Loading...

Oleh Sri Suyanta Harsa 

Muslim.or.id
Muhasabah 6 Dzulqaidah 1441
Saudaraku, lazimnya sebuah keluarga (inti) terdiri dari seorang suami, istri dan anak meniscayakan kebersamaan dalam mewujudkan cita cinta terhadap agamanya dan kesejahteraan bersama. Di sinilah meniscayakan adanya interaksi dan relasi yang satu dengan lainnya. Intensitas hubungan seorang suami kepada istrinya atau sebaliknya, seorang ibu atau ayah kepada anaknya sangat menentukan bagi terciptanya keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah.

Muhasabah ini, kita akan melihat bagaimana hubungan orangtua terhadap anaknya seperti yang dilukiskan dalam dalam al-Qur'an, pada pragmen kehidupan Luqman. Allah berfirman yang artinya, Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (QS. Luqman 12-19)

Dengan mendasarkan pada normativitas di atas, maka dapat diambil ibrah edukatif Luqmanul Hakim atas anaknya adalah sebagai berikut:  Pertama, pendidikan akidah, yaitu larangan mensyarikatkan Allah (31:13). Kedua,  pendidikan akhlak yaitu berbuat baik kepada orangtua (31:14). Ketiga pendidikan ihsan yakni menyadari bahwa manusia berada dalam pengawasan Allah (31:16). Keempat, pendidikan ibadah yakni menegakkan shalat (31:17). Kelima, pendidikan akhlak yakni berbuat kebaikan, menjauhi kemungkaran, bersikap sabar (31:17), tidak sombong (31:18) dan selalu berlaku sederhana (31:19).

Disamping itu, bila kita cermati  normativitas di atas, peran edukatif ibu (istri Luqman) atas anaknya adalah pada saat seorang ibu mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, melahirkan dengan bertaruh nyawa dan menyusuinya selama dua tahun dalam dekapan kasih sayang yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Hal ini relatif cukup untuk menggambarkan intensitas kedekatan antara seorang ibu dengan anaknya.

Nah, peran edukatif ayah (yaitu Luqman) atas anaknya tersurat sangat jelas dalam beberapa ayat dengan pendekatan yang sangat persuasif penuh kasih sayang tercermin dalam menyapa anandanya dengan ya bunayya, wahai ananda buah hatiku. 

Meskipun tidak dinyatakan harus memilah memilih memprioritaskan satu atas lainnya, namun pendidikan akidah tetap merupakan pondasi, sehingga  Luqman wewanti-wanti sejak mula sekali, baru pendidikan ibadah, dan pendidikan akhlak. Allahu a'lam.

Editor: smh
SHARE :
 
Top