Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional Ke-28 di Sumbar resmi ditutup Wakil Presiden (Wapres) RI Maaruf Amin, Jumat (20/11) malam. Provinsi Sumbar  keluar sebagai juara umum MTQ Nasional ke-28. 

Setelah pengumuman MTQ ke 28 tersebut, muncul polemik di tengah masyarakat Aceh terkait perolehan juara pada pergelaran MTQ tersebut, yang mana Aceh menempati posisi yang sangat memperihatinkan. Tercatat sebelumnya pada MTQ tahun 2012 Aceh mendapatkan rangking 13, tahun 2014 rangking 9, tahun 2016 rangking 8, tahun 2018 rangking 7, sedangkan pada tahun 2020 hanya memperoleh satu juara saja, yaitu juara III cabang Khattil Qur'an.

Pemuda Aceh Besar, Muhammad Rizki buka suara terkait polemik tersebut, jika para tim serta para peserta sudah berusaha keras dan maksimal dalam memberikan tampilan terbaiknya. Namun dalam perlombaan pasti ada yang kalah dan ada yang menang.

“Kita hargai perjuangan teman-teman kita pada MTQ sumatra barat, evaluasi wajib dilakukan untuk perbaikan kedepannya, yang jangan di caci dan di maki. Mereka bersedih dengan perolehan tersebut, jangan menambah lagi beban moral terhadap mereka dengan caci dan makian”.

Perolehan hasil tersebut bukan keinginan mereka dan tentunya bukan keinginan kita rakyat Aceh. Kita hargai perjuangan teman-teman kita yang sudah berusaha keras tampil maksimal mencoba mengharumkan nama Aceh. Tentu hasil tersbut punya alasan mendasar yang seharusnya kita sebagai masyarat pintar  untuk tabayyun lebih lanjut, apalagi di tengah Covid seperti ini mungkin saja terkendala dalam persiapan dan sebagainya. 

“Jika mereka menang, disanjung dan ketika kalah mereka di hina, dicaki dan di maki, ini suatu etika yang tidak baik” tegas Rizki 

“Semoga dari perolehan hasil tersebut menjadi bahan evaluasi bagi pengurus dan tentunya dari segala lini, agar tidak terulang lagi kedepannya”. tambah Rizki yang juga merupakan demisioner Ketua Senat Mahasiswa Pascasarjana UIN Ar-raniry Banda Aceh. (farial/rel)

SHARE :
 
Top