Oleh Juariah Anzib,  S.Ag

Koordinator Kesiswaan MIN 11 Aceh Besar

Anak merupakan amanah dan generasi penerus bagi setiap umat manusia. Hidup merasa sia-sia tidak di karuniai keturunan sebagai  penerus keluarga. Semua insan mendambakan keturunan yang baik dan berkualitas, demi mencapai kebahagiaan dunia akhirat. Manusia akan melakukan apa pun untuk kebahagian  generasi sampai tujuh turunan. Berkeinginan kelak jika dirinya telah tiada, anak cucu yang ditinggalkan hidup berbahagia dan tidak lemah dari semua aspek kehidupan. 

Meninggalkan generasi yang berkualitas dan berkuantitas sebagai sumber daya manusia tentu tidak semudah yang dibayangkan. Memerlukan persiapan yang cukup untuk memodali mereka dengan berbagai kebutuhan hidup. Baik modal yang bersifat spiritual maupun jasmaniah.

Semua orang menginginkan meneruskan generasi yang baik, kaya, kuat, hebat dalam semua bidang. Kebanyakan merasa takut bila kelak meninggalkan generasi yang lemah hingga mengalami kesusahan dalam menjalani kehidupan dunia. 

Oleh karenanya, semua insan berusaha  memberikan modal untuk menjadikan generasi yang baik sebagaimana yang di harapkan. Menyediakan berbagai peluang untuk menciptakan generasi yang hebat dan berkualitas. Untuk mencapai keinginan tersebut, tentu saja membutuhkan usaha yang ekstra dan pengorbanan serta usaha yang sungguh-sungguh. Dengan harapan agar mereka kelak menjadi generasi yang tidak lemah. 

Bagi seorang muslim, kelemahan yang sangat dikhawatirkan adalah yang berkenaan dengan agama. Dalam Al Quran surat An- Nisa ayat 9 Allah Swt berfirman, "Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah dibelakang mereka, yang mereka khawatir terhadap  (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar."

Ada empat hal yang harus sangat diperhatikan dalam kelemahan generasi yang dimaksud, dua diantaranya adalah lemah dalam akidah dan ibadah. Agama harus sangat diperhatikan dalam pembinaan generasi penerus. Menghindari  kelemahan dalam akidah sebagaimana yang dicontohkan oleh Lukmanul Hakim saat mendidik anaknya yang berkenaan dengan akidah. Hal ini terdapat dalam Al-Qur'an surat Luqman ayat 13. Dan ingatlah ketika Lukman berkata kepada anaknya, "wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar."

Hal ini sangat berkaitan dengan penanaman akidah kepada generasi penerus sejak dini. Memperkenalkan Allah dan RasulNy kepada anak-anak merupakan kewajiban kepada kedua orang tua sebelum mereka mengenal yang lain. Anak yang sudah tertanam akidah sejak dari awal, tentu akan dapat mengenal Allah dan RasulNya dengan baik dalam segenap jiwanya. Untuk itu, selaku orang tua yang bertanggung jawab dengan amanah ini, wajib menanamkan akidah kepada anak-anaknya yang diawali dengan pendidikan rumah tangga bersumber dari sekolah ibu dan didukung oleh sang ayah. Sering melantunkan kalimat-kalimat thayibah sebagai modal utama. Bila akidah sudah mantap,  maka dengan mudah dapat melaksanakan ibadah.

Kedua, kelemahan bagian ibadah. Beribadah adalah mendekatkan diri kepada Allah sebagai perwujudan akidah dengan mengerjakan semua yang diperintahkan oleh Allah Swt. Yang merupakan hal utama sebagai pondasi ibadah adalah shalat lima waktu sehari semalam. Shalat merupakan ibadah pokok yang tidak dapat dianggap sepele. Menyepelekan shalat termasuk pendusta agama. Untuk menanamkan ibadah ini kepada anak, orang tua harus dapat menjadi motivator agar anak dapat meniru dan mengikutinya. Pendidikan yang mendasar sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak, apalagi yang berkenaan dengan ibadah. Sikap rajin beribadah yang dilihat dari kedua orang tua, akan terbawa mereka untuk mencintai agama dengan beribadah kepada Allah. Sebagai motivator terhadap anak, orang tua harus benar-benar menjaga diri supaya menjadi suatu kekuatan pegangan dan keteladanan bagi mereka.

Setelah adanya pendidikan dasar rumah tangga, maka hendaknya dilanjutkan dengan pendidikan luar, baik formal maupun non formal. Menempatkan mereka ke lembaga-lembaga pendidikan, khusunya pendidikan agama. Dengan tersedianya wahana pendidikan, menjadikan mereka lebih menguasai dan mendalami ilmu agama yang membuat ibadah mereka menjadi bermakna, karena ibadah tanpa ilmu sia-sia . Bila hal tersebut sudah didapatkan, maka besar kemungkinan mereka akan menjadi generasi yang baik, kuat, hebat,  dan berkualitas. Terhindar dari kekhawatiran akan meninggalkan generasi yang lemah di bidang agama. 

Hal yang tak kalah pentingnya juga masalah ekonomi. Ini merupakan sarana untuk beribadah kepadaNya. Bila hidup dengan memiliki harta,  akan memberi kenyamanan dalam beribadah, terciptanya ketentraman hidup hingga tidak menjadi beban bagi orang lain. Bila hidup tanpa harta sudah barang tentu akan mengalami kesusahan dan penderitaan yang membuat tidak nyaman. Di samping kenyamanan dalam beribadah, harta juga dapat menciptakan peluang untuk beramal shalih, seperti bersedekah, berinfak, mengeluarkan zakat, bahkan dapat berwakaf. Harta dapat membawa kita ke surga dengan beramal shalih dan menafkahkan harta di jalan Allah. 

Semoga kita dapat meninggalkan generasi-generasi berbobot sepeninggal nanti. Generasi yang dapat memberi kebaikan kepada kita dunia dan akhirat.

SHARE :
 
Top