Loading...

Oleh Dr. Marah Halim, S.Ag., M.Ag., MH

sumber foto: radar surabaya.com
Mengapa Covid-19 saat ini meresahkan semua orang dan semua bangsa? Tentu karena kita tidak mau kehilangan aspek paling berharga dari manusia dan kemanusiaan, yaitu hidup dan kehidupan. Mati memang pasti, tapi hidup harus dihargai. Menurut kajian maqashid syari’ah, nyawa (jiwa) mutlak harus dilindungi dari kematian yang sia-sia. Wabah pandemik ini bukan hanya mengancam individu-individu, tetapi bisa menelan satu komunitas bahkan satusuku bangsa. Di, Brazil, kuat kekhwatiran Covid-19 ini berpotensi memusnahkan suku bangsa asli Brazil (indigenous), suku Indian di Amazon. 

Sejarah mencatat, kematian dan kepunahan suatu masyarakat diakibatkan oleh tiga hal utama: perang (konflik), wabah (bencana), dan kelaparan (paceklik). Sejak tahun 541 s/d 2020 berbagai wabah pandemik telah mendera dunia dan merenggut jutaan jiwa manusia. Ada Justinian Plaque (541 M), The Black Death (1347), Kolera (1852), Flu Spanyol (1918), Flu Hongkong (1968) AIDS/HIV (1980), SARS (2002), Flu Babi (2009), Ebola (2013).Tentu adanya kita sekarang karena moyang endatu kita selamat dari berbagai wabah itu sehingga memungkinkan kita ada, tetapi keberadaan (eksistensi) kita saat ini belum tentu bisa berlanjut.

Saat ini tujuan kita semua sama, ingin survive dari wabah ini dan tetap eksis, namun dalam upaya itu, yang justru lebih meresahkan dari wabah itu sendiri adalah sikap dan perilaku tidak ilmiahdarisementara orang yang hidup “sebumi dan selangit” dengan kita, sikap yang mengancam eksistensi seisi “rumah”, mereka lupa/tidak tau ayat “wattaqu fitnah la tushiban alladzina zhalamu minkum khashshah”. Sikap-sikap seperti meremehkan, menafikan, enggan mematuhi protokol yang disusun secara ilmiah, tidak jaga jarak, tetap melakukan kontak fisik, tidak pakai masker, tidak disiplin cuci tangan yang bersih, sering ngumpul, adalah sekian dari sikap tidak ilmiah yang pelakunya banyak juga insan-insan yang kononnya ilmiah. 

Bukan hanya masyarakat secara individu atau kelompok yang bersikap tidak ilmiah, sikap dan perilaku yang sama ini justru juga ditunjukkan oleh lembaga pemerintah dan aparaturnya, padahal mereka yang menyusun protokol Covid. Pemberlakuan lockdown yang tidak terencana secara matang, penyaluran bantuan yang tidak tepat sasaran, penstatusan zonasi  yang kontroversial, pelaksanaan tes cepat yang acak-acakan, buruknya koordinasi anatar pusat dan daerah, regulasi yang tumpang tindih, konflik antara pimpinan daerah, dan masih banyak lagi adalah cermin tidak ilmiah alias masih alamiahnya sikap menghadapi wabah super-berbahaya ini. Perilaku yang sama dilakukan oleh India, yang me-lockdown warganya dan membiarkan kelaparan dan kesulitan transportasi.

Jadi, menghadapi bencana yang ilmiah seperti Covid-19 ini membutuhkan satu sikap, sama dan bersama; baik sebagai masyarakat maupun mewakili pemerintah; menerapkan dan mengikuti kaidah-kaidah ilmiah. Di awal pandemi mungkin setiap kekeliruan masih bisa ditolelir, tetapi setelah sekian lama beradaptasi, sikap dan perilaku tidak ilmiah menghadapi wabah ini tidak bisa lagi ditoleransi, karena taruhannya adalah nyawa. Pilihan antara sekolah seperti biasa atau sekolahdaring, kerja di kantor atau daring, shalat jum’at atau tidak mestinya bukan karena emosi, harus  melalui kajian ilmiah yang matang dan nihil kesalahan, karena ini bukan trial and error. Kaidah kesehatan menyatakan, satu kasus kematian saja sudah cukup untuk menjadi dasar penetapan status Kejadian Luar Biasa (KLB), sejalan dengan prinsip al-Qur’an; satu nyawa sama dengan nyawa seluruh umat manusia. 

Kita telah melihat bukti nyata ketika negara dan warga negara tidak satu sikap, bahkan maka negara yang kononnya maju-pun bisa jadi sangat primitif sikap dan prilakunya. Inggris, Jerman, Prancis, Spanyol, Italia, adalah diantara negara yang sangat ilmiah dalam berbagai aspek kehidupan; tetapi menghadapi wabah ini ternyata banyak juga yang tidak ilmiah. Bahkan negara maju seperti Amerika Serikat adalah yang terbanyak jumlah kasus dan kematian, semata karena sikap tidak ilmiah, bahkan oleh Presiden-nya sendiri. Brazil lebih primitif lagi, Presiden-nya yang ikut unjuk rasa menentang lockdown; sangat ganjil, aneh, dan memiriskan. 

Poin kita jelas, (jika) kita ingin survive, wabah pandemik ini harus dihadapi dengan sikap dan perilaku bersama yang ilmiah, tetapi bagaimana caranya? Setidaknya ada tiga sikap yang perlu ditumbuhkan. 

Pertama, mengakui bahwa wabah ini ilmiah, bukan alamiah. Bukti keilmiahan wabah ini bisa belajar dari pengalaman Swedia di awal wabah yang menerapkan metode alamiah, herd immunity(kekebalan kawanan), ternyata yang terjadi adalah ledakan kematian yang jika dibiarkan pasti meminta korban yang lebih banyak dari negara Eropa lainnya. Karena itu, satu yang jelas bahwa keberadaan virus ini nyata, dan setiap yang nyata pasti bisa dijelaskan secara ilmiah. Keberadaannya mengancam eksistensi manusia, baik secara individu, masyarakat, komunitas, bahkan sebuah negara, karena itu melawannya atau untuk selamat darinya, baik secara aktif atau pasif, juga harus dengan pendekatan ilmiah. Ini sama dengan perang nyata, bagi yang memiliki kekuatan dan kemampuan harus terjun langsung melawan virus ini di garis depan, seperti tenaga-tenaga kesehatan, ahli pandemi, ahli virus, dan sebagainya, sedang yang tidak memiliki ilmu dan pengetahuan yang cukup sangat diharapkan untuk patuh dan taat pada protokol kesehatan, karena itu juga bentuk perlawanan, perlawanan pasif. 

Kedua, tidak larut dalam debat apakah ini hasil konspirasi atau tidak; kalaupun ini hasil konspirasi maka suatu konspirasi yang sangat ilmiah, karena itu untuk selamat mutlak harus dengan cara-cara yang ilmiah. Isu konspirasi (makar) adalah sisi lain yang membedakanCovid-19 ini dengan pandemi-pandemi sebelumnya. Disinyalir ada yang coba “bermain api” memanfaatkan virus untuk kepentingan bisnis atau bahkan untuk membentuk tatanan dunia baru (new order). Isu konspirasi ini dikaitkan pula dengan perang dagang (baca: perang ilmu) antara dua kekuatan ekonomi global, Amerika dan China. Akan tetapi, untuk konteks saat ini tidak terlalu berguna menelusur motif dan sumber awal dari wabah ini, sebab kalaupun itu konspirasi maka sangat layak disebut sebagai konspirasi yang ilmiah, karena itu tidak mungkin dihadapi dengan cara-cara yang alamiah. Pilihan pada pendekatan alamiah hanya akan mengundang kebinasaan. Sebagai muslim kita diperintahkan untuk melawan dengan segenap kekuatan dan kekuasaan yang ada, “wa a’iddu lahum mastath’tum min quwwah”. “Wa makaru wa makarallah, wallahu khayrul makirin”. Wallahu khayrul makirin bukan menunggu Allah turun tangan melawan konspirasi itu, tetapi harus dengan ilmu dan politik (persatuan). 

Bersikap ilmiah artinya mengikuti kaidah-kaidah ilmiah dalam menghadapi Covid-19. Bagi yang tidak bisa melawan virus ini dengan perlawanan aktif, maka bersatulah melawan secara pasiif, meski ini adalah “selemah-lemah iman”. Terbukti, negara-negara dengan jumlah korban yang sedikit adalah negara yang otoriter seperti China, Korea Utara, dan Singapura, tetapi juga negara demokratis dengan kesadaran yang tinggi seperti Selandia Baru, Jepang.Yang mengkhawatirkan justru negara-negara yang tidak jelas warna ideologinya, baina-baina antara demokratis dan otoriter. 

Ketiga, menyetel mindset, alambawah sadar kita tentang taqdir, bahwa ketetapan Allah (qadha) harus dipahami sebagai sesuatu yang bisa diukur dan terjangkau secara ilmiah (qadar). Kematian adalah alamiah, tetapi upaya mencegah kematian adalah ilmiah. Upaya mencegah kematian bisa dilakukan dengan “merekayasa” ketetapan-ketetapan Allah dengan pendekatan ilmiah, membuat vaksin adalah merekayasa yang alamiah secara ilmiah. Membiarkan virus yang alamiah menjadi penyebab kematian bukanlah bentuk taat kepada ketetapan Allah; bisa jadi itu adalah bentuk keputusasaan yang derajatnya sama dengan kekufuran. Karena itu, teologi kita tidak boleh teologi yang alamiah, tetapi haruslah teologi yang ilmiah. Karena itu, untuk penyadaran marilah kita lawan ini dengan ilmu dan politik yang kuat agar eksistensi  (hidup) kita bisa bertahan. Konsep taqdir kita harus diubah dengan taqdir yang artinya semua bisa dipelajari, semua bisa dihitung, bisa diprediksi, tapi dengan ilmu, bukan teologi yang jabariyah, pasrah. 

Sebagai simpulan, keselamatan kita dari cengkeraman Covid-19 ini ditentukan oleh seberapa ilmiah sikap masyarakat dan pemerintah. Sikap-sikap yang tidak ilmiah dan mengedepankan emosi, ego, dan interest hanya akan mendatangkan kemudharatan bersama. Sebagai muslim kita haruslah menjadi pelopor bersikap dan berperilaku ilmiah. Kitab suci yang kita pegang sangatlah menganjurkan kita untuk itu. Ayat pertama turun memerintahkan kita untuk mencari ilmu (iqra’). Jika kita tidak tau maka kita harus tanya ahlinya ((fas’aluu ahladzdzikri in kuntum la ta’lamun)).

Perlawanan secara ilmiah dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan aktif yang langsung secara frontal dan berada di garis depan melawan wabah, dengan cara berupaya menemukan anti-virus (vaksin), menemukan obat mujarab (panacea)-nya, atau menciptakan alat-alat pendukung lainnya secara mandiri seperi alat tes, APD, alat bantu pernapasan, data yang akurat, dan sebagainya. Ada banyak korporasi dan negara yang tampil di garis itu, apakah sudah termasuk Indonesia, korporasi dan perguruan tingginya? Bagi individu, masyarakat dan negara yang tidak mampu, maka harus melawannya secara pasif dengan kekuatan persatuan,  kemauan dan kesabaran mentaati kaidah-kaidah bertahan secara pasif untuk bisa melawati masa-masa sulit ini dengan survive. Indonesia, khususnya Aceh, sepertinya masuk kategori tidak mampu, karena perguruan tingginya hanya baru bisa menciptakan anti septik, belum mampu menciptakan vaksin atau obat-obatan, karena itu harus mau; mau mengikuti protokol dan informasi yang menuntun kita untuk bersikap dan berperilaku ilmiah, bukan perilaku gegabah, pasrah dan serba alamiahdengan dalih bahwa ini adalah ketetapan Tuhan.

Penulis merupakan Widyaiswara BPSDM Aceh, anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PW Muhammadiyah Aceh. 
SHARE :
 
Top