Oleh: Ahmad Faizuddin

Sebuah notifikasi pesan dari satu grup WhatsApp keluarga memberitakan tentang meninggalnya seorang Imam Meunasah sekitar jam 4.00 sore. Meunasah adalah rumah ibadah yang lebih kecil dari Masjid sebagai entitas khas masyarakat Aceh. Selang sehari sesudahnya, berita senada menginformasikan tentang meninggalnya seorang anggota keluarga. Keduanya memang sudah lanjut usia. Namun ajal bukanlah sekedar perkara muda atau tua.

Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’un. Sungguh, kita ini milik Allah SWT dan suatu saat kita akan kembali kepada-Nya. Pada dasarnya, hidup di dunia ini adalah menunggu giliran dipanggil menghadap Sang Maha Pencipta. Sebaik-baiknya manusia adalah yang pandai memanfaatkan masa hidupnya untuk berbuat kebaikan. Sebuah peribahasa yang diajarkan di sekolah dasar dulu berbunyi:

Gajah mati meninggalkan gading

Harimau mati meninggalkan belang

Manusia mati meninggalkan nama

Peribahasa tersebut mengungkap hikmah bahwa hidup seseorang akan senantiasa dikenang walaupun dia sudah tidak ada lagi di dunia ini. Imam Meunasah dan ahli keluarga diatas meninggalkan saya khususnya beberapa memori yang akan selalu menjadi kenangan.

Bagi saya, sang Imam Meunasah adalah sosok pendidik tanpa pamrih. Beliau bukan saja seorang guru agama, tetapi juga seorang mentor dan rekan kerja. Interaksi pertama sekali saya dengan sang Imam ketika menjelang tamat sekolah dasar, sekitar umur 11 atau 12 tahun. Suara khas beliau mengimami shalat di Meunasah menarik perhatian saya. Beliau bukanlah seorang Qari dengan suara yang merdu. Namun beliau paham ilmu qira’at dan makharijul huruf (tempat keluarnya huruf-huruf Hijaiyah). Nada dan suara sang Imam yang tiba-tiba tinggi dan jatuh rendah di ujung lantunan ayat-ayat Al-Qur’an senantiasa menemani shalat-shalat fardhu saya. Allahu Akbar!

Sang Imam adalah sosok sederhana dan kharismatik tanpa banyak kata-kata. Tubuhnya termasuk kecil dibandingkan dengan orang desa lainnya. Kulitnya agak gelap dengan perawakan muka menunjukkan garis keras kehidupan. Setiap hari setelah berkebun serta menggembalakan lembu dan kambing, beliau hadir di Meunasah untuk mengajarkan anak-anak khususnya ilmu agama dan membaca Al-Qur’an. Suara riuh rendah anak-anak yang berlari kesana-kemari akan sunyi dan tertib ketika sang Imam memasuki Meunasah. Namun saya tidak pernah menjadi murid langsung beliau kecuali sebagai makmum shalat-shalat fardhu.

Secara tidak langsung, sang Imam adalah guru agama dan mentor bagi saya. Waktu itu saya belajar di tingkat sekolah menengah – Madrasah Tsanawiyah. Setiap ada persoalan tentang ilmu agama yang tidak saya dapatkan jawabannya di sekolah atau di rumah, maka saya akan bertanya kepada sang Imam. Beliau bukanlah seorang yang serba tahu hukum agama. Namun perhatian dan kesabaran beliau dalam melayani setiap pertanyaan yang saya ajukan membuat saya semakin hormat dengan sang Imam. Biasanya kami melakukan sesi diskusi singkat setelah shalat ‘Isya di saat anak-anak pengajian dan makmum lainnya sudah pulang.

Posisi saya sebagai makmum tidak berlangsung lama. Sang Imam melihat potensi yang ada dalam diri saya. Awalnya saya hanya berani mengumandangkan azan jika tidak ada orang lain yang datang lebih awal. Selanjutnya sang Imam memberikan ruang bagi saya untuk mengimami shalat. Meskipun saya sering menolak permintaan beliau untuk maju ke depan, sang Imam tidak pernah putus asa berusaha. Sekali waktu beliau beralasan hendak mengambil wudhu’ kembali sementara iqamat sudah selesai. Di lain waktu beliau sibuk mengatur shaf anak-anak atau memantau anak yang belum selesai wudhu’ sehingga mau tidak mau saya terpaksa maju menjadi imam shalat. Akhirnya saya dipercayakan mengajar Al-Qur’an untuk anak-anak di Meunasah tempat beliau asuh.

Sementara itu, interaksi saya dengan anggota keluarga yang baru meninggal dunia di atas sangat jarang. Beliau adalah nenek dari salah satu abang sepupu sebelah ibu. Ada perasaan teduh setiap kali melihat wajah beliau dengan senyum terkembang. Perasaan bahagia yang tak terhingga terlukis di wajahnya setiap kali cucu-cucunya berkunjung ke rumah. Namun beliau sering tertukar antara saya dan abang sepupu saya. Padahal wajah kami tidaklah terlalu mirip. Mungkin karena rasa kasih dan rindunya kepada cucunya. Senyum simpul dan tawa lepasnya setiap kali saya memberitahukan bahwa saya bukanlah cucunya yang dimaksudkan akan senantiasa membekas di memori saya.

Selesai sudah perjalanan sang Imam dan sang Nenek. Keduanya meninggalkan memori bagi generasi selanjutnya. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah keduanya dan mengumpulkan kita semua kelak di syurga-Nya bersama orang-orang yang shaleh. Kelak kita semua juga akan menyusul karena janji Allah itu pasti. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian (Q.S. Ali ‘Imran, 3: 185).

Kematian adalah sebuah kepastian yang akan tetap menjadi misteri. Tidak ada yang tahu kapan dan dimana kita akan kembali menghadap Sang Khaliq. Malaikat Maut senantiasa mengintai dan bisa kapan saja mencabut ruh dari raga kita meninggalkan dunia yang fana ini. Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nyalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada dalam Rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mendengar (Q.S. Luqman, 31: 34)

Oleh karena itu, mari kita persiapkan amal dengan sebaik-baiknya sehingga bukan hanya kita bisa meninggalkan memori yang baik di atas dunia ini, tapi juga betul-betul siap menghadap Allah SWT dan mempertanggungjawabkan perbuatan kita selama di dunia ini. Firman Allah SWT:

Katakanlah. Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, sungguh, kematian itu akan menemui kalian, lalu kalian akan dikembalikan kepada Allah yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Kemudian Dia beritakan pada kalian apa yang telah kalian kerjakan (Q.S. Al-Jumu'ah, 62: 8)

* Sedikit kenangan tentang Tgk. Jamaluddin (Tgk. Din) dan Ramlah Binti Fatimah (Nek Lampakuk).

Jitra, Kedah: February 6, 2021 

SHARE :

0 facebook:

Post a Comment

 
Top