat pasi, bukan karena sakit dan bukan karena belum makan, bukan karena rentenir datang menagih hutang. Tetapi hanya karena uang tujuh dinar yang belum sempat diinfakkan. Beliau begitu khawatir, jikalau uang itu tidak sempat disedekahkan, bagaimana nanti mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah. 

Berbeda dengan kita, pucat pasi karena uang tidak pernah cukup. Tetapi harus menutupi utang riba yang terus berbunga-bunga demi mengejar kehidupan duniawi. 

Mengingat Rasulullah saw lebih dermawan lagi ketika bulan Ramadhan, maka mari kita juga gemar bersedekah, apalagi di bulan Ramadhan. Membantu orang berpuasa, memberikan makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, walau hanya sebutir kurma lebih mendekatkan diri kepada Allah. Pahalanya sama dengan pahala orang yang berpuasa. Mereka mendoakan kita niscaya diijabah oleh Allah Swt. Pahala sedekah di bulan Ramadhan dilipatgandakan. Puasa dan sedekah juga merupakan jalan menuju taqwa untuk meraih surga Allah dan menjauhkan kita dari api neraka.
SHARE :
 
Top